Pada umumnya orang mengira bahwa kemiskinan dan penderitaan itu sebatas menyangkut harta kekayaan. Orang yang tidak memiliki harta disebut sebagai orang miskin dan kemudian hidupnya dianggap menjadi menderita. Padahal penderitaan tidak saja dirasakan oleh orang miskin tetapi juga oleh siapa saja, termasuk orang yang memiliki kekayaan melimpah. Banyak orang mengira bahwa orang kaya selalu bergembira dan bahagia, padahal bisa jadi justru sebaliknya, yaitu dengan kekayaannya, yang bersangkutan hatinya sehari-hari menjadi gelisah dan menderita disebabkan oleh kekayaannya tu.
Penderitaan itu letaknya di batin, atau di dalam hati setiap orang. Oleh karena tidak kelihatan, yakni letaknya di dalam hati, maka tidak semua orang tahu bahwa seseorang sedang menderita. Orang biasanya hanya mampu melihat aspek lahir atau yang tampak, sehingga hanya mengira-ira saja. Dikiranya, oleh karena tampak memiliki banyak harta, atau banyak uang, maka selalu bergembira. Anggapan itu ternyata tidak selalu benar.
Ada kalanya orang kaya, dan bahkan pejabat tinggi sekalipun juga merasakan kegalauan dan sedih. Hatinya menderita oleh karena tekanan pekerjaan yang sedemikkian berat, yakni apa yang dilakukan dirasakan tidak bisa memuaskan banyak orang, banyak kritik, cemoohan, dan lain-lain. Orang yang mengalami keadaan seperti itu akan lebih menderita oleh karena perasaannya itu tidak diketahui oleh orang lain. Keadaan itu persis orang yang sedang sakit gigi. Rasa sakitnya bukan main, tetapi orang lain tidak mengetahuinya.
Sebaliknya adalah orang miskin harta. Mereka tidak memiliki apa-apa yang dianggap berharga. Rumah seadanya, uang kadang ada dan kadang tidak ada. Sehari-hari hanya mencukupkan apa yang ada. Pakaian tidak berganti-ganti oleh karena tidak memiliki baju untuk berganti. Namun anehnya, kekurangannya itu tidak dianggap sebagai beban. Mereka masih bisa tertawa dan tidur nyenyak. Bersenda gurau dengan temannya sesama miskin harta menjadi hal biasa. Keadaannya itu tidak dirasakan sebagai sesuatu yang menjadikan dirinya menderita. Miskin harta tetapi tidak sekaligus miskin jiwa atau hati.
Keadaan miskin harta tersebut tidak perlu dijadikan cita-cita, tetapi harus berusaha dihindari. Sebaliknya, orang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan bahkan jika mungkin bisa membantu orang lain. Akan tetapi, sebagaimana disinggung di muka, jangan mengira bahwa dengan harta itu seseorang pasti mendapatkan kebahagiaan. Di tengah harta yang melimpah dan atau jabatan yang tinggi itu sebenarnya masih sangat mungkin, seseorang mengalami kegalauan dan penderitaan batin. Oleh karena itu, banyak kita saksikan orang sakit stoke, darah tinggi, jantung, dan sejenisnya justru diderita oleh orang kaya.
Orang miskin harta memang tampak menderita, tetapi sebenarnya yang justru lebih berbahaya lagi adalah orang yang sedang mengalami miskin batin dan atau miskin hati. Mereka itu tidak akan merasakan nikmat dalam menjalani kehidupan. Apa saja yang ada di hadapannya dianggap sebagai sesuatu yang berat, membebani, dan mengancam. Mereka tidak mampu memaknai hidupnya, serhingga tidak tahu harus berbuat apa terhadap dirinya sendiri dan apalagi terhadap orang lain. Orang seperti ini, tidak akan memberi manfaat bagi orang lain, dan bahkan sebaliknya, akan mengganggu.
Mendasarkan pada keadaan tersebut, maka ada ulama yang memaknai kata miskin dan yatim dalam Surat al Ma'un, bukan terkait harta melainkan justru pada hati. Kemiskinan harta dan keadaan yatim tidak lebih besar bahayanya dibanding orang yang mengalami miskin petunjuk dari Allah, miskin pendidikan hati, dan miskin hati atau jiwa. Orang yang miskin harta dan juga yatim tidak terlalu membahayakan bagi hidupnya dan juga bagi orang lain. Sebaliknya bagi orang yang menderita miskin hati, petunjuk, dan jiwa, maka tidak saja membahayakan terhadap dirinya dan oranbg lain di dunia tetapi juga akan celaka di akherat kelak. Bahkan orang yang shalat sekalipun, tetapi lalai akan shalatnya, yaitu belum mampu menjaga hatinya, mereka akan dimasukkan ke neraka. Sebaliknya, terhadap orang miskin harta kekayaan dan bahkan juga yatim tidak ada ancaman, apalagi seberat itu. Wallahu a'lam



