Islam Agama penyeru Kedamaian
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 7 April 2016 . in Dosen . 7021 views

Semua orang yang beragama Islam akan mengatakan bahwa Islam adalah agama penyeru kedamaian. Namanya saja Islam, berarti selamat dan juga damai. Mendasarkan pada pemahaman itu, maka siapapun yang ingin hidup damai, maka bergabunglah atau ikutilah ajaran Islam. Islam mengajarkan agar semua orang sama-sama saling kenal mengenal, saling memahami, saling menghormati, saling mencintai, dan akhirnya saling tolong menolong.

Indah sekali konsep Islam tentang kehidupan bersama. Islam tidak mengenal diskriminatif, merendahkan orang lain, menyakiti hati, merugikan, dan apalagi saling menghancurkan dan atau saling bunuh membunuh. Jika terjadi penyimpangan dari konsep kedamaian dimaksud, misalnya saling menyakiti hati atau bahkan bunuh membunuh di antara sesma, maka ketika itu yang bersangkutan sedang mengingkari hatinya atau keimanannya sendiri.

Pertanyaan mendasar yang seharusnya dijawab adalah kedamaian dengan siapa, di mana, dan kapan. Tentu jawabnya adalah damai dengan semua orang, di mana dan kapan pun. Ketika terdapat orang Islam, maka di mana dan kapan saja seharusnya terjadi kedamaian. Sebaliknya, keributan adalah bukan watak orang Islam. Justru Islam seharusnya mendamaian terhadap orang yang sedang saling melakukan keributan atau permusuhan.

Kedamian bersumber dari hati yang bersih dan sebaliknya, bukan berasal dari otak atau akal dan apalagi hawa nafsu. Hanya persoalannya, tatkala bersama dengan orang lain apalagi jumlahnya banyak, maka mereka memiliki watak, perilaku, karakter yang beraneka ragam. Sedikit di antara mereka yang bersyukur dan juga berhati bersih. Kebanyakan manusia cenderung mengedepankan otak atau akalnya dan juga hawa nafsunya. Itulah sebabnya, mewujudkan kedamaian sekalipun indah menjadi tidak mudah.

Menghadapi orang yang sedang melakukan kemungkaran, yaitu ketidak-adilan, kecurangan, berbuat aniaya dan sejenisnya, maka Islam mengajarkan agar menggunakan tangannya, dan jika tidak mampu maka supaya menggunakan lidahnya dan juga tidak mampu lagi, maka dianjurkan agar menggunakan hatinya. Namun cara terakhir itu disebut sebagai lemahnya iman. Padahal umat Islam dianjurkan menyandang iman yang kuat.

Oleh karena itu berbicara kedamaian seharusnya dikaitkan dengan persoalan bagaimana agar umat Islam itu kuat, baik keilmuannya, keimanannya, akhlaknya, maupun karya-karyanya, semua seharunya berkualitas. Manakala umat Islam lemah, maka tidak mudah mewujudkan kedamaian. Siapapun yang berkeadaan lemah, maka tidak akan menjadi subyek, melainkan sebaliknya, adalah sebagai obyek dan akhirnya tidak akan mampu memberantas kemungkaran, dan jika hal itu dilakukan hanya sebatas menggunakan hatinya tersebut.

Maka, persoalan besar dan mendasar yang harus dijawab oleh umat Islam di mana dan kapan saja adalah bagaimana menjadikan umat Islam mau melompat dari berposisi di belakang menjadi berada di depan, baik menyangkut ilmu pengetahuannya, keimanan dan akhlaknya, ekonominya, dan juga tidak terkecuali adalah penguasaan teknologinya. Selama ini, diakui atau tidak, dalam berbagai hal umat Islam masih berada di belakang dan bahkan juga di bawah, sehingga keadaannya masih tergantung dari yang lain. Posisinya yang masih belum menguntungkan itulah sehingga menjadikannya sangat sulit sekedar berbicara tentang kedamaian.

Konsekuensi logis dari menjadi umat yang berada di belakang, maka pada umumnya mereka merasa tidak aman, banyak merasa kecewa, kurang memiliki percaya diri, tidak banyak hal yang bisa dibanggakan, serba curiga pada orang lain, dan juga sekaligus menjadi bermental kalah. Perasaan dan keadaan yang tidak menguntungkan itu, akan sulit membangun kedamaian oleh karena tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu, menjadikan Islam benar-benar sebagai agama yang selalu menyeru pada kedamaian dalam kehdupan sehari-hari, maka umat Islam harus berani melakukan perubahan mendasar pada dirinya terkait dengan ilmu pengetahuan, cara memandang dunia, perilaku, dan bahkan juga pemaknaan terhadap amal shalehnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up