Ekonomi itu bagaikan air, harus mengalir dan merata ke semua orang. Umpama ekonomi hanya berada pada sekelompok tertentu, dan sebagian besar orang lainnya tidak mendapatkan bagian, sebagaimana air yang dibuntu, maka tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Usaha ekonomi akan berhenti, atau paling tidak akan berjalan lambat. Oleh karena itu, al Qur'an juga mengingatkan agar ekonomi atau harta tidak berputar hanya pada sekelompok tertentu.
Kapitalisme sebagaimana yang berkembang sekarang ini, menjadikan sekelompok orang dalam jumlah terbatas menguasai ekonomi dalam jumlah yang tidak terbatas. Sementara lainnya, justru dalam jumlah besar, tidak mendapatkannya. Mereka yang tidak mendapatkannya itu hidup miskin dan tidak memiliki kekuatan untuk mendapatkan barang yang diproduk oleh pemilik modal. Akibatnya, barang tidak terjual. Mereka tidak membeli sesuatu bukan oleh karena tidak memiliki minat atau keinginan memilikinya, tetapi semata-mata oleh karena tidak memiliki kemampuan untuk membelinya.
Sebagai contoh sederhana, akibat ekonomi tidak merata, kerajinan meubel saja tidak berjalan lancar. Masyarakat bukan tidak menyukai produk meubel dimaksud, tetapi tidak membeli oleh karena tidak memiliki uang. Akibatnya, produk meubel tidak laku, kecuali dalam jumlah terbatas. Perusahaan menjadi tidak berjalan lancar. Selain itu, oleh karena untung perusahaan kecil, maka jumlah dan gaji karyawan juga terbatas. Perusahaan meubel itu tidak mampu merekrut tenaga kerja dalam jumlah banyak.
Akibat lainnya, kebutuhan kayu, cat, pelitur, dan bahkan mobil pengangkut yang dibutuhkan oleh perusahaan meubel tersebut juga akan terbatas. Berbagai bahan baku meubel yang seharusnya dibutuhkan terpaksa tidak dibeli. Dampak selanjutnya, berbagai pedagang yang terkait dengan perusahaan dimaksud tidak berjalan lancar pula. Akhirnya silahkan dibandingkan, umpama masyarakat memiliki kekuatan membeli produk meubel. Produk perusahaan dan berbagai jenis bahan meubel akan laku. Pekerja akan direkrut dalam jumlah banyak. Selain itu, berbagai macam pekerjaan yang terkait dengan produksi, pemasaran, dan lainnya akan semakin berkembang. Dengan demikian dari sektor meubel saja akan membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah amat banyak.
Tentu, masyarakat bukan hanya memerlukan meubel, tetapi juga berbagai macam produk lainnya. Akan tetapi, oleh karena hampir semua kebutuhan diproduk oleh pihak tertentu, yakni para pemilik kapital yang jumlahnya terbatas, maka keuntungan juga hanya akan terkonsentrasi pada sedikit orang tersebut. Akibatnya, kekayaan hanya berada pada sedikit orang, sedangkan dalam jumlah besar lainnya hanya menjadi konsumen tetapi belum tentu memiliki pendapatan yang memadai atau sekedar cukup. Dengan keadaan seperti itu, apa saja yang diproduksi, apalagi berharga mahal, tidak akan bisa dibeli. Ekonomi menjadi berjalan lambat.
Akhirnya, kapitalisme akan menyiksa orang banyak. Ekonomi tidak berjalan sebagaimana mestinya, banyak kredit macet, pengangguran selalu bertambah, daya beli masyarakat lemah, dan tentu masih terdapat berbagai jenis resiko lainnya. Oleh karena itu, kapitalisme sebagai induk dari tumbuh suburnya monopoli, hanya akan menyengsarakan banyak orang. Lebih berbahaya lagi jika pemilik kapital itu berkoalisi dengan penguasa, atau sekaligus juga menjadi penguasanya. Ekonomi dan kekuasaan yang terakumulasi pada seseorang atau sekelompok orang akan menjadi penjajah baru. Siapapun akan dikuasai dan berkemungkinan ditindas dalam berbagai caranya.
Ekonomi kerakyatan tidak atau sulit berkembang sebenarnya bukan semata-mata oleh karena rakyat tidak berpendidikan dan atau miskin ketrampilan, tetapi sebenarnya disebabkan oleh tekanan para kapitalis atau pemilik modal itu. Rakyat tentu, tidak berdaya ketika harus bersaing melawan kekuatan besar. Apa saja yang diusahakan dan atau diproduksi tidak laku dijual oleh karena harganya pasti lebih mahal dan berkualitas lebih rendah. Sebenarnya masih ada cara yang bisa dilakukan oleh rakyat untuk bersaing dengan pemodal besar, yaitu membangun barisan, bagaikan pasukan semut. Mereka bersatu memproduk barang dan sekaligus juga menjadi pasar. Namun usaha itu tidak akan mudah dilakukan oleh karena mereka harus bersatu. Sementara itu mempersatukan orang, tidak terkecuali orang yang sedang menderita atau tertindas, bukan perkara mudah. Maka, kekalahan dan penderitaan itu pasti berlangsung lama. Wallahu a'lam



