Politik Merawat Bayi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 6 Februari 2016 . in Dosen . 1111 views

Sebenarnya politik itu ya politik, dan merawat bayi ya merawat bayi. Keduanya berbeda jauh. Politik adalah kegiatan untuk mengurus kehidupan orang banyak. Sementara itu, merawat bayi hanyalah kegiatan mengurus anak manusia yang masih belum umur dan tidak memiliki kekuatan apa-apa. Oleh karena itu antara keduanya sangat berbeda, sehingga tidak bisa diperpadukan atau dibandingkan.

Mengurus orang banyak, apalagi orang dewasa yang cerdas, berilmu, dan banyak pengalaman, pasti tidak mudah. Orang pintar dan berpengalaman mau diajak ke mana saja asalkan tahu maksudnya, mengerti manfaat yang akan diperoleh, atau yakin akan mendapatkan keuntungan Mengetahui sifat dasar manusia itu, maka seorang tokoh sekalipun kadang diperlakukan seperti bayi.

Mengurus bayi di mana-mana tidak sulit, asalkan tahu caranya. Ketika sedang menangis hanya diberi dot atau disuapi, akan berhenti. Namun juga aneh, orang yang sudah menjadi tokoh sekalipun juga ada yang berperilaku seperti bayi. Sekedar disenangkan dengan cara sederhana saja, sikapnya sudah berubah. Tidak mahal, misalnya hanya diberi uang, kedudukan, diajak ngelencer ke luar negeri, atau sejenisnya, mereka sudah lupa pada prinsip hidupnya lagi. Sebagaimana bayi ketika disuapi tidak ribut. Ternyata tokoh pun tidak jauh beda dari bayi.

Padahal, sebagai tokoh dan apalagi pemuka agama, seharusnya memiliki pendirian yang kokoh. Apapun demi untuk menegakkan kebenaran, kejujuran, keadilan dan prinsip hidup yang seharusnya ditegakkan, maka harus bersikap tegas dan kokoh. Imam seorang pemimpin atau orang yang ditokohkan harus kuat. Seseorang yang teguh imannya memiliki integritas yang tinggi, selalu berpegang pada prinsip, jujur, dan mencintai kebenaran, sehingga dengan cara apapun, tidak akan mau mengubah pendiriannya.

Sayangnya di negeri ini, banyak di antara pemimpin, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan bahkan di kampus-kampus berperilaku tidak jauh berbeda dari bayi. Asalkan sudah disuapi atau diberi sesuatu, maka mereka mau meninggalkan prinsip hidupnya, keyakinan, dan bahkan sumpahnya sendiri. Gejala seperti itulah sebenarnya yang menjadikan bangsa ini tertinggal, terpuruk dan sulit mengalami kemajuan. Istilah suap menyuap, sogok menyogok, kong kalikong, sehari-hari akhirnya terdengar dari arah mana saja.

Rupanya bukan saja bayi yang berhenti cerewet ketika disuapi, tetapi juga orang dewasa, pejabat atau juga bahkan ilmuwan sekalipun. Hanya saja suap yang dimaksudkan antara keduanya berbeda, tetapi substansinya sebenarnya sama. Menyuapi bayi dengan makanan bayi, sementara itu menyuapi orang dewasa dengan uang atau benda berharga lainnya. Sebenarnya, suap menyuap itu terjadi karena iman yang bersangkutan tidak kokoh. Hanya diberi uang saja mereka mau mengubah prinsip hidup dan atau pendiriannya.

Menyuapi bayi adalah lazim dan memang harus dilakukan, tetapi menyuap orang yang memiliki kewenangan atau kekuasaan, adalah sangat berbahaya. Dengan diberi uang, barang atau disuapi, maka perilaku mereka berubah, yaitu menjadi tidak obyektif, tidak rasional, melanggar hukum atau peraturan. Kewenangannya diberikan begitu saja dengan harga murah, persis seperti bayi. Disuapi saja sudah tidak ribut atau berhenti menangis.

Melihat kejadian suap menyuap itu, sebenarnya siapa yang paling bersalah, apakah mereka yang menyap atau yang disuapi. Tentu kedua-duanya bersalah. Dalam Islam, ar rosyi wal murtasyi fin naar, mereka yang menyuap dan yang disuap berada di neraka. Dalam kehidupan ini, antara bayi dan orang tua, hingga mereka yang disebut tokoh sekalipun, ternyata perilakunya tidak jauh beda. Setelah disuapi, bayi menjadi diam, dan demikian pula sementara pemimpin atau orang yang sudah ditokohkan. Akhirnya, politik perawatan bayi menjadi pilihan dan diimplementasikan oleh banyak orang di mana-mana. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up