Pendidikan Dan Pancasila
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 3 Juni 2016 . in Dosen . 1722 views

Bangsa Indonesia memiliki falsafah hidup yang digali dari nilai-nilai kepribadian dan sejarahnya sendiri, yaitu Pancasila. Melalui falsafah berbangsa dan bernegara itu maka bangsa Indonesia bertahan dan berkembang. Sekalipun terdiri atas berbagai jenis suku, bahasa daerah, adat istiadat, dan juga agama yang berbeda-beda, tetapi semuanya hidup bersama dan saling menghormati satu dengan lain.

Namun pada akhir-akhir ini, banyak pihak dikejutkan oleh peristiwa yang menyedihkan, terutama terkait dengan pendidikan. Peristiwa itu misalnya ada orang tua yang sampai hati mengkriminalkan guru yang sehari-hari mengajar anaknya, dan bahkan terakhir ada orang tua siswa mencukur rambut seorang guru anaknya sebagai balas dendam. Berita yang demikian itu tentu sangat memprihatinkan, seolah-olah guru dianggap sebagai pegawai atau penjual jasa biasa, sehingga jika pelayanan yang diberikan tidak menyenangkan patut dihukum.

Hal tersebut sebenarnya bukan merupakan kepribadian bangsa Indonesia, apapun suku, agama dan adat istiadatnya. Bangsa Indonesia pada umumnya adalah sangat menghormati orang tua dan juga guru. Sejak zaman dahulu, mereka yang disebut guru, ustadz, kyai, romo, pendeta, dan sejenisnya selalu sangat dihormati dan diposisikan pada tempat yang mulia. Siapapun tidak boleh memperlakukan mereka dengan semena-mena. Guru adalah sosok yang harus ditauladani dan didengarkan petuahnya.

Bahkan di dunia pesantren, sehari-hari para santri terhadap ustadz dan apalagi kyainya sedemikian hormat. Dalam kehidupan pesantren terdapat konsep yang mengatur hubungan antara santri dan kyai. Konsep dimaksud misalnya, bahwa santri harus tawadhu', tha'at sebagai jalan mendapatkan ridha dan berkah dari kyainya. Para santri dalam mencari ilmu harus selektif, yaitu ilmu yang bermanfaat. Mereka menganggap bahwa ilmu yang akan diperoleh dari ustadz dan kyai tidak akan membawa manfaat jika tidak dibangun sikap tawadhu' dan tha'at dimaksud.

Pesantren adalah termasuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan yang telah diimplementasikan dan nyata-nyata berhasil mengantarkan para santrinya menjadi pribadi yang baik, seharusnya menjadi pedoman di berbagai lembaga pendidikan. Di pesantren tidak pernah terdengar ada santri sampai berani dan melawan ustadz dan kyainya, dan apalagi mengkriminalkannya.

Para santri di pesantren pada umumnya, mereka datang ke lembaga pendidikan itu adalah untuk mencari ilmu dan akhlaknya agar supaya menjadi baik. Para ustadz dan kyai dipandang sebagai sosok yang berilmu dan seharusnya ditaladani. Mereka mengajar bukan karena uang atau upah, melainkan didasari oleh kecintaannya terhadap ilmu, kecintaannya kepada agama, dan kepada generasi mendatang agar kehidupan mereka terpelihara dengan sebaik-baiknya.

Kiranya hubungan yang indah antara guru dan murid itu tidak saja dapat ditemukan di pesantren, tetapi juga di berbagai jenis lembaga pendidikan berbasis agama lainnya, seperti di agama Kristen, Katholik, Budha, Hindu dengan istilah ataui konsep yang berbeda-beda. Mendasarkan pada Pancasila, kiranya nilai-nilai mulia yang telah dijalankan di berbagai lembaga pendidikan yang berbasis agama dimaksud seharusnya diimplementasikan di lembaga pendidikan pada umumnya.

Kiranya boleh-boleh saja, mengambil nilai-nilai pendidikan dari manapun asal-muasalnya, tetapi tidak selayaknya meninggalkan apa yang sudah lama dimiliki oleh bangsanya sendiri. Konsep kebebasan, keterbukaan, dan apa saja yang diperoleh dari bangsa lain, yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dipelihara, maka tidak perlu diikuti.

Bangsa Indonesia seharusnya tetap menjadi bangsa Indonesia, termasuk dalam hal mendidik putra-putrinya. Pendidikan yang dijalankan dengan pendekatan transaksional, mengedepankan kebebasan, kompetisi berlebihan, terlalu menjunjung tinggi rasio atau akal tetapi melupakan rasa, dan sejenisnya, maka tidak perlu menjadi kebanggaan lalu diikuti, apalagi sudah terbukti melahirkan generasi yang tidak mampu menghormati orang tua dan guru. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up