Melihat Kekurangan Orang Lain
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 19 April 2016 . in Dosen . 12423 views

Di antara pekerjaan yang paling mudah adalah melihat kekurangan orang lain. Oleh karena itu, siapapun bisa melakukannya. Orang bodoh sekalipun, akan bisa melihat kekurangan itu. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak gampang dilakukan oleh setiap orang adalah melihat kekurangan dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya sudah dianggap benar dan lebih baik dibanding yang dilakukan oleh orang lain.

Kenyataan tersebut menjadikan siapa saja yang hanya bisa melihat kekurangan orang lain maka sebenarnya mereka tidak pintar atau termasuk orang yang tidak berlebih. Sebab, orang bodoh sekalipun akan mampu melakukannya. Sebaliknya, hal yang tidak mudah adalah melihat kebaikan yang ada pada orang lain. Tidak sembarang orang dapat melakukannya, kecuali orang pintar. Maka sebenarnya, kualitas seseorang di antaranya bisa dilihat dari kemampuannya melihat kebaikan orang lain itu.

Di dunia ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial, dilakukan perbincangan untuk memahami perilaku orang. Sebagai hasil dari kegitan itu maka muncul ilmu sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi. Selanjutnya beberapa ilmu sosial yang tergolong sebagai ilmu dasar itu berkembang menjadi ilmu yang lebih bersifat terapan, misalnya ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, pendidikan, dan seterusnya.

Berbagai jenis kegiatan keilmuan tersebut menghasilkan pemahaman tentang perilaku manusia yang beraneka ragam. Sebagai ilmu sosial, maka obyek yang dikaji adalah perilaku orang, sekelompok orang, atau masyarakat dalam ukuran luas. Sudah barang tentu, sebagaimana disebutkan di muka, obyek yang dipahami dari kegiatan tersebut adalah tentang orang lain. Akhirnya, mereka menjadi mengerti tentang orang lain, dan sebaliknya belum tentu memahami tentang dirinya sendiri.

Betapapun mengetahui perilaku orang, selama ini danggap penting. Kegiatan keilmuan itu, selain untuk mempertajam kemampuan intelektual seseorang, juga akan memperkaya informasi tentang kehidupan sosial. Orang yang cerdas dan banyak tahu tentang sesuatu tentu akan berbeda dibanding orang yang pengetahuannya terbatas. Namun demikian, dalam kehidupannya ini, sebenarnya siapapun dituntut selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya sendiri sebelum meningkatkan orang lain. Maka, banyak tahu tentang dirinya sendiri seharusnya lebih diutamakan.

Tanpa disadari bahwa, mengetahui tentang diri sendiri ternyata tidak lebih mudah dibanding mengetahui orang lain. Mengetahui kekurangan dan bahkan kesalahan orang lain lebih mudah dibanding tentang apa yang ada pada dirinya sendiri. Sedemikian sering dilupakan dan juga betapa sulitnya memahami diri sendiri itu hingga al Qur'an juga mengingatkannya. Di dalam surat al Israa' ayat 14, dikemukakan : ' iqra' kitaabaka kafaa bi nafsikal yauma 'alaika hasiibaa'. Melalui ayat ini, manusia diingatkan agar selalu membaca catatan yang ada pada dirinya sendiri.

Sehari-hari orang terlalu sibuk membaca orang lain, dan sebaliknya lupa berusaha mengetahui tentang dirinya sendiri. Oleh karena yang paling mudah adalah membaca kekurangan itu, maka itulah yang dilakukannya. Akibatnya, orang lain selalu dianggap kurang, padahal sebenarnya, dirinya sendiri itu yang masih harus diperbaiki. Umpama setiap orang lebih banyak membaca tentang dirinya sendiri, maka sakwasangka, curiga mencurigai, dan menganggap orang lain selalu salah, ----yang semua itu sebagai sebab terjadinya konflik, perpecahan, dan permusuhan, akan berkurang dengan sendirinya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up