Sejak lama saya berpikir, umpama pendidikan Islam mampu menjadikan para siswanya berpandangan dan bersikap, yaitu menomor satukan al Qur'an dibanding lainnya adalah merupakan sesuatu yang benar dan tepat. Saya berkeyakinan bahwa cita-cita itu sebenarnya juga dimiliki oleh banyak orang lainnya. Namun dalam praktek, ternyata tidak selalu demikian. Orang justru lebih memburu jenis ilmu lainnya, dan bahkan melupakan kitab suci sebagai sumber keselamatan, kebahagian, dan kedamaian hidup secara sempurna.
Islam mengajarkan tentang kehidupan di dalam perspektif yang jauh dan panjang. Hidup bukan saja akan dialami di dunia ini, melainkan yang lebih lama dan bahkan tidak berkesudahan adalah di akherat kelak. Dunia artinya adalah sebenar. Orang jawa memaknainya dengan mengatakan sekedar mampir atau singgah, dan bahkan singgah yang dimaksudkan itu hanya untuk minum. Ungkapan itu sebenarnya untuk menggambarkan bahwa hidup ini memang benar-benar tidak lama. Seseorang yang berusia hingga 80 tahun ke atas ternyata tidak banyak. Sebelum mencapai umur itu, kebanyakan orang sudah meninggal.
Namun untuk meraih kebahagiaan dari umur yang pendek itu ternyata oleh kebanyakan orang, diusahakan dengan berbagai cara yang kadang hingga berlebihan. Mencari ilmu misalnya, dikaitkan dengan harta atau kekayaan. Yaitu, agar kelak menjadi kaya atau agar diakui orang lain, memperoleh posisi penting di tengah masyarakat, dan seterusnya. Juga banyak orang mendirikan berbagai jenis lembaga pendidikan, sekedar dikaitkan dengan lapangan pekerjaan yang menjanjikan. Tentu semua itu tidak keliru asalkan dimaksudkan untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan dalam perspektif yang panjang sebagaimana dimaksudkan di muka.
Manakala kehidupan itu diyakini memiliki perspektif yang jauh dan panjang, seharusnya tidak mengabaikan pesan kitab suci. Namun pada kenyataannya, masih belum banyak lembaga pendidikan yang hingga berhasil mengenalkan anak didiknya terhadap kitab suci. Mereka mengejar kekayaan ilmu pengetahuan yang dipandang mampu menyelamatkan dan membahagiakan hidupnya di dunia. Padahal, kenyataannya yang dikejar juga tidak selalu diraihnya. Setelah menjadi kaya, pintar, dan terpandang di tengah masyarakat ternyata pikiran dan hatinya juga masih galau, tidak pernah merasa puas, dan mampu bersyukur, bahkan pengetahuannya juga tidak selalu berhasil memahami tentang kehidupannya sendiri. Ilmu yang diperoleh bukan untuk memberi petunjuk masa depan dalam perspektif yang jauh, melainkan hanya sekedar menyelesaikan persoalan dekat dan lagi pula belum tentu memuaskan dirinya sendiri.
Al Qur'an menjelaskan tentang arti kehidupan yang seharusnya dijalani oleh siapapun. Kitab suci itu memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang hidup dan kehidupan, baik menyangkut tentang siapa Tuhan yang seharusnya disembah, utusan-Nya, manusia dan sifat-sifatnya, alam, dan keselamatan dan kebahagiaan itu sendiri. Apa saja yang disampaikan oleh al Qur'an tidak akan bisa diperoleh melalui jalan apapun oleh kekuatan nalar dan indera manusia. Oleh karena itu, jika kitab suci ini tidak dipelajari, maka siapapun tidak akan mengetahui tentang hakekat hidup dan kehidupan itu sendiri.
Oleh karena itu, manakala pendidikan, ----apalagi pendidikan Islam, masih gagal mengenalkan al Qur'an kepada para peserta didiknya, maka apa yang diusahakan itu sebenarnya masih gagal. Setelah menyelesaikan pendidikan Islam pada jenjang tertentu, seharusnya mereka berhasil mencintai, memahami, dan mampu menjadikan kitab suci dimaksud sebagai petunjuk jalan hidupnya. Namun sayang, bahwa yang terlihat selama ini, masih banyak lembaga pendidikan Islam melupakan atau melewatkan yang sebenarnya justru menjadi pokok, ialah al Qur'an. Akibatnya, setelah lulus pun, mereka tidak tampak selalu dekat dan mencintai kitab suci. Al Qur'an sebagai sumber ilmu ini ternyata kurang dipedulikan, dan sebaliknya, berpaling untuk mencari sumber lain. Padahal yang dimaksudkan sebagai yang lain itu tidak selalu jelas dan memenuhi kebutuhan hidup yang sebenarnya. Untuk pendidikan islam pada jenjang apapun, Qur'an seharusnya dinomor satukan. Wallahu a'lam



