Biaya Dan Resiko Memenuhi Kehendak Nafsu
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 29 Agustus 2016 . in Dosen . 2984 views

Umpama hidup ini dijalani dengan sederhana dan atau secukupnya, sebenarnya tidak mahal dan juga tidak sulit. Kebutuhan hidup itu sebenarnya tidak banyak, apalagi sekedar yang bersifat primer, seperti makan, minum, pakaian, perumahan, dan sejenisnya. Namun manusia selalu didorong oleh nafsunya untuk memenuhi kebutuhan di luar yang sekedar diperlukan, dan bahkan menghendaki serba berlebih-lebihan, mulai menumpuk harta, menjadi berkuasa, menang dan unggul dari yang lain, tidak mau berkekurangan, dan lain-lain.

Usaha memenuhi kebutuhan sekunder itulah yang menjadikan beban hidup seseorang semakin mahal dan tidak mudah dipenuhi. Seseorang yang sebenarnya hanya memerlukan rumah satu, tetapi oleh karena dorongan nafsu, masih berkeinginan menambah menjadi dua, tiga, empat, dan seterusnya. Sebenarnya memiliki satu mobil sudah cukup, namun oleh karena teman atau tetangganya memiliki mobil dua, maka terdorong untuk menyaingi, agar dianggap tidak kalah. Memang salah satu ciri manusia adalah tidak mau kesaingan oleh siapapun.

Dorongan nafsu tersebut, menjadikan orang mau saja bekerja keras mencari harta dan atau kekayaan sebanyak-banyaknya sekalipun belum tentu akan digunakan atau bermanfaat bagi dirinya. Seseorang uangnyanya sudah milyardan, tetapi masih merasa kurang. Hartanya sudah melimpah tetapi juga tidak mau berhenti mencarinya. Jabatan dan atau gelarnya sudah berada di puncak tangga, tetapi masih berkeinginan untuk bertahan dan jika mungkin, maka berusaha menambahnya, atau paling tidak bertahan pada posisinya itu.

Hanya sekedar memenuhi dorongan nafsunya, maka seseorang tidak peduli dengan harga mahal, sulit didapat, dan bahkan harus mengorbankan orang banyak. Kekayaan Bangsa Indonesia ini sebenarnya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya sudah tidak kekurangan lagi. Kekayaan bangsa dan negara ini melimpah, berbagai jenis tambang apa saja tersedia, kekayaan berupa hutan, laut, tanah yang subur, dan luas hingga semuanya tidak terhitung. Sekalipun demikian rakyatnya masih banyak yang miskin dan menganggur.

Kedaan tersebut jika diperhatikan secara saksama adalah oleh karena adanya orang-orang yang tidak mampu menahan dorongan hawa nafsunya. Mereka itu menguasai sumber-sumber ekonomi secara berlebihan. Kekayaan mereka tidak terhitung jumlahnya. Namun sayangnya masih miskin hati, sehingga tidak memiliki perhatian terhadap orang lain. Sekalipun kekayaannya itu sudah tidak akan habis hingga sampai keturunan berapapun, tetapi masih sibuk mencari tambahan lagi tanpa merasa lelah. Umurnya hanya digunakan untuk mengumpulkan harta demi memenuhi dorongan hawa nafsunya itu.

Nafsu pada diri manusia tidak saja mendorong untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi juga ingin berkuasa setinggi dan seluas-luasnya. Selain itu, manusia juga tidak mau kalah dan atau diungguli oleh siapapun. Oleh karena itu, hartanya yang melimpah digunakan untuk memenuhi dorongan nafsu lainnya itu. Kekayaannya yang melimpah akan digunakan untuk mendapatkan kekuasaan dan keunggulan lainnya. Manusia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Untuk membiayai berbagai dorongan nafsu tersebut tidak terhitung jumlahnya.

Namun tidak berarti bahwa setelah berbagai keinginannya terpenuhi kemudian mereka merasa puas dan bahagia. Kepuasan dan kebahagiaan justru tidak akan dirasakan setelah semua nafsunya terpenuhi. Bahkan sebaliknya, mereka akan merasa khawatir dan takut manakala semua hal yang telah ada pada dirinya itu berkurang dan bahkan hilang. Oleh karena itu, semakin nafsunya terpenuhi, yaitu hartanya melimpah dan kekuasaannya berhasil diraih, mereka justru merasakan kekahwatiran dan ketakutan. Namun mereka juga tidak berhenti berpikir dan bekerja untuk menambah apa yang telah dimiliki dan diraihnya.

Nafsu memang benar-benar menyiksa kepada siapa saja yang berusaha menuruti kehendaknya. Dikiranya mengikuti hawa nafsu akan mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan, namun ternyata justru penderitaan yang diperoleh. Resiko yang demikian itu sebenarnya sudah dimengerti oleh siapa saja. Sebab, betapa banyak orang yang setelah meraih kekayaan, kekuasaan, pengaruh, dan lain-lain, tetapi ternyata justru berakhir dengan penderitaan. Sekedar mengikuti dorongan hawa nafsu, seseorang hingga tergelincir masuk penjara. Memenuhi dorongan dan kehendak nafsu, ternyata beresiko dan berbiaya mahal. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up