Menjadikan Hidup Dihargai Orang Lain
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 13 April 2016 . in Dosen . 4706 views

Ada saja orang bertanya, bagaimana agar keberadaannya dihargai oleh orang lain. Pertanyaan sederhana itu juga saya jawab dengan sederhana pula, yaitu jangan pernah meminta-minta kepada orang lain. Jika mungkin sebaliknya, yaitu selalu memberi. Nabi pernah berpesan agar menjadi orang yang mampu memposisikan tangannya berada di atas, sebaliknya jangan berada di bawah. Tegasnya, jadilah pemberi dan jangan menjadi peminta-minta. Maka, akan dihargai orang lain.

Persoalannya adalah bagaimana seseorang bisa memberi, sementara itu keadaannya masih berkekurangan. Jawabnya juga tidak terlalu sulit, yaitu seharusnya tidak perlu melakukan di luar kemampuannya. Kerjakan saja apa yang ada. Umpama saja harus meminta bantuan kepada seserang atau lembaga tertentu, maka caranya adalah lakukan melalui tukar menukar. Yaitu, memberi apa untuk mendapatkan apa. Mendapatkan sesuatu secara gratis hanya akan merendahkan harga diri yang bersangkutan.

Itulah sebabnya, siapapun sebenarnya harus memiliki kelebihan yang dapat diberikan kepada orang lain. Kelebihan itu tidak saja harus berupa harta. Banyak orang sudah memiliki harta berlebih tetapi masih berkekurangan dalam hal lainnya. Sama-sama memiliki kekurangan dan sealiknya memiliki kelebihan yang berbeda, akan berpeluang saling melengkapi. Dengan demikian, saling tukar menukar akan menjadi cara untuk menghindari terjadinya pemberian oleh pihak tertentu kepada pihak lainnya yang berakibat merendahkan harga diri seseorang.

Hal tukar menukar tersebut sebenarnya bisa dilakukan dalam berbagai skala dan lintas daerah atau bahkan negara. Modal yang diperlukan adalah adanya kemampuan berkomunikasi. Saya memiliki pengelaman kecil dan sederhana terkait dengan hal tersebut. Ketika, masih memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya membutuhkan dosen Bahasa Arab yang benar-benar mengerti Bahasa al Qur'an itu. Umpama kebutuhan itu saya penuhi dengan cara mencukupkan apa adanya, maka saya yakin tidak akan menghasilkan kualitas unggul. Keunggulan tidak akan lahir dari cara-cara apa adanya. Keyakinan tersebut mendorong diri saya sendiri, mencari dosen yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan tersebut.

Untuk mendapatkan dosen Bahasa Arab yang berkualitas, saya pergi ke Sudan. Selama itu, saya mempeoleh informasi bahwa, Bahasa Arab yang fushah hanya bisa ditemukan di negara itu, dan sudah sulit ditemukan di negara Arab lainnya. Dalam kesempatan itu, saya berusaha menggali kebutuhan orang Sudan yang hanya bisa dipenuhi dari Indonesia. Pada waktu itu, saya teringat Nama Syurkaty, yaitu ulama Sudan yang dibanggakan oleh mereka, karena dianggap berhasil berdakwah di Indonesia. Saya menyampaikan kepada mereka bahwa, umpama perjuangan Syurkaty ada penerusnya, maka keharuman nama Sudan di Indonesia akan berlanjut. Pandangan itu, saya sampaikan kepada Presiden Sudan, dan ternyata, ia sanggup membantu beberapa guru besar untuk mengajar Bahasa Arab di UIN Malang atas biaya pemerintahnya dan masih berjalan hingga sekarang ini.

Pengalaman sederhana lainnya, ketika selaku rektor bermaksud memenuhi koleksi perpustakaan dengan buku-buku berbahasa Arab tentang ilmu-ilmu umum, seperti ilmu ekonomi, ilmu fisika, kimia, biologi, kedokteran, teknik, dan lain-lain, saya berkunjung ke Riyad. Mendapatkan buku-buku dimaksud di Indonesia akan sangat kesulitan. Selain itu juga untuk menyediakan anggaran dan apalagi prosedur pembeliannya ke negara Arab pasti tidak mudah. Pada saat itu semua kegiatan bertransaksi harus dilakukan sesuai dengan aturan, dan hal itu tidak mudah dilakukan.

Sebagai cara yang saya tempuh pada waktu itu adalah meyakinkan orang Arab tentang kelemahan mereka yaitu oleh karena keterbatasan informasi, negara kaya minyak itu masih dianggap belum maju, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Orang luar Arab termasuk orang Indonesia masih menganggap bahwa orang Arab dalam mengembangkan ilmu masih terbatas pada jenis ilmu yang terkait dengan agama, misalnya ilmu tafsir, hadits, fiqh, akhlaq, tarekh, dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan ilmu-ilmu umum, orang Arab masih dianggap ketinggalan. Itulah kesan umum, oleh karena masyarakat di luar Arab belum pernah melihat buku-buku dimaksud yang ditulis oleh orang Arab sendiri dengan Berbahasa Arab.

Mendengarkan penjelasan tersebut, dari mereka tumbuh semangat untuk mengatasi persoalan tersebut. Maka kemudian saya tawarkan kerjasama, yaitu saya sanggup membantu mereka dengan cara menyediakan tempat buku-buku yang membahas ilmu pengetahuan umum berbahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya jelaskan pula bahwa umpama berbagai macam buku pengetahuan umum berbahasa Arab sudah tersedia di berbagai perpustakaan di Indonesia dan berhasil dibaca oleh banyak orang, maka kesan negative bahwa orang Arab belum mengembangkan ilmu pengetahuan umum akan berhasil hilang dengan sendirinya.

Akhirnya, mereka mengirimkan ribuan buku dimaksud agar dijadikan bahan koleksi di perpustakaan UIN Maulana Malik Ibrahim malang tanpa harus membayar serupiah pun. Saya juga menjelaskan bahwa kemajuan negara Arab selama ini belum diketahui secara tepat oleh orang luar Arab, oleh karena semua jama'ah umrah dan haji yang datang ke nagara itu, hanya terbatas ke tiga kota, yaitu Jeddah, Makkah, dan Madinah. Akibatnya, kemajuan negara Saudi Arabia, khususnya yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan, yang selama ini hanya berkonsentrasi di kota-kota lainnya, terutama di kota Riyad, belum banyak diketahui oleh masyarakat lainnya. Mereka baru mengetahui bahwa di negara-negara Arab, selama ini baru sebatas mengembangkan ilmu agama, padahal kenyataannya tidak begitu.

Melalui dua contoh tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa kerjasama saling menguntungkan sebenarnya masih bisa dilakukan dalam berbagai cara, bentuk, dan atau strategi. Namun memang hal itu memerlukan modal, yaitu setidaknya berupa kemampuan berkomunikasi, deplomasi, dan atau negosiasi. Apapun bentuknya, kerjasama berbeda dari sekedar meminta. Kerjasama akan membangun kesan bahwa di antara kedua belah pihak adalah setara, atau tidak ada yang merasa lebih unggul. Mendapatkan sesuatu dari hanya dengan meminta, setidaknya akan membuahkan sindiran yang tidak enak didengar, misalnya dianggap sebagai lembaga yang hanya mampu membuat proposal. Oleh karena itu, meminta sesuatu secara gratis seharusnya dikurangi, dan syukur ditinggalkan, agar menjadi mandiri dan keberadaannya tetap berwibawa, serta dihargai orang lain. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up