Menerima Tamu Pengurus Masjid AR Fachruddin
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 7 Juni 2016 . in Dosen . 1474 views

Sebelum menulis artikel ini, sepulang dari masjid di sebelah rumah, --shalat subuh berjama'ah, saya kedatangan tamu. Mereka bertiga mengendarai sepeda motor, kelihatan sebagai aktifis keagamaan kampus pada umumnya. Tanpa saya bertanya terlebih dahulu, mereka mengenalkan diri, sebagai pengurus Aktifis Masjid AR Fachruddin, Universitas Muhammadiyah Malang. Para mahasiswa yang tampak santun itu segera menyampaikan maksud kedatangannya.

Sebelum merespon apa yang disampaikan oleh mereka, saya memperkenalkan diri, bahwa saya cukup lama ikut mengembangkan kampus Universitas Muhammadiyah Malang. Saya bergabung mengembangkan kampus itu cukup lama, yaitu sejak tahun 1975 hingga tahun 1996. Mungkin, bahkan para pejabat kampus itu sudah tidak ada yang tahu tentang apa yang saya lakukan untuk perguruan tinggi Islam swasta terbesar itu . Sebab, mereka menjadi dosen dan hingga memimpin kampus itu, saya sudah lama berada di kampus itu, dan kemudian meninggalkannya.

Oleh karena mahasiswa dimaksud mengaku sebagai pengurus kegiatan masjid, saya perkenalkan tentang sedikit sejarah pembangunan Masjid AR Fachruddin. Pembangunan itu kira-kira berlangsung selama tiga tahun, yaitu mulai tahun 1993 hingga berakhir awal tahun 1996. Ketika itu, saya sendiri dipercaya sebagai ketua pembangunannya dan Mas Suyoto, sekarang sebagai Bupati Bojonegoro, sebagai sekretarisnya. Banyak orang mengatakan bahwa bangunan masjid itu tampak megah, indah, dan khas. Saya menjelaskan bahwa sebelum membuat gambar atau mendesain bangunan itu, beberapa orang saya kirim ke Malaysia untuk melihat di salah satu tempat terdapat bangunan masjid yang indah.

Sepulang dari Malaysia, mereka saya minta agar mendisain dengan meniru tetapi juga memodifikasi bangunan masjid yang baru dilihatnya, untuk menyesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Hasil dari desain atau perencanaan dimaksud adalah Masjid AR Fachruddin yang tampak sekarang ini. Ketika itu sebagai wakil Rektir I, yang selalu bertugas memimpin penerimaan mahasiswa baru, saya selalu mengaitkan tugas saya dengan pembangunan masjid. Sebelum penentuan lulus, para calon wali mahasiswa, saya undang untuk saya berikan penjelasan tentang pembangunan masjid dan kemudian mereka saya ajak memikul bersama-sama biaya yang diperlukan. Akhirnya, pembangunan masjid tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Maksud kedatangan mahasiswa pengurus aktifis Masjid AR Fachruddin ke rumah saya adalah mengharapkan saran, bagaimana memakmurkan masjid itu. Saya sampaikan bahwa memakmurkan masjid kampus sebenarnya tidak terlalu sulit. Masyarakat Indonesia, tidak terkecuali warga kampus, adalah lebih bersifat paternalistik. Apa yang mereka lakukan biasanya adalah meniru para pimpinannya. Oleh karena masjid itu berada di lingkungan kampus, maka yang dianggap sebagai pemimpinnya adalah Rektor, Wakil Rektor, para Dekan, dan semua pejabat yang setara dengan itu. Atas pertimbangan itu, saya sampaikan, cara yang paling tepat untuk memakmurkan masjid adalah memohon kepada Bapak Rektor agar berkenan menjadi kekuatan penggeraknya. Manakala Pak Rektor dan semua jajarannya pada setiap waktu shalat berkenan berjama'ah di Masjid, maka seluruh warga kampus akan mengikutinya. Akhirnya masjid kampus akan makmur dan atau menjadi semarak.

Selanjutnya saya juga menjelaskan bahwa, kehadiran perguruan tinggi Islam sebenarnya tidak saja berusaha menjadikan warga kampusnya semakin pintar, kaya ilmu, dan cerdas, tetapi juga menjadi semakin baik atau berakhlak mulia. Kecerdasan, kekayaan ilmu, dan kepintaran bisa dipupuk melalui ruang-ruang kuliah, laboratorium dan perpustakaan, sedangkan akhlaq mulia hanya bisa ditumbuh-kembangkan melalui kegiatan di masjid. Saya tambahkan bahwa, kegiatan akademik tidak terlalu banyak menyumbang pada upaya perbaikan akhlak. Buktinya, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang ternyata tidak ada jaminan pasti semakin jujur. Akhlak mulia selalu terbangun dari kegiatan berupa banyak berdzikir dan shalat. Selalu ingat Allah dan shalat khusu' itulah sebenarnya jalan menjadi orang yang berakhlak mulia.

Oleh karena itu, kegiatan akademik di ruang-ruang kuliah, di laboratorium, dan di perpustakaan harus disempurnakan dengan berbagai jenis kegiatan di masjid. Tanpa kegiatan di masjid, -----misalnya shalat, maka tidak mudah menghasilkan manusia utuh, yakni memiliki kecerdasan, kepintaran, kaya ilmu, dan sekaligus menjadi berakhak mulia. Oleh karena itu, saya sampaikan kepada mahasiswa yang datang ke rumah saya dimaksud, bahwa tugas meramaikan atau memakmurkan masjid adalah benar-benar sangat mulia. Tugas itu seharusnya ditunaikan sebaik-baiknya. Saya juga menyampaikan bahwa, tugas mulia itu tidak terlalu sulit dijalankan, dengan alasan, Rektor UMM sekarang, Pak Fauzan, sewaktu menjadi mahasiswa adalah juga aktifis kegiatan keagamaan. Saya mengetahui, beliau adalah Pimpinan IMM. Maka, insya Allah, usaha ini mudah dilaksanakan dan berhasil. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up