Pesantren Teknologi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 10 Mei 2016 . in Dosen . 3076 views

Dulu menyebut pesantren teknologi terasa aneh. Sebutan pesantren selalu identik dengan kitab kuning, Bahasa Arab, dan hidup penuh dengan keprihatinan di lembaga pendidikan yang didirikan oleh kyai. Namun sekarang ini sudah mulai berubah. Sudah mulai ada sebutan pesantren teknologi yang dibangun oleh Kyai. Pesantren dimaksud, selain memelihara ciri khasnya, yakni mempelajari kitab kuning, juga berusaha mengembangkan teknologi, di antaranya adalah pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh, yang beralamat di Jl. Semeru, Kepanjen.

Sebagaimana pesantren pada umumnya, di lembaga pendidikan Islam bernama Pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh terdapat masjid, rumah kyai, tempat tinggal santri, dan tempat belajar. Sehari-hari kegiatannya serupa dengan pesantren pada umumnya. Para santri mengaji al Qur'an, mempelajari kitab kuning, dan mengikuti bimbingan kyainya melakukan berbagai jenis kegiatan ritual. Hal yang membedakankannya dari pesantren dahulu pada umumnya adalah bahwa di lembaga pendidikan Islam itu dilengkapi dengan jenis pendidikan tingkat menengah, yaitu SMK Industri.

Tradisi pesantren yang dikombinasikan dengan lembaga pendidikan umum berjenis ketrampilan itu terasa ideal. Siapa saja yang belajar di tempat itu diajak memahami agamanya secara mendalam, tetapi juga dibimbing untuk mengetahui tentang sanins dan teknologi. Jika pada akhir-akhir ini, banyak orang melengkapi lembaga pendidikannya dengan asrama atau boarding, maka sesungguhnya pesantren sejak lama sudah mengimplementasikannya. Dengan demikian, ketika pesantren menambah programnya dengan pendidikan sains dan teknologi, maka lembaga pendidikan itu terasa menjadi semakin sempurna.

Dahulu disebut-sebut bahwa lembaga pendidikan pesantren itu tertutup, yakni tidak semua orang dan jenis ilmu bisa dipelajari di tempat itu. Kesan tersebut sekarang ini sudah berubah. Di pesantren juga merekrut sarjana sains dan teknik untuk mengajari para santrinya. Di Pesantren Al Islamu Al- Ainul Baahiroh misalnya, khususnya yang mengajar sains dan industri adalah para lulusan perguruan tinggi yang mendalami berbagai cabang ilmu. Hanya saja, mereka yang diajak bergabung di lembaga pendidikan itu adalah orang yang sanggup beradaptasi dengan visi dan misi pesantren.

Sekalipun SMK Industri Al Kaffah yang berada di pesantren Al Islamu Al Ainul Baahiroh ini belum begitu lama, yaitu baru dimulai pada akhir tahun 2009, tetapi hasilnya sudah kelihatan sangat membanggakan. Para santri pondok pesantren ini sudah berhasil menciptakan berbagai jenis produk teknologi. Ketika beberapa waktu yang lalu bersillaturahmi ke pesantren itu, saya ditunjuki produk hasil kegiatan para santrinya, di antaranya adalah berupa beberapa jenis bola lampu listrik. Hasil produk para siswa SMK Industri al Kaffah atau santri pesantren tersebut, ternyata kualitasnya tidak kalah dibanding produk lainnya yang telah memiliki nama atau merk dan banyak dijual di pasaran.

Salah satu kelebihan bola lampu listrik buatan para santri, selain bertahan lebih lama, juga dalam ukuran yang sama ternyata lebih terang, dan juga memiliki ketahanan atau tidak akan pecah ketika terjatuh, misalnya. Para santri SMK Industri yang ada di pesantren ini rupanya berhasil memilih bahan yang lebih awet dan kuat. Menyaksikan prestasi dan karya-karya pesantren dimaksud, kiranya siapa saja, akan merasa senang. Dengan perkembangan itu, pesantren tidak lagi dikesankan sebagai lembaga pendidikan yang tertinggal dan orientasi lulusannya tidak jelas, melainkan justru sebaliknya. Pesantren yang demikian itu justru akan menjadi pelopor dalam menyelesaikan problem pendidikan ke depan.

Sudah lama, saya melihat berbagai potensi yang ada di pesantren, yang sebenarnya sangat mungkin dikembangkan. Bahkan banyak kelebihan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Kyai Shaleh, Pengasuh Pesantren Al-Islam Al Ainul Baahiroh, Kepanjen, ----dalam tulisan singkat ini, selain mengasuh santri, juga berternak binatang yang tidak terbiasa dilakukan oleh banyak orang, yaitu Harimau. Menurut pengakuannya, kyai Shaleh sekarang ini memiliki 13 ekor harimau, dan seekor di antaranya, berukuran cukup besar, diletakkan di lingkungan pesantrennya. Siapapun yang datang ke pesantren itu bisa melihatnya. Hadir di pesantren itu, siapapun kiranya akan senang. Dulu orang ke pesantren tatkala pulang diberi oleh-oleh berupa kitab dan atau hasil pertanian dari kebun atau sawahnya, maka kini dari pesantren akan diberi oleh-oleh, berupa produk teknologi yang dibuat oleh para santrinya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up