Manakala suara hati, sebagaimana tulisan yang lalu, selalu sama maka sebaliknya dengan suara akal atau pikiran, ialah selalu berbeda-beda. Pemikiran itu harus logis. Artinya, selalu mentut agar sesuatu bisa dijelaskan sebab musababnya, urut-urutannya, alasan-alasannya, hitungannya, dan seterusnya. Sesuatu disebut logis manakala berhasil dijelaskan. Namun persoalannya adalah, bahwa sudut pandang atau cara penjelasan yang digunakan oleh setiap orang selalu berbeda-beda. Itulah sebabnya, sesuatu disebut logis belum tentu logis menurut orang lain.
Apa yang disebut logis menurut akal tergantung pada pemiliknya. Orang yang sehari-hari mengurus politik akan berpikir sesuai dengan logika politik, pedagang akan berpikir dengan menggunakan logika berdagang, dan pendidik akan berpikir sesui dengan logika pendidikan. Begitu pula seterusnya, misalnya cara berpikir seniman, ekonom, birokrat, ahli hukum, buruh, dan lain-lain. Perbedaan latar belakang seseorang itulah yang membuahkan pemikiran beraneka ragam. Tentu perbedaan itu masih ditambah lagi dari sebab perbedaan kemampuan menalar, pergaulan, keluasan informasi masing-masing orang, dan lain-lain.
Rupanya tidak semua orang mampu berpikir secara luas hingga menjangkau lintas batas dirinya. Seorang pedagang tidak mudah diajak berpikir pendidikan, seni, dan lainnya. Begitu pula, seorang seniman tidak terlalu tertarik ketika diajak berbicara tentang birokrasi, kehidupan polisi, tentara, dan lain-lain. Itulah sebabnya, orang saling mencari dan berkumpul atas kesamaan yang dimiliki. Seorang politikus berkumpul dengan politikus, pedagang berkumpul dengan pedagang, petani dengan sesama petani, dan guru dengan sesama guru.
Berpikir akan mudah dilakukan secara bersama-sama manakala di antara mereka menggunakan sudut pandang atau berlatar belakang yang sama. Persoalan ekonomi akan mudah dipikirkan oleh orang-orang ekonomi. Persoalan politik akan tepat diselesaikan oleh orang yang selalu menggunakan logika politik. Namun akan menjadi persoalan manakala sesuatu masalah menyangkut berbagai aspek dan masing-masing bersikukuh dengan pandangannya sendiri. Persoalan pendidikan misalnya, akan menjadi masalah manakala hanya diselesaikan dengan menggunakan logika atau pendekatan birokrasi. Logika birokrasi selalu menghendaki agar sesuatu yang berjalan dengan tertib, seragam, dan teratur. Sementara itu, pendidikan selalu menghendaki keadaan yang dinamis dan inovatif, untuk menyesuaikan dengan tuntutan zamannya.
Contoh lain adalah menyangkut ekonomi. Untuk mendapatkan barang dan kemudian menjualnya, para pelaku ekonomi selalu berebut dan berkompetisi. Siapa yang cepat maka merekalah yang akan mendapat. Logika itu akan menjadi kontradiktif tatkala harus berhadapan dengan para birokrat yang biasanya bercirikan serba mengatur, menunggu, dan memerlukan waktu yang lama. Itulah sebabnya, dengan mudah bisa dimengerti ketika para pedagang atau aktifis ekonomi merasa terganggu oleh cara kerja birokrat. Terjadinya sogok menyogok, suap menyuap, perilaku korup dan sebagainya, sebenarnya bermula dari kebiasaan atau cara berpikir yang tidak sejalan sebagaimana digambarkan itu.
Perbedaan cara berpikir atau logika di antara berbagai kalangan tersebut akan berakibat serius manakala tidak adanya kesediaan untuk beradaptasi atau penyesuaian. Penyelesaian persoalan pendidikan misalnya, selalu menuntut keberanian, keterbukaan, dan kebebasan yang bertanggung jawab. Sementara itu birokrasi tidak mudah melakukannya, apalagi tatkala dikaitkan dengan hukum yang harus diikuti. Maka yang terjadi adalah perasaan terkekang, terbatasi, dan atau terlalu banyak rambu-rambu yang menjadi penghalang untuk bergerak dan berkembang. Perbedaan logika dan atau cara berpikir itulah yang menjadikan kehidupan ini menjadi lambat dan bahkan berjalan di tempat.
Dalam kehidupan binatang kita bisa membandingkan antara singa dan kepiting. Perbandingan itu terasa kontras atau berlebih-lebihan, tetapi tidak mengapa agar terasa jelas. Singa sekalipun harus menangkap mangsa yang mampu berlari kencang, ---misalnya rusa, usahanya tetap berhasil oleh karena, ia mampu menghilangkan berbagai hambatan yang ada pada dirinya. Sebaliknya adalah kepiting, sekalipun memiliki banyak kaki, ternyata jalannya justru menjadi lambat, oleh karena persoalan banyak kakinya itu. Bangsa ini, agar berkembang cepat, baik terkait ekonomi, pendidikan, dan lain-lain, maka harus berani meniru cara berlarinya singa dan jangan meniru kepiting. Apa saja yang ada pada dirinya dan ternyata menghambat maka harus segera diubah. Wallahu a'lam



