Ketika sedang merenung tentang cara mengembangkan semangat mencari ilmu di kalangan mahasiswa, segera saya teringat teman lama bernama M. Rusli Kariem. Nama itu sangat dikenal di kalangan mahasiswa Yogyakarta dan juga para dosen terutama dosen muda. Rusli Kariem adalah dosen tetap IKIP Yogyakarta yang kampus itu sekarang telah berubah menjadi Universitas Negeri Yogyakarta. Saya mengenalnya dengan baik, karena pernah bersama-sama belajar penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin Makasar, selama 11 bulan.
Sewaktu menjadi mahasiswa, Rusli Kariem tergolong sangat aktif berorganisasi, di HMI. Sehari-hari, ia menulis artikel yang dimuat di beberapa koran lokal maupun nasional, majalah, maupun menulis buku. Selain itu, ia juga seringkali diundang dari kampus ke kampus untuk berceramah. Ketika sedang bersama-sama di Universitas Hasanuddin Makassar, hampir setiap hari, ia menulis artikel. Saya betah berkumpul dengan dia, karena memiliki hoby yang sama, yaitu kegiatan tulis menulis.
Rusli Kariem, oleh karena suka menulis itu, dengan cepat dikenal oleh banyak mahasiswa dari beberapa kampus di Makasar. Jika ada waktu longgar, dia diundang oleh mahasiswa dan bahkan juga kalangan dosen. Menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan diskusi, seminar atau lainnya adalah kegiatannya sehari-hari, terutama ketika ia tidak memiliki tugas atau kegiatan di pusat latihan penelitian yang harus diikuti. Oleh karena menjadi penulis dan juga kaya ide itu, dia secara cepat dikenal di kalangan perguruan tinggi, tidak saja di Yogyakarta dan Makasar tetapi juga di banyak kota lainnya..
Semangatnya untuk mendapatkan ilmu dan juga informasi baru menjadikannya sangat mencintai para ilmuwan. Kapan saja, ketika ia mendengar ada pakar atau ilmuwan datang ke Makassar, ia pasti menemui dan mengajak berdialog. Orang-orang seperti Prof. Kuntjaraningrat, Prof. Selo Soemardjan, Prof. Taufik Abdullah, Prof. Parsudi Suparlan, Prof. Santoso Hamidjojo, Dr. Melly G Tan, Prof. Mattulada, dan lain-lain yang dikenal sebagai ilmuwan dikenalnya dengan baik. Bagi Rusli Kariem, belajar tidak harus dilakukan secara formal di ruang kuliah, tetapi juga bisa dilakukan dengan bersillaturrakhiem dengan sesama kolega, banyak membaca buku, berdialog dengan sesama ilmuwan dan pakar, banyak menulis dan meneliti sesuai dengan bidangnya. Bertemu dengan sesama ilmuwan, apapun tingkatannya, ia anggap sebagai hal yang menguntungkan bagi dirinya.
Setelah menyelesaikan program pelatihan penelitian Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin tersebut, Rusli meneruskan kuliah di Malaysia hingga menyelesaikan S2, dan kemudian berlanjut S3. Saya masih ingat, ketika naskah disertasinya berhasil diselesaikan, ia datang dari Malaysia ke Malang menemui saya, meminta agar saya bersedia membaca naskah disertasi yang akan segera diujikan. Ketika itu, saya tidak mengerti, sekalipun penulisan disertasi itu sudah di bawah bimbingan para Guru Besar, ternyata masih meminta saya untuk membacanya. Memang ketika masih bersama-sama di Makasar, setiap ia menulis selalu meminta saya membaca dan pasti saya berikan kritik secara jujur.
Namun tidak lama kemudian, tentu saya merasa sedih sekali, beberapa minggu sepulang dari Malang, saya mendapat kabar, bahwa sekembali ke Malaysia ia sakit dan dibawa pulang ke Yogya, ternyata tidak lama kemudian, wafat. Namun saya merasa tidak punya hutang, sebab permintaannya, agar saya membaca naskah disertasinya yang siap diujikan, ketika itu sudah saya lakukan dan juga sudah saya kirim kembali ke Malaysia. Kejadian yang sudah lama, yaitu sekitar 20 tahun yang lalu tersebut selalu saya ingat, apalagi ketika saya sedang berkhayal tentang betapa indahnya umpama para dosen muda selalu haus ilmu, sebagaimana yang dialami oleh kawan saya, M. Rusli Kariem tersebut.
Hal yang tidak bisa saya lupakan dari Rusli Kariem adalah, bahwa sebagai dosen dan sekaligus ilmuwan muda, ia menampakkan diri selalu haus terhadap ilmu dan juga informasi baru. Setiap mendengar informasi bahwa ada buku baru, jurnal, hasil penelitian yang telah terbit dan dijual di toko buku, ia pasti segera mencarinya. Berapapun harganya, ia akan membeli, sekalipun misalnya, uangnya harus meminjam terlebih dahulu. Demikian pula, setiap mendengar ada ilmuwan datang dan memungkinkan ditemui, ia pasti akan menemui dan mengajaknya berdiskusi atau berdialog. Kelihatan sekali, bahwa di masa hidupnya, Rusli Kariem sangat haus terhadap ilmu.
Setelah menjadi tua seperti sekarang ini, saya berharap menemukan orang yang menyandang etos ilmu sebagaimana yang pernah saya lihat pada diri teman saya, Rusli Kariem tersebut. Keinginan itu sebenarnya, pada batas-batas tertentu telah tercapai. Ada saja dosen yang menyandang semangat ilmu seperti Rusli Kariem. Namun juga sebaliknya, masih banyak anak muda yang juga telah menjadi dosen, tetapi semangat keilmunya tidak mudah dilihat. Sehari-hari yang dibicarakan bukan buku baru, artikel yang ditulisnya, jurnal, dan hasil penelitian, melainkan hal-hal yang kurang ada relevansinya dengan tugasnya sebagai dosen atau ilmuwan. Bahkan kadang, mereka itu sudah diberi buku saja, sekalipun sudah sekian lama, ternyata belum juga dibaca. Wallahu a'lam.



