Selama ini dikenal tiga jenis ilmu, yaitu ilmu alam, ilmu social, dan humaniora. Semua jenis ilmu itu mengenal adanya ilmu dasar dan kemudian dari ilmu dasar itu dikembangkan dalam berbagai jenis ilmu yang lebih bersifat terapan. Ilmu alam dasar terdiri atas ilmu fisika, biologi, kimia, dan ditambah lagi dengan matematika. Ilmu social yang tergolong bersifat dasar yaitu sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi. Sedangkan humaniora terdiri atas filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Mendasarkan pada kategori itu maka di sekolah menengan ada pembagian jujuran yaitu, IPA, IPS dan Bahasa.
Khusus ilmu social semuanya mempelajari perilaku manusia. Berangkat dari ilmu dasar tersebut kemudian berkembang secara luas dan lebih spesifik ke dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu administrasi, ilmu pemerintahan, ilmu komunikasi, dan masih banyak lagi lainnya. Akan tetapi, jenis ilmu terapan apapun jenisnya selalu mengacu pada konsep sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi itu.
Berbagai jenis ilmu social dimaksud dengan adanya dinamika dan kemajuan masyarakat yang semakin cepat seperti sekarang ini juga menjadi berubahy dan berkembang semakin cepat pula. Para ahli-ahli ilmu social di beragai bidang mengkaji aspek yang lebih spesifik. Hasilnya, pada setiap saat ditemukan ilmu baru, berupa pemikiran baru, dan juga bukti-bukti baru yang berbeda dari pemahaman sebelumnya. Namun demikian, rupanya kegiatan tersebut tidak akan pernah final, artinya manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri dan apalagi orang lain berhasil hingga tuntas.
Memalui sejarahnya yang panjang, berbagai kajian dan penelitian, para ilmuwannya telah berhasil menemukan berbagai konsep, paradigma, teori dan atau apalagi namanya terkait dengan perilaku manusia, baik dalam kehidupannya sendiri, kelompok, maupun organisasi besar berupa negara. Ilmu social apapun jenisnya adalah mempelajari perilaku. Sedangkan aspek lainnya, yang terkait dengan bagian yang bersifat fisik, semuanya dipelajari oleh ilmu alam, misalnya biologi, fisika dan juga kimia. Ilmu social hanya berfokus mempelajari perilaku manusia dari berbagai sudut yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, siapa saja yang mempelajari ilmu social, seharusnya mengetahui konsep-konsep, paradikma, teori yang telah berhasil dirumuskan oleh para ilmuwan sebelumnya. Sosiologi misalnya, mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan orang lain. Artinya perilaku dimaksud muncul oleh karena seseorang berinteraksi dengan orang lain. Maka, di dalam sosiologi dipelajari konsep tentang organisasi, konflik, integrasi, kompetisi, kooptasi, hegemonic, dan lain-lain yang terkait hubungan manusia dengan manusia. Sementara itu, psikologi mengkaji perilaku manusia yang lebih ditimbulkan dari dalam diri manusia sendiri. Maka muncul konsep-konsep tentang motif, bakat, minat, stress, galau, dan seterusnya.
Siapa saja yang mengembangkan dan melakukan penelitian ilmu social seharusnya memahami konsep-konsep dan teori yang dihasilkan oleh para ilmuwan sebelumnya. Dengan demikian, maka usahanya tidak memulai dari awal lagi. Para peneliti seharusnya menempatkan diri sebagaimana orang memanjat tangga. Akan menjadi lama dan tidak akan mungkin nyampai, jika seseorang langsung berkeinginan berada pada anak tanggal paling tinggi tanpa melalui beberapa anak tangga sebelumnya. Jika hal itu dilakukan, yang bersangkutan tidak akan berhasil dan atau pasti akan mengalami kesulitan.
Sebagai contoh sederhana, seseorang yang akan mempelajari organisasi, yaitu apapun jenisnya, misalnya organisasi perusahaan, lembaga pendidikan, pemerintahan, politik, dan apa saja, maka agar mudah atau usahanya berhasil maka harus mengenal konsep-konsep, paradigm, dan teori-teori yang telah dirumuskan oleh para ahli sebelumnya. Manakala hal itu diabaikan, maka tidak akan mungkin, usahanya berhasil atau setidaknya akan mengalami kesulitan.
Seharusnya disadari bahwa, telah banyak peneliti sebelumnya yang mengkaji tentang organisasi dari berbagai aspeknya. Mereka telah membuat berbagai konsep dari hasil kajian dan penelitiannya. Tatkala berbicara organisasi misalnya, maka mereka telah merumuskan bahwa perbicara organisasi selalu menyangkut stuktur dan perilaku organisasi dengan berbagai macam konsepnya. Berbicara tentang struktur organisasi maka mereka akan berbicara tentang formalisasi, fleksibilitas, dan kompleksitas. Tanpa mengenal konsep-konsep dimaksud, siapapun pendatang baru tidak akan menghasilkan temuan yang lebih mendalam dan baru, oleh karena sekedar petanya saja belum diketahui.
Sebagai contoh sederhana, Ilmu managemen pendidikan Islam yang dikembangkan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebenarnya adalah merupakan rumpun ilmu social. Ilmu dimaksud mempelajari perilaku manusia di dalam penyelenggaraan pendidikan. Sudah barang tentu, ilmu yang lebih bersifat terapan dimaksud tidak akan mungkin dipahami secara luas dan mendalam jika meninggalkan atau mengabaikani ilmu yang bersifat dasar, yaitu sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi. Beberapa penulis disertasi yang mengalami kesulitan hingga begitu lama tidak selesai, saya lihat karena banyak di antara mereka tidak memiliki latar belakang ilmu dasar dimaksud.
Oleh karena kekurangannya tersebut maka akibatnya, dalam melakukan penelitian, mereka seolah-olah sedang mencari sesuatu di tempat gelap. Dalam melaksanakan kegiatan penelitian itu, rupanya mereka tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya dicari. Dalam keadaan seperti itu, mereka pasti akan mengalami kesulitan. Padahal penelitiannya harus segera diakhiri, oleh karena waktunya sudah habis dan sekalipun apa yang dicari belum jelas. Akhirnya, jurus yang digunakan adalah, pokoknya selesai. Itulah sebabnya, banyak tulisan karya ilmiah tidak saja tidak menarik, tetapi juga tidak jelas masuk kategori ilmu apa. Keadaan seperti itu, seharusnya segera diakhiri agar apa yang mereka lakukan dengan waktu, tenaga, dan biaya mahal tidak mubadzir terus menerus. Wallahu a'lam



