Semua Orang Pasti Membenci Teroris
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 12 April 2016 . in Dosen . 1261 views

Kiranya bukan saja Densus 88 yang menempatkan diri sebagai musuh teroris, sehingga dengan mati-matian berusaha membasmi mereka itu. Tetapi semua orang membenci perilaku yang sangat membahayakan itu. Bagaimana tidak, mendengar kata teroris saja, orang segera teringat bom, pembunuhan sadis, bangunan runtuh, orang harus lari pontang panting ketakutan. Siapa saja terancam keselamatannya oleh perilaku teroris yang membahayakan itu. Maka siapa sebenarnya yang tidak membencinya, kecuali para pelaku teror itu sendiri.

Oleh karena itu, siapa pun sangat membutuhkan Densus 88. Mereka juga akan senang, bergembira, dan akan mengapresiasi jika suatu ketika mereka berhasil melumpuhkan para teroris. Mendengar berita Densus 88 berhasil menangkap teroris semua orang akan gembira, senang, dan bangga oleh karena negeri ini memiliki pasukan yang bekerja dengan sungguh-sunguh, sekalipun berhadapan dengan resiko yang amat tinggi.

Rakyat termasuk di dalamnya tentu adalah berbagai jenis organisasi sosial keagamaan seperfti NU, Muhammadiyah, MUI, Tabiyah Islamiyah, al Irsyad, Jam'iyyatul Islamiyah, dan apa saja, saya yakin mereka merasa membutuhkan dan menganggap keberadaan polisi sangat penting. Tanpa polisi, negara ini tidak bisa dibayangkan keamanannya. Sekedar mau menyeberang jalan saja, sekarang ini memerlukan bantuan polisi lalu lintas, apalagi menghadapi teroris yang mengancam keselamatan nyawa bagi semua orang.

Atas dasar pandangan dan perasaan seperti digambarkan itu, rakyat dan semua orang seharusnya mencintai polisi, Densus 88, tentara, dan juga semua saja yang sehari-hari bekerja untuk keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan rakyat. Hanya saja memang rasanya ada hal yang diinginkan dari cara kerja Densus 88 itu. Keinginan itu sebenarnya baik dan mulia, yaitu ketika menggerebek dan menangkap seseorang diharapkan berhati-hati, jangan sampai salah. Tindakan apa saja terkait dengan nyawa, keselamatan, martabat seseorang, dan sejenisnya janganlah berlebih-lebihan. Misalnya, hanya menangkap seorang yang sebenarnya, ---menurut perhitungan, tidak membahayakan saja harus dengan pasukan yang menakutkan.

Harapan lainnya, bahwa semua hal yang dilakukan untuk memberantas terorisme dilakukan secara terbuka, adil, dan bisa dipertanggung jawabkan. Jika kebetulan keliru, maka harus ada perbaikan dan peninajuan kembali. Intinya, rakyat menghendaki ada keadilan yang sebenar-benarnya. Bahwa yang benar adalah benar, dan sebaliknya bagi yang salah, siapapun juga harus mengakui kesalahannya. Orang berpandangan bahwa semua saja,--- tanpa terkecuali, menuntut diperlakukan secara adil dan terbuka.

Kebenaran, keadilan, dan kejujuran yang sebenarnya selalu bertempat di hati pada setiap orang. Suara hati bagi semua orang adalah sama. Sesuatu yang dianggap benar, adil, dan jujur oleh hati seseorang, --manakala yang bersangkutan benar mengikuti suara hatinya, sesungguhnya juga dirasakan sama oleh orang lain. Oleh karena itu, manakala ada pandangan yang berbeda, maka sebenarnya di antara mereka tidak menggunakan suara hati yang sebenarnya. Di antara mereka ada yang menggunakan nafsu atau juga akalnya belaka.

Mendengarkan statemen dari sementara pejabat polisi yang dipandang tidak sesuai dengan suara hatinya, banyak orang kecewa. Seolah-olah Muhammadiyah dan Komnas HAM melawan Polisi atau Densus 88, padahal sebenarnya tidak begitu. Oleh karena itu ketika Kapolri lewat berita petang TV ONE menyatakan siap dievaluasi terkait hasil otopsi Siyono, maka sambutan simpatik segera datang dari mana-mana. Maka sebenarnya, semua orang pasti membenci gerakan terorisme dari manapun asalnya, namun juga semua pihak mendambakan adanya keadilan yang sebenarnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up