Bermental Pasar Patok
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 1 April 2016 . in Dosen . 1663 views

Istiah pasar patok sudah lama saya kenal. Orang kampung menyebut pasar hewan dengan itilah pasar patok. Sebutan itu mungkin menjadi sangat tepat oleh karena di pasar hewan disediakan banyak patok untuk menambatkan tali pengikat hewan yang akan dijual di pasar itu. Tanpa ada patok, maka para penjual hewan di pasar itu tidak akan bisa ke mana-mana. Mereka harus memegangi tali pengikat hewan yang akan dijualnya, dan hal itu tidak mungkin dilakukan.

Biasanya di pasar patok itu, pemilik tidak menjual sendiri hewannya itu. Agar cepat laku dan harga jualnya memuaskan, maka di pasar patok banyak orang menawarkan jasa menjualkan dagangan. Mereka itu disebut dengan blantik atau makelar. Berbekalkan kemampuan berkomunikasi, para blantik atau makelar itu menjualkan hewan milik orang lain di pasar itu.Namun sudah barang tentu, para makelar tersebut akan memperoleh bagian dari hasil penjualannya.

Pada umumnya, jumlah blantik di pasar hewan cukup banyak, sehingga kadang justru menyulitkan bagi para pembeli. Bahkan kadang, mengetahui banyak blantik, orang tidak mau membeli hewan ke pasar patok, khawatir menjadi korban sikap jujur dari para penjual jasa dimaksud. Hal demikian itu cukup beralasan, sebab pada kenyataannya memang tidak gampang mendapatkan blantik yang jujur. Mereka bersikap seperti itu untuk mendapatkan keuntungan.

Oleh karena sudah umum bahwa di pasar hewan banyak makelar atau brokernya, maka muncul istilah mental pasar patok, yaitu orang yang bermental makelar. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah menjual jasa, yaitu menjadi penghubung antara penjual dan pembeli. Pekerjaan itu tidak terlalu sulit oleh karena hanya bermodalkan keberanian, kepercayaan diri, dan kepandaian berkomunikasi. Jasa penghubung atau makelar ini kadang memang dibutuhkan. Bagi orang yang tidak mampu berkomunikasi, maka kehadiran para broker menjadi penting. Namun sayangnya, sering dijumlai para broker di dalam mendapatkan keuntungan tidak selalu jujur, sehingga ada pihak-pihak yang merasa terugikan.

Orang yang pekerjaannya menjadi penghubung atau disebut broker atau makelar itu sebenarnya tidak saja berada di pasar patok, melainkan sudah ada di berbagai lapangan kehidupan, baik di bidang hukum, politik, sosial, pendidikan, bahkan juga di birokrasi pemerintahan. Di bidang hukum, untuk menghadapi tuntutan jaksa, biasanya terdakwa boleh didampingi oleh para pengacara. Tidak semua orang yang terkena kasus hukum memahami seluk beluk hukum. Maka, orang dimaksud dibolehkan meminta bantuan hukum kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk mendampingi dan bahkan membelanya.

Demikian pula di bidang politik, seseorang yang mencalonkan diri pada jabatan politik, tidak mungkin bekerja sendirian. Untuk meraih kemenangan, masing-masing calon menyusun tim sukses dan juga para peloby untuk mempengaruhi para pemilih. Memang, mereka itu tidak disebut broker atau makelar, akan tetapi funsi yang dijalankan sebenarnya tidak jauh berbeda. Bahkan sifat atau karakter yang dibangun juga sama. Sebab para peloby dan juga tim sukses pasti memiliki target yang sama dengan para makelar pasar patok, yaitu berhasil, dan jika perlu harus menempuh cara apapun.

Bahkan, mental pasar patok juga merambah dan berkembang di berbagai proyek, tidak terkecuali di lingkungan pemerintah. Suatu daerah atau instansi bilamana menghendaki agar mendapatkan anggaran lebih, maka mempercayakan pada orang yang memiliki hubungan dekat dengan pihak yang menentukan jumlah anggaran. Tentu cara seperti itu, kadang menjadi tidak sehat. Penentuan jumlah anggaran bukan atas dasar pertimbangan obyektif, atau kebutuhan riil yang seharusnya dibiayai, melainkan hanya atas dasar kekuatan broker itu.

Sudah barang tentu, kehadiran para peloby atau makelar anggaran dimaksud menjadikan birokrasi tidak sehat. Bahkan juga sebenarnya, tidak saja di birokrasi, di mana-mana para broker atau makelar, ----sekalipun dalam keadaan tertentu diperlukan, dirasakan merugikan. Biaya yang harus dikeluarkan menjadi lebih mahal. Selain itu, pekerja sebagai makelar berbeda dengan pejuang. Para pejuang mau berkorban, sementara itu makelar hanya berharap untung. Maka, komunitas yang banyak makelarnya biasanya tidak maju, persis sebagaimana banyak terjadi di pasar hewan atau pasar patok. Oleh karena itu, untuk menggambarkan ketidak-sukaan terhadap peran makelar itu, maka muncul istilah mental pasar patok. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up