Tatkala berbicara pesantren maka segera ingat kitab kuning. Sebab kitab kuning itulah yang selalu dijadikan bahan kajian di lembaga pendidikan tertua itu. Oleh karena itu, selain musabaqoh thilawatul Qur'an, di kalangan pesantren juga sering terdengar ada musabaqoh thilawatul kutub atau perlombaan membaca kitab Pada acara itu, para santri saling beradu kecakapan di dalam membaca dan sekaligus memaknai kitab berbahasa Arab yang dibacanya.
Membaca kitab kuning tidak mudah, santri harus menguasai tata bahasa Arab secara mendalam. Selain itu juga harus memiliki perbendaharaan kata yang cukup dan juga lainnya. Itulah biasanya yang menjadi kelebihan pesantren, selain kelebihan lainnya. Dalam soal pengajaran Bahasa Arab, para santri di pesantren biasanya dipandang lebih unggul dibanding kemampuan siswa di sekolah agama bentulk lainnya, misalnya madrasah atau bahkan juga perguruan tinggi agama.
Sebenarnya sudah cukup lama sebagian pesantren tidak saja membekali para santrinya dengan kemampuan kitab kuning, tetapi juga kitab putih yang berisi ilmu modern, misalnya biologi, fisika, kimia, matematika, dan lain-lain. Pesantren yang membuka pendidikan formal, madrasah misalnya, oleh karena menggunakan kurikulum pemerintah, mereka mengajarkan sains. Akhirnya, para santri di pesantren tidak saja belajar kitab kuning tetapi juga kitab putih.
Memang belum semua pesantren membuka sekolah formal dimaksud. Masih banyak pesantren yang bertahan dengan ciri salafnya, yaitu mengajarkan kitab kuning saja. Santri di beberapa pesantren salaf dimaksud juga masih banyak. Dulu, kepada pesangtren yang bertahan dengan ciri khas kesalafannya itu, menjadikan orang mempertanyakan tentang lulusannya akan bekerja di mana. Dianggap bahwa, siapa saja yang lulus sekolah umum akan segera bekerja, namun pada kenyataannya anggapan itu tidak benar. Sekarang ini lulus sekolah umum juga tidak mudah mencari kerja, sehingga akhirnya, mereka tidak ada bedanya dengan tamatan pesantren.
Dibukanya sekolah umum di pesantren, dan kemudian diajarkannya sains kepada para santri, seringkali masih menimbulkan pertanyaan dari beberapa kalangan. Pertanyaan itu misalnya, untuk apa para santri diajari biologi, fisika, kimia, matematika, dan lain-lain. Apakah ada kaitan antara pelajaran umum tersebut dengan ajaran Islam ? Apakah dengan adanya pelajaran tersebut tidak akan mengganggu tugas pokok para santri, yaitu agar fokus pada upaya mendalami kitab kuning dimaksud.
Pertanyaan sederhana tersebut kiranya perlu diberikan penjelasan secukupnya. Memang, kalau tujuan para santri di pesantren belajar biologi, kimia, fisika, matematika dan lain-lain adalah hanya agar lulus ujian dan mendapatkan ijazah tentu sangat rugi. Niat itu saja sudah keliru. Seharusnya mencari ilmu bukan sekedar untuk mendapatkan ijazah, tetapi seharusnya dikaitkan dengan tugas atau kewajiban memenuhi tuntutan ajaran Islam itu sendiri, ialah untuk mengenal Sang Pencipta, yaitu Allah swt.
Umat Islam melalui al Qur'an dianjurkan untuk merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Al Qur'an memerintahkan agar memperhatikan unta-unta dijadikan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan seterusnya. Di dalam al Qur'an pula terdapat konsep yang sedemikian indah, yaitu ulul al-baab. Sebagai penyandang identitas ulul al-bab di antaranya disebutkan adalah orang yang selalu merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Perintah al Qur'an tersebut kiranya bisa diimplementasikan dalam kegiatan belajar sains dimaksud. Akan tetapi belajar sains tidak sekedar belajar untuk mempersiapkan ujian agar lulus dan memperoleh ijazah dan atau sekedar memenuhi ketentuan kurikulum, melainkan seharusnya disadari bahwa hal itu adalah untuk memenuhi perintah al Qur'an. Umat Islam harus mengenal Tuhannya. Sebagai caranya adalah dengan mempelajari ciptaan-Nya. Jika demikian itu niat dan maksudnya, maka belajar sains, adalah memang perlu dan tidak boleh ditinggalkan. Bahkan belajar sains bagi para santri di pesantren bukan saja berhenti tatkala ujian telah selesai dilaksakan, melainkan sampai pada puncak religiousitas, yaitu hingga yang bersangkutan menyadari kebesaran Sang Pencipta, Allah swt. Wallahu a'lam



