Dua hal yaitu beruntung dan berkemajuan sebagaimana disebut di dalam judul tulisan ini kadang harus dipilih salah satu. Sudah pasti, semua orang berkeinginan agar memperoleh kedua-duanya, yakni beruntung dan sekaligus maju. Akan tetapi umpama harus memilih, maka ternyata kebanyakan orang tetap memilih yang beruntung, sekalipun tidak maju. Atau sebaliknya, bisa jadi seseorang tidak akan memilih maju jika dengan pilihan itu yang bersangkutan tidak beruntung.
Persoalan pilihan tersebut seakan-akan sederhana, tetapi jika tidak dilihat secara jeli maka seseorang akan menjadikan kecewa. Seorang pemimpin begitu semangat, mengajak orang lain atau bawahannya untuk maju. Pemimpin dimaksud mengira bahwa orang lain atau bawahannya akan senang dengan konsep-konsep kemajuannya itu. Diharapkan dengan banyak berbicara kemajuan akan didukungnya.
Memang seorang pemimpin, di mana dan kapan saja, pasti menghendaki institusi atau organisasi yang dipimpinnya menjadi dinamis, maju, dan unggul. Oleh karena itu mereka yang dipimpinnya dan bahkan orang lain diberi penjelasan tentang konsep yang akan dilakukan untuk meraih kemajuan. Sang pemimpin ini mengira bahwa semua orang yang diberi penjelasan menyenangi kemajuan. Padahal dalam kenyataannya tidak selalu begitu.
Tatkala harus memilih, maka kebanyakan orang lebih suka menjatuhkan pilihannya pada keberuntungan yang akan diperoleh secara pribadi daripada kemajuan organisasi atau institusinya. Semua orang menghendaki beruntung dan sekaligus berkemajuan. Akan tetapi, jika harus memilih, maka mereka akan memilih yang menguntungkan, sekalipun dengan pilihan itu beresiko tidak maju. Bahkan, lebih memprihatinkan lagi, seseorang akan tetap memilih beruntung sekalipun institusi atau organisasinya akan mengalami kemunduran atau bangkrut.
Sementara orang kadang menunjukkan keheranannya, mengapa seorang yang berkemampuan biasa-biasa saja atau tidak memiliki kelebihan, tetapi dipilih untuk menduduki posisi strategis dalam sebuah organisasi. Padahal masih banyak pilihan lain yang lebih cakap, memiliki nama besar, dan juga umpama ditunjuk menduduki posisi dimaksud akan membanggakan organisasinya. Hal mengherankan itu akan menjadi jelas setelah diketahui bahwa, mereka yang berkuasa untuk memilih lebih menyukai kebentungan dibanding kemajuan.
Pilihan yang demikian itu tidak saja terjadi di dalam komunitas atau organisasi kecil, tetapi juga organisasi berskala besar, yaitu sebuah bangsa dan negara misalnya. Orang yang lebih menyukai kepentingan dirinya sendiri dan atau golongannya akan lebih memilih beruntung dibanding kemajuan. Bisa jadi semboyannya, adalah biarkan bangsa dan negaranya tidak maju, dan kalah bersaing dengan negara lain, asalkan dirinya sendiri mendapatkan keuntungan. Mereka berpikir bahwa dengan kemajuan bangsa dan negaranya belum tentu dirinya mendapatkan keuntungan.
Berbagai kasus entang adanya seseorang lebih berpihak pada perusahaan atau negara asing dibanding pada negara dan bangsanya sendiri, adalah oleh karena mereka lebih mengejar keuntungan dirinya sendiri dibanding kemajuan bangsanya. Bahkan, bisa jadi, bangsa kita ini tidak maju dan selalu kalah bersaing dengan negara dan bangsa lain, oleh karena sebenarnya banyak orang yang lebih menyukai keberuntungan dirinya sendiri, kelompokj atau golongannya, dibanding kemajuan bangsa dan negaranya.
Orang yang lebih menyukai keberuntungan dari pada kemajuan tersebut sebenarnya ada di mana-mana, baik di organisasi lebih kecil, sederhana hingga pada organiosasi besar. Manakala pada institusi atau organisasi terdapat orang yang bermental selalu mencari keuntungan dan mengabaikan kemajuan, maka organisasinya tidak akan maju dan bahkan bisa jadi runtuh. Maka itulah perlunya di dalam organisasi apapun tingkatannya, dibangun komitmen dan integritas yang kokoh agar orang-orang yang berada di dalamnya lebih mengedepankan kemajuan dibanding sekedar keberuntungan pribadi.
Pada level yang lebih besar, dahulu bangsa Indonesia tidak segera berhasil mengusir penjajah, adalah oleh karena di antaranya terdapat banyak orang yang hanya mengejar keberuntungan dirinya sendiri dan mengabaikan nasib bangsanya. Realitas seperti itu selalu ada di mana dan kapan saja. Dengan mudah kita menyaksikan seseorang diangkat pada jabatan strategis sekalipun tidak kelihatan kehebatannya. Demikian pula, tidak sedikit orang yang sampai hati mengorbankan bangsa dan negaranya hanya untuk meraih keuntungan pribadi. Maka artinya, banyak orang lebih memilih keberuntungan dibanding kemajuan.
Islam mengajarkan konsep ikhsan yaitu selalu mengambil pilihan terbaik. Yang dimaksud adalah selalu mengambil keputusan yang mudharatnya paling kecil dan sebaliknya, keuntungannya paling besar. Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar di dalam mengambil keputusan, tatkala harus memilih, maka supaya memilih yang menguntungkan orang banyak dan bukan untuk dirinya sendiri. Justru kepentingan orang bayak, institusi dan, apalagi bangsa dan negara, harus dikedepankan dibanding hanya untuk meraih kepentingan atau keuntungan pribadi. Bahkan jika harus dilakukan, menghukum seseorang yang melakukan kesalahan harus dilakukan demi menyelamatkan masyarakat dan negara. Wallahu a'lam



