Sehari-hari kita mendengarkan dan bahkan menyaksikan sendiri peristiwa yang sangat tidak menyenangkan, yaitu perselisihan antar orang, kelompok, suku, dan bahkan antar negara. Perselisihan itu selalu membawa akibat yang tidak menyenangkan. Masing-masing pihak akan menjadi sangsara hidupnya oleh karena terlibat perselisihan itu. Siapapun bisa menyaksikan betapa penderitaan yang harus ditanggung oleh negara-negara yang dilanda perselisihan dan berlanjut dengan peperangan. Apapun, hingga nyawa sekalipun menjadi tidak ada artinya ketika sedang berkecamuk perselisihan yang mengakibatkan perang.
Perselisihan itu bisa dialami oleh setiap orang, baik oleh rakyat biasa, orang terdidik, pejabat, dan bahkan agamawan sekalipun. Oleh karena itu tidak benar jika dikatakan bahwa perselisihan itu sebagai akibat dari kurangnya pendidikan pada seseorang. Sebab, banyak orang pintar dan terdidik tetapi ternyata juga masih terjebak pada peselisihan. Juga tidak bisa dibenarkan pernyataan bahwa perselisihan itu hanya disebabkan oleh karena yang bersangkutan masih muda, belum berumur, dan terbatas pengalamannya. Pada kenyataannya perselisihan juga dialami oleh orang yang sudah sangat tua.
Selain itu, perselisihan juga tidak hanya dialami oleh kalangan rakyat biasa, tetapi juga terjadi di kalangan pejabat, guru, dan bahkan juga di kalangan para guru, dosen, dan tokoh agama sekalipun. Perselisihan tidak mengenal status dan kelompok, bisa terjadi di semua kalangan, baik kelompok kecil, yaitu keluarga, tetangga, dan juga di kelompok besar, seperti organisasi sosial, politik, agama, dan bahkan antar negara. Perselisihan itu sangat membahayakan bagi semua pihak. Organisasi dalam ukuran dan bentuk apapun bisa hancur atau runtuh oleh karena perselisihan, termasuk di internalnya sendiri.
Oleh karena peselisihan dan berbagai akibatnya selalu tampak dan dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, maka semua orang tahu bahwa perselisihan itu tidak baik dan membahayakan. Namun tidak banyak orang yang mampu menghindar dari kemungkinan terjadinya peselisihan itu. Terasa lebih parah lagi, orang atau lembaga yang sebenarnya bertugas mengingatkan agar tidak berselisih, ternyata juga terlibat perselisihan. Sebagai contoh sederhana, bahwa keberadaan organisasi dimaksudkan adalah agar banyak orang terhimpun dan bersatu di tempat itu. Namun pada kenyataannya pada setiap organisasi tidak pernah sepi dari perselisihan.
Pada akhir-akhir ini, di berbagai kalangan partai politik, ---tidak perlu disebutkan pada catatan ini oleh karena semua orang sudah mengetahui, terjadi perselisihan kepengurusan hingga dalam waktu lama. Demikian pula di berbagai instansi, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif ternyata tidak pernah sepi dari problem yang dimaksudkan itu. Maka, seolah-olah perselisihan sudah menyatu dengan kehidupan itu sendiri. Padahal, manusia telah dilengkapi dengan berbagai perangkat untuk menghindar dari apa saja yang membahayakan, mulai dari panca indera, akal, dan juga hati. Semua itu seharusnya digunakan maksimal untuk mencegah terjadinya perilaku yang membahayakan bagi kehidupannya.
Jika pendidikan, pelatihan, organisasi, dan bahkan institusi agama sekalipun ternyata tidak berhasil menghindarkan dari perselisihan, maka pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dan direnungkan adalah apa sebenarnya yang menjadikan sebab utama dari perilaku yang sangat memalukan dan membahayakan dimaksud. Mungkin jawabnya adalah cukup banyak, yaitu misalnya, oleh karena adanya ketidak-jujuran, gagal mewujudkan keadilan, kebohongan, khianat, hasut, iri, dengki, kesombongan, dan semacamnya. Jika benar demikian itu halnya, maka sumber perselisihan itu sebenarnya adalah berada pada diri orang sendiri.
Selain itu, memang setiap orang juga memiliki sifat yang sama, yaitu tidak mau direndahkan, tidak pernah merasa cukup, tidak mau dikalahkan, dan juga tidak mau dilampaui. Sifat itu selalu ada pada setiap orang, baik mereka yang terdidik maupun yang tidak terdidik, mereka yang tua maupun yang muda, pejabat maupun rakyat biasa, dan bahkan juga baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Oleh karena itu, menyangkut yang disebutkan terakhir, tampak aneh, dan sekaligus menjadi pembeda antara manusia dan kehidupan binatang. Pada binatang yang suka berselisih, dalam arti bisa diadu, hanyalah terbatas yang jantan. Sementara itu, manusia ternyata sama saja, baik laki-laki dan wanita, semuanya sama-sama suka berselisih. Wallahu a'lam



