Keberadaan Kelompok Kultural Di Perguruan Tinggi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 22 Juli 2016 . in Dosen . 2145 views

Banyak orang berbicara tentang multi kultural dan dianggapnya baik serta menguntungkan. Bermacam-macam kultur yang ada pada suatu komunitas menjadikannya bersifat dinamis dan membuahkan kemajuan. Masyarakat yang bersifat homogin, serba seragam atau apalagi sama, maka akan menjadi stagnan. Itulah sebabnya, orang yang bermobilitas tinggi biasanya lebih dinamis oleh karena mereka melihat kenyataan kehidupan yang bermacam-macam sehingga atas dasar pengalamannya itu melahirkan semangat untuk berubah dan maju.

Perbedaan kultur juga ada di perguruan tinggi. Sekalipun masyarakat perguruan tinggi dituntut lebih terbuka dan rasional, ternyata juga masih banyak yang mengedepankan kekuatan kultural itu. Kekuatan kultural yang dimaksud adalah pengelompokkan yang mendasarkan pada asal usul daerah kelahiran, aliran idiologi, dan kepentingan lainnya. Hal demikian itu, sebenarnya penting sebagai wadah atau sarana berkomunikasi, tetapi kadang juga menjadi faktor pengganggu terhadap misi utama perguruan tinggi. Pengelompokkan kultural itu ternyata kebanyakan tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi berbasis agama.

Keberadaan kelompok kultural di lingkungan perguruan tinggi berbasis agama, Islam misalnya, sangat berpengaruh, terutama tatkala terjadi pergantian kepemimpinan di kampus itu. Adanya kelompok-kelompok kultural itu, masyarakat kampus menjadi terbelah atau terbagi-bagi. Berbedaan kultural bukan dimaksudkan sebagai sarana untuk menjadikan di antara mereka saling mengenal, melainkan untuk bersaing mendapatkan kemenangan.

Suasana berebut kemenangan antar kelompok itu menjadikan masyarakat kampus tidak lagi mengedepankan kepentingan pengembangan ilmu, melainkan lebih banyak untuk idiologi atau kepentingan masing-masing kelompoknya. Sifat subyekltifitas, irrasional, suasana menang kalah, dan tertutup justru mewarnai kehidupan warga kampus. Padahal perguruan tinggi, sebagai lembaga ilmiah, justru seharusnya mengembangkan sifat terbuka, obyektif, rasional, dan benar atau salah, dan bukan menang atau kalah. Keberadaan kelompok-kelompok kulturan dimaksud tampak sederhana, tetapi sebenarnya mengganggu tumbuhnya suasana yang diperlukan sebagai ciri khas perguruan tinggi.

Betapa nuansa akademik tidak teruntungkan tatkala kelompok-kelompok kultural di kampus menguat, adalah misalnya ketika terjadi proses pemilihan kepemimpinan. Seharusnya memilih pemimpin kampus mempertimbangkan kemampuan keilmuan, manajerial, leadership, visi yang akan dikembangkan, integritas, kemampuan membangun jaringan kerjasama, dan lain lain, yang semuanya itu mendasarkan pada pertimbangkan yang bersifat rasional. Namun oleh karena adanya kelompok kultural dimaksud, semua pertimbangan yang seharusnya dijadikan pegangan yang bersifat rasional itu akan diabaikan dan justru berpaling kepada kepentingan subyektif idiologis kelompok yang ada itu.

Adanya dan apalagi menguatnya kelompok kultural dimaksud menjadikan seseorang yang sebenarnya tidak memiliki kopentensi dan pengalaman kepemimpinan bisa jadi terpilih menduduki posisi penting di kampus itu. Maka bisa dibayangkan, bagaimana lembaga akademik dipimpin dan diurus oleh orang yang tidak paham dengan dunia akademik. Kelompok yang memenangkan kompetsisi itu menang tetapi sebenarnya sekaligus juga mengalahkan misi atau kepentingan sebenarnya kampus yang bersangkutan. Memang proses yang digambarkan tersebut tidak selalu membuahkan kepemimpinan yang tidak tepat, tetapi resiko subyektifitas dan irrasional akan lebih besar atas keberadaan kelompok-kelompok kultural dimaksud.

Sudah lama dirasakan terjadi banyaknya konflik, persaingan yang tidak sehat, kurang mengedepankan prestasi akademik di lingkungan perguruan tinggi yang berbasis agama adalah bersumber dari adanya kelompok-kelompok kultural itu. Menghilangkannya ternyata tidak mudah, oleh karena keberadaannya juga diperlukan oleh orang atau pihak-pihak tertentu yang memang tidak memiliki kelebihan lain, kecuali harus menggalang kekuatan kultural itu. Manakala seseorang pada dirinya telah memiliki kepercayaan dan modal kemampuan sendiri untuk berkompetisi, biasanya tidak tertarik memobilisasi kekuatan kultural dimaksud. Oleh karena itu, cara menghilangkan atau setidaknya mengurangi kekuatan kultural tersebut adalah memacu prestasi akademik setiap warga kampus. Jika mereka telah merasa yakin telah memiliki kekuatan pada dirinya, maka semangat berkelompok yang bersifat tidak ilmiah tersebut akan ditinggalkan dengan sendirinya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up