Mengaji Bersama Di Kuala Lumpur
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 1 Maret 2016 . in Dosen . 1116 views

Kata mengaji biasanya dikonotasikan dengan upaya memahami al Qur'an. Demikian pula pengertian dalam judul tulisan ini. Pada hari Sabtu dan Ahad, tanggal 27 dan 28 Pebruari 2016, saya bersama-sama para guru besar, dosen dari beberapa perguruan tinggi, birokrat, dan pengusaha, mengadakan pengajian al Qur'an di Kuala Lumpur. Memang terasa agak aneh, sekedar mengaji saja harus pergi jauh-jauh.

Pengajian itu sendiri sebenarnya dilaksanakan atas undangan Persatuan Keluarga Jam'iyyatul Islamiyah di Kuala Lumpur. Organisasi ini memiliki anggota di beberapa Provinsi di Indonesia (17 Provinsi) dan ditambah dengan di Brunai Darussalam, Singapura, dan Malaysia. Hampiir setiap bulan, Jam'iyyatul Islamiyah mengadakan pertemuan bersama untuk mengaji al Qur'an dari satu kota ke kota lainnya.

Biasanya pengajian itu diikuti oleh antara sekitar 200 hingga 400 an orang. Mereka itu, sebagaimana disebutkan di muka, berasal dari kampus-kampus, misalnya dari UI, IPB, UGM, USU, Unri, Universitas Tanjung Pura, UIN Yogyakarta, UIN Medan, UIN Palembang, Unhas, UIN Makassar, UIN Semarang, UIN Malang, dan lain-lain. Demikian juga sebagian adalah para birokrat dan juga pengusaha. Sedang yang berasal dari Malaysia, selain guru besar dari Kampus UKM, senator, juga para pengusaha. Demikian pula yang berasal dari Singapura dan Brunai, pada umumnya adalah para pengusaha.

Saya mengikuti pengajian ini sudah sekitar lima bulan, mulai dari di UIN Makassar, di Medan yang diikuti oleh para dosen dari beberapa kampus, UGM dan UIN Yogyakarta, UIN Malang, di Universitas Riau, di Mataram, di IAIN Serang, di Batam, dan terakhir di Kuala Lumpur. Mendatang yang sudah dijadwal akan dilaksanakan di Pelambang, Bengkulu, Gorontalo, Surabaya, Medan, Pare-Pare, dan lain-lain.

Hal menarik dari mengikuti pengajian al Qur'an ini bahwa semakin lama para pesertanya tidak semakin bosan lalu mengundurkan diri, melainkan justru semakin menyenanginya. Akibatnya, jumlah peserta semakin bertambah. Kegiatan ini selain dilaksanakan pada setiap bulan di beberapa kota provinsi, yang biasanya diikuti oleh peserta dari provinsi lainnya, juga ada pula kegiatan yang sama di kota-kota masing-masing provinsi.

Selain itu hal menarik lainnya adalah bahwa kajian al Qur'an ini berusaha untuk memahami kehidupan manusia secara lebih utuh dan mendalam. Pembahasan tentang ruh, sifat-sifat manusia, nafsu, keharusan menjaga persatuan umat manusia, ilmu pengetahuan, al Qur'an, kenabian dan kerasulan, dan lain-lain yang semuanya itu dicarikan jawabannya dari al Qur'an. Kajian ini sengaja tidak menyentuh hal yang bersifat furu' atau cabang agar terbina persatuan di antara para peserta yang berasal dari berbagai latar bekalang organisasi sosial keagamaan yang berbeda-beda.

Dalam memahami al Qur'an lebih mengedepankan penggunaan hati dan bukan akal. Melalui hati, maka pesan-pesan al Qur'an akan lebih mudah ditangkap. Dipandang bahwa dengan hati maka al Qur'an justru lebih mudah dipahami secara lebih dalam. Apa yang ada di dalam hati, yakni mukmin selalu bersifat jujur, ikhlas dan tidak mau berbohong. Melalui hati itu, orang juga tidak akan mencari kemenangan, sanjungan, dan mengalahkan yang lain. Berbeda hal itu misalnya menggunakan akal, maka akan segera berusaha mengalahkan, mencari benarnya sendiri, dan bisa jadi orang lain yang tidak sama dengan dirinya dianggap salah.

Mengkaji al Qur'an dengan maksud agar memiliki bekal untuk memelihara diri sendiri dan keluarganya terlebih dahulu sebelum berusaha memelihara orang lain, maka akan menumbuhkan kesadaran bahwa tugas itu sedemikian besar dan berat. Memelihara diri sendiri dan keluarganya dari godaan hidup ternyata sedemikian sulit dan berat. Melalui kajian itu akan tumbuh kesadaran bahwa pintu-pintu yang mencelakakan atau disebut neraka, sebenarnya berada pada diri sendiri dan bukan terdapat pada orang lain, apalagi mereka yang berada di tempat jauh.

Hati seseorang yang sedang sakit dan apalagi mati yang kemudian menjadikan takabur, riya, dengki, dendam, permusuhan, memfitnah, hasut, mencelakakan orang lain, dan sebagainya adalah merupakan pintu-pintu neraka. Semua penyakit hati itu sangat mudah masuk pada diri setiap orang. Oleh karena itu, menjaga hati dirinya sendiri, agar tetap sehat, bagi setiap orang, bukan pekerjaan mudah. Kesadaran adanya musuh di dalam diri sendiri yang tentu tidak mudah dikalahkan, bahkan oleh Nabi disebut sebagai perang besar, maka semuanya itu dikaji dari al Qur'an dan Hadits Nabi, sehingga menjadikan kegiatan itu sangat menarik dan dirasakan amat penting sebagai bekal untuk menjalani hidup ini. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up