Prof. A. Malik fadjar, mantan menteri agama dan kemudian juga menjadi Menteri Pendidikan nasional, seingat saya sejak lama, selalu menyampaikan pandangannya bahwa agar dalam melaksanakan pendidikan selalu menyesuaikan dengan tuntutan zamannya. Pandangan beliau itu mendasarkan pada apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thlaib, seorang sahabat Rasulullah, Muhammad saw. Selain itu, Prof. A Malik Fadjar juga menyampaikan, agar dalam mengelola pendidikan selalu melakukan change, growth, and reform.
Pendangan beliau tersebut disampaikan secara berulang-ulang, tanpa lelah dan mengenal henti. Mungkin beliau juga mengetahui bahwa banyak orang sudah mendengarkan pandangannya itu hingga berpuluh-puluh kali. Mungkin saja di antara orang yang mendengarkannya sudah bosan, tetapi Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang yang menjabat hingga beberapa periode tersebut tidak merasakan yang demikian itu. Seolah-olah beliau tidak perduli bahwa apa yang disampaikannya itu sebenarnya sudah dihafal oleh banyak orang.
Penyampaian pandangan yang sama secara berulang-ulang, hingga seingat saya, sudah lebih dari 20 tahun, saya maknai bahwa beliau menganggap perubahan pendekatan pendidikan itu sedemikian pentingnya untuk menyesuaikan dengan tuntutan atau kebutuhan zamannya. Setiap mendengarkan pandangannya itu, terkesan seakan-akan beliau mau teriak, bahwa dalam mendidik generasi yang berbeda jangan dilakukan secara sama. Beliau mengingatkan bahwa zaman selalu berubah, oleh karena itu cara mendidik pun juga harus berubah menyesuaikan dengan perubahan itu.
Namun demikian, pesan yang disampaikan oleh Prof. A. Malik Fadjar yang berulang-ulang hingga bertahun-tahun tersebut, oleh karena melakukan perubahan dirasakan tidak mudah, maka pesan dimaksud terasa masih selalu relevan. Kita melihat misalnya, sejak bertahun-tahun pemikiran pendidikan hanya di seputar kurikulum, buku teks, ujian masuk, biaya pendidikan, evaluasi hasil pendidikan dan sejenisnya. Sekalipun semua pihak menyadari, bahwa akibat kemajuan tekologi dan informasi berdampak pada kehidupan masyarakat dari berbagai aspeknya tetapi ternyata para pengambil kebijakan untuk mengubah pendekatan dalam pendidikan tidak selalu tampak dengan jelas. Dari tahun ke tahun yang diperbincangkan masih saja sama, dan jika hal itu berubah hanya menyangkut sesuatu yang sangat elementer, misalnya, penyebutan murid diubah menjadi peserta didik, dan sejenisnya.
Masyarakat yang hidup di zaman sekarang ini sudah jauh berubah dibanding sepuluh dan apalagi dua puluh tahun yang lalu. Mereka yang dahulu pergi ke mana-mana hanya berjalan kaki, sekarang sudah naik sepeda motor. Mereka yang dulu hanya menggunakan sepeda motor, sekarang sudah menggunakan mobil, dan atgau bahkan ke mana-mana naik pesawat terbang. Dua puluh tahun yang lalu, untuk menyampaikan berita, orang harus berlari-lari untuk menghubungi siapa saja yang membutuhkannya. Sekarang ini, hampir semua orang sudah memiliki HP, dan bahkan internet, WA , komputer canggih, sehingga semua itu mengakibatkan lalu lintas informasi bagaikan banjir. Namun perubahan yang amat dahsyat itu, ternyata belum sepenuhnya diikuti oleh cara guru dalam mengajar atau mendidik terhadap para siswa di berbagai jenjangnya.
Sebagai akibat kemajuan teknologi dan informasi pula, maka hubungan antar orang semakinj renggang atau jauh. Di antara sesama, sekalipun sedang berada di tempat yang sama, melalui HP, masing-masing berkomunikasi dengan orang yang tidak berada di tempat itu. Pagar rumah sama-sama ditinggikan, sehingga antar tetangga tidak mudah berkomunikiasi dan tidak saling mengenal. Sebagai akibat kesibukan masing-masing, jangankan antar tetangga, bahkan mereka yang bertempat tinggal di satu rumah saja tidak selalu saling bertemu. Melihat kenyataan itu, seharusnya pendidikan memberikan solusi, yaitu memberikan bekal, bagaimana mengatasi problem kemanusiaan yang bercirikan semakin menyendiri di tengah keramain itu. Upaya mendekatkan antar anak-anak yang semakin sulit berinteraksi dan atau berkomunikasi melalui pendidikan adalah juga menjadi sangat penting.
Di zaman modern seperti sekarang ini, selalu dijelaskan bahwa, keberhasilan hidup di antaranya, adalah harus berbekalkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama. Akan tetapi sekolah masih saja mengikuti cara-cara lama, melarang para siswanya bekerjasama. Jenis soal-soal ujian yang sebenarnya hanya relevan tatkala dulu informasi masih terbatas, yakni dengan menggunakan pilihan berganda, ternyata masih saja digunakan pada saat informasi sudah membanjir seperti sekarang ini. Larangan bekerjasama dalam mengerjakan soal ujian, seharusnya di zaman seperti sekarang ini, justru diubah total, yaitu menjadi keharusan. Sebab, sebagaimana dikemukakan di muka, bahwa di zaman yang terbuka seperti sekarang ini, kerjasama justru dianggap baik dan merupakan keharusan. Maka pertanyaannya, mengapa bekerjasama dalam ujian masih dilarang. Bukankah seharusnya, hal itu justru didorong agar budaya kerjasama semakin tumbuh dan berkembang pada jiwa setiap murid.
Dengan menghargai nilai kerjasama maka setiap anak akan terdorong dan bersemangat untuk saling mendekat dan bukan sebaliknya. Teman menjadi amat penting, dan karena itu mereka akan dicari. Akan tetapi sebaliknya, ketika ada larangan untuk bekerjasama, dan masih ditambah lagi dengan ditumbuh-kembangkan suasana berkompetisi yang berlebihan, maka antar teman dianggap kompetitor dan bahkan secara tidak sengaja, menjadi musuhnya. Tentu sebagai guru, yang sehari-hari bertugas mengajar, pasti memiliki cara tersendiri untuk mengevaluasi kempuan masing-masing muridnya tatkala mereka sedang bekerjasama itu.
Saya yakin seyakin-yakinnya, jika para guru diberi peluang untuk mencari sendiri cara-cara terbaik dalam mengajar, memilih apa yang seharusnya diajarkan, sekedar mengetahui di antara siswanya yang cerdas dan tidak, antara yang pintar dan tidak, dan sejenisnya, maka mereka akan menganggap bahwa perubahan yang sedemikian penting itu bukan perkara sulit. Persoalannya adalah jika para guru saja belum sepenuhnya dipercaya dan diberi peluang mencari pendekatan terbaik, dan sebaliknya justru masih dianggap perlu untuk dituntun-tuntun, maka janganlah berharap, perubahan dalam rangka menjawab tantangan zaman secara tepat akan terjadi. Maka pantas saja, Prof. A. Mailk Fadjar, tidak pernah bosan menyerukan perlunya perubahan, hingga dilakukan secara terus menerus tanpa mengenal henti. Wallahu a'lam



