Guru yang saya maksud rupanyanya rajin membaca. Salah satu buku yang menurut pengakuannya baru saja dibaca adalah tentang filsafat social yang ditulis oleh Scott Gordon. Diantara yang dijelaskan dari buku tersebut kepada murid-muridnya adalah tentang perilaku manusia. Disebutkan bahwa perilaku manusia itu bermacam-macam dan bisa dipahami dari perilaku berbagai jenis binatang. Dikatakan bahwa, pada hakekatnya perilaku manusia itu mirip dengan perilaku binatang.
Dijelaskan bahwa ada jenis binatang, ketika ketemu pasti beradu fisik terlebih dahulu. Contohnya adalah ayam jantan dan kambing jantan. Lihat saya, ayam dan kambing jantan, ketika pertama kali bertemu, mereka bukan berkenalan, melainkan segera saling beradu kekuatan. Di antara sesama, mereka saling berusaha mengalahkan, dan bahkan jika perlu sampai mati. Selain itu, ayam baik jantan atau betina, ketika tidak ada makanan biasanya tenang, tetapi setelah datang makanan bukan segera memakannya, melainkan bertarung terlebih dahulu. Setelah mereka capek, baru ingat makanannya.
Berbeda dari kekhasan ayam dan kambing adalah kerbau. Binatang berukuran besar dan tampak sabar itu, ternyata memiliki ciri khas, yaitu selalu berkumpul tetapi tidak memiliki solidaritas yang kokoh. Kerbau selalu tidak mempedulikan terhadap sesamanya. Manakala seekor kerbau dijadikan bulan-bulanan atau diserang oleh binatang buas, maka kerbau lainnya pasti membiarkan. Seolah-olah persoalan apapun bagi kerbau harus ditanggung sendiri-sendiri.
Guru sebagaimana dimaksud juga menjelaskan tentang perilaku anjing. Binatang yang paling loyal kepada tuan atau pemiliknya adalah anjing. Tidak ada jenis binatang yang berperilaku loyal seperti yang ditunjukkan oleh anjing. Disuruh atau ditugasi apa saja, anjing akan menjalankan dengan sepenuhnya. Padahal sehari-hari, tuannya tidak selalu memberikan makanan yang istimewa. Anjing pada umumnya hanya diberikan sisa-sisa makanan tuanya. Namun demikian, loyalnya luar biasa.
Jenis binatang lainnya yang digunaan untuk menjelaskan tentang perilaku manusia, adalah trenggiling. Binatang tersebut dalam mencari makan sangat tidak kreatif, yaitu hanya diam dan menjulurkan lidahnya. Oleh karena lidah itu berbau maka banyak serangga mendatanginya. Serangga yang datang berkerumun di lidahnya itulah yang kemudian dimakan. Trenggilng dikenal binatang yang amat tidak kreatif dan pemalas, hingga ketika berjalan pun tidak mau menggunakan kakinya.
Trenggiling jika ingin berpindah dari satu tempat ke tempat lain, maka membentuk badannya menjadi bulatan, kemudian menggelinding ke arah yang dituju. Pasti, sesuatu bisa berputar manakala berada pada tempat yang miring. Ia akan menggelinding dari atas ke bawah, dan tidak pernah sebaliknya, yaitu dari bawah ke atas. Rupanya ada korelasi antara cara binatang itu dalam mencari makan dengan dinamika hidupnya. Makhlkuk hidup yang tidak kreatif dalam mencari makan, ternyata tidak akan mengalami kemajuan, berjalan saja memilih tempat miring, agar bisa gerak dari atas ke bawah.
Sebenarnya masih banyak lagi jenis perilaku binatang yang dijelaskan oleh guru tersebut kepada muridnya yang diambil dari buku yang ditulis oleh Scott Gordon untuk mengajarkan tentang perilaku manusia. Di akhir penjelasannya itu, guru tersebut menarik pelajaran bahwa, jika murid-muridnya suka tawuran atau bertengkar, maka sebenarnya mereka tidak ada bedanya dari ayam dan kambing jantan. Juga manakala muridnya masih i tidak peduli dengan sesamanya, maka oleh guru tersebut masih disebut sama dengan kerbau. Selain itu, jika muridnya masih suka berebut makanan, termasuk jabatan, dan kedudukan, maka sebenarnya perilaku mereka itu menyerupai ayam.
Bahkan jika murid-muridnya tidak mau kreatif dan menggunakan akalnya, misalnya makan saja harus dibantu atau tidak mau mandiri, maka perilaku itu sudah ada yang dicontoh, yaitu trenggiling. Bahkan, dalam penjelasannya itu, muridnya dilarang agar tidak terlalu loyal atau mengabdi kepada sesama makhluk. Mengabdi atau menyembah, yang diajarkan oleh guru tersebut, agar hanya kepada Allah semata, tidak boleh kepada lainnya. Anjing yang berperilaku loyal berlebihan, ternyata hingga air liurnya disebut najis dan kemudian untuk membersihkannya harus dicuci hingga tujuh kali, di antaranya dengan tanah.
Di akhir penjelasannya, guru juga berpesan kepada muridnya agar kelak menjadi bagaikan singa. Binatang itu disebut sebagai raja hutan. Tatkala mencari makan, singa selalu selektif, tidak sembarangan. Singa hanya mau mengkonsumsi jenis daging binatang yang larinya cepat, sehingga untuk mendapatkannya harus berlari dan mengejar, ke mana saja mangsanya itu berada. Keberadaannya di hutan disegani oleh binatang lainnya. Singa menggambarkan sosok pemimpin yang kuat, gagah, dan berani. Ia disebut sebagai raja hutan. Sosok seperti itulah yang diharapkan kelak terhadap murid-muridnya yang diajari tentang perilaku manusia melalui buku dimaksud. Mendengarkan pelajaran itu, saya berkeyakinan muridnya akan mendapatkan gambaran konkrit tentang siapa sebenarnya dirinya dan juga manusia pada umumnya. Wallahu a'lam



