Sehari-hari, baik disengaja atau tidak, kita mendengarkan banyak berita tentang kehidupan para pejabat pemerintah, anggota DPR, konglomerat, pimpinan bank, rektor, dosen, kepala sekolah, guru, polisi, tentara, jaksa, hakim, pengusahja, dan lain-lain. Sebaliknya, jarang sekali kita mendengarkan kehidupan orang sederhana, semisal kuli bangunan, manol, tukang ojek, tukang parkir dan semisalnya.
Para pekerja informal dengan penghasilan terbatas tersebut menjalani hidupnya secara sederhana. Mereka itu bekerja hanya untuk mendapatkan upah atau uang sekedarnya. Menyadari atas pekerjaannya itu, mereka merasa beruntung tatkala berhasil mendapatkan sesuatu, sekalipun hanya cukup untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Mereka tidak berharap sesuatu yang tidak mungkin atau di luar jangkauan kemampuannya.
Mungkin saja banyak orang melihat jenis pekerjaan informal tersebut sebagai hal sederhana dan remeh, sehingga tidak ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Padahal jika diteliti secara mendalam, dari kehidupan orang sederhana tersebut sesunguhnya terdapat nilai-nilai mulia yang belum tentu ada pada kalangan masyarakat yang terdidik dan berjabatan tinggi sekalipun. Di antara nilai mulia yang saya maksudkan adalah adanya kebersamaan, saling menolong, peduli di antara sesama.
Sedemikian mengharukan, di antara para buruh, pekerja pengangkut dagangan dari luar ke dalam pasar dengan upah murah itu misalnya, ternyata terjalin kebersamaan yang sedemikian kuat. Di antara mereka terjadi saling peduli dan atau saling memperhatikan. Persaingan dan apalagi berebut tidak terjadi. Mereka bersemboyan bahwa jika seseorang pulang membawa uang maka yang lain juga dijamin harus membawa. Oleh karena itu, pekerjaan itu diatur agar masing-masing pada hari itu pulang membawa rizki, sekalipun jumlahnya sekedar cukup untuk menghidupi keluarganya pada hari itu.
Kebersamaan mereka itu juga tampak dari hal sederhana. Misalnya, di pagi hari, ketika seseorang sudah mendapatkan rizki dan yang lain belum memperolehnya, maka ketika membeli kopi atau rokok, maka juga akan dibagi dengan temannya. Mereka bersemboyan, agar di antara sesama selalu saling bisa merasakan bersama. Ketika seseorang bisa meminum kopi, maka yang lain juga harus bisa meminumnya. Tidak ada di antara para manol, kuli, tukang parkir, dan sejenisnya hanya mementingkan dirinya sendiri.
Tetangga saya juga banyak yang bekerja sebagai kuli bangunan, tukang ojek, dan sejenisnya, maka sedikit banyak saya mengerti kehidupan sehari-hari mereka itu. Ketika seorang kuli bangunan sudah beberapa hari tidak mendapatkan pekerjaan, maka kuli lainnya akan mengajaknya bekerja bersama-sama. Jika hal itu tidak mungkin dilakukan, maka kuli yang pada hari itu memperoleh rizki akan menolong, dengan cara menghutangkan sebagian upahnya kepada yang menganggur. Mereka memiliki ikatan solidaritas, sehingga merasa harus saling menolong di antara sesama.
Solidaritas sesama para pekerja informal tersebut, sebenarnya merupakan pelajaran hidup yang amat berharga dan mulia. Sehari-hari mereka menjalani hidup sederhana. Rumah, pakaian, dan penampilannya tampak apa adanya, tetapi ternyata mereka mamiliki hati yang tidak sederhana. Sehari-hari pakaian mereka tidak ada yang bisa dibanggakan dan tidak diurus, tetapi ternyata hati mereka tidak sederhana. Di antara sesama, mereka saling peduli, menjalin kebersamaan, berkasih sayang, dan tolong menolong.
Hidup seperti digambarkan tersebut belum tentu ada pada orang yang disebut sebagai terdidik, pejabat, dan orang kaya sekalipun. Mereka yang sehari-hari disebut terpandang itu, biasanya justru bersifat individualistik, tidak peduli, atau cuek kepada orang lain, dan bahkan bisa jadi juga bakhil. Oleh karena itu, dilihat dari kepedulian dan kebersamaannya, ternyata para pekerja informal seperti menjadi kuli bangunan, tukang ojek, dan lain-lain, sebenarnya lebih hebat dan teguh dalam menjaga nilai-nilai mulia dibanding orang-orang di berada atas sana yang mengaku, dirinya lebih hebat. Wallahu a'lam



