Memimpin Dan Mengatur Manusia
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 31 Agustus 2016 . in Dosen . 2564 views

Sekalipun manusia memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk hidup lainnya, yaitu akal dan hati, tetapi memimpin dan mengaturnya tidak mudah. Betapa banyak teori kepemimpinan dan juga prinsip-prinsip manajemen yang telah dikenali, tetapi tidak selalu berhasil diimplementasikan di tempat dan pada waktu yang berbeda. Keberhasilan dalam menjalankan kepemimpinan dan managerial pada komunitas tertentu, tidak selalu bisa ditiru oleh orang lain pada tempat dan saat yang berbeda.

Betapapun pengalaman dan teori tetap penting, namun hal yang perlu disadari bahwa tidak semua teori bisa diimplementasi pada tempat, obyek, dan waktu yang berbeda. Bahkan, seseorang sukses memimpin pada satu komunitas ternyata belum tentu juga berhasil ketika memimpin pada komunitas lain yang berbeda. Keberhasilan memimpin tidak saja tergantung pada cara memimpjn, siapa yang dipimpin, kapan kepemimpinan itu dilaksanakan tetapi masih terdapat variabel lain lagi yang berpengaruh, misalnya momentum saat kepemimpinan itu berlangung.

Memimpin dan mengatur orang tidak mudah, oleh karena faktor sifat manusia pada umumnyua yang dimpimpin itu. Ada ciri-ciri manusia yang menjadikan mereka tidak mudah dipimpin dan diatur. Misalnya, manusia memiliki sifat ingkar, bahkan terhadap Tuhannya sekalipun. Manakala kepada yang menciptakannya sendiri bersikap ingkar, maka apalagi terhadap sesamanya.

Banyak manusia beranggapan bahwa keberadaannya di dunia ini sebatas sebagai bagian peristiwa alam biasa. Mereka ada oleh karena kebetulan alamlah yang menjadikan mereka ada. Mereka tidak berpikir tentang asal kejadiannya, tugas dan kewajiban dalam menjalani kehidupan, dan kelak akan berlanjut pada kehidupan seperti apa. Hidup, mereka maknai sebagai hal sederhana, yakni sekedar dijalani, dinikmati, dan kelak akan mati. Diajak berbicara tentang Tuhan, tentang adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati, mereka tidak percaya. Itulah ingkar hingga terhadap Tuhannya sekalipun.

Manusia juga selalu lupa diri oleh karena semangat memperbanyak harta. Mereka menganggap bahwa harta harus dicari sebanyak-banyaknya, sekalipun belum tentu sanggup memanfaatkannya. Bagi mereka yang terpenting adalah memiliki harta yang banyak, tidak peduli orang lain berkekurangan, bahkan terganggu oleh olahnya itu. Mereka berpandangan bahwa dengan harta kekayaan yang melimpah, maka akan dihormati orang lain, dipandang hidupnya sukses, dan tidak akan mengalami penderitaan. Orang seperti itu, sudah barang tentu tidak mudah dipimpin dan diatur, sebaliknya justru mereka berkehendak mengatur agar memperfoleh keuntungan lebih banyak lagi.

Manusia juga memiliki ciri, yaitu sangat sedikit yang mampu bersyukur. Diberi apa saja serba kurang atau juga tidak merasa diberi. Apa yang diperolehnya dirasakan serba kurang atau tidak mencukupi. Mereka selalu mengeluh, tatkala ditimpa kesulitas menggerutu, dan ketika memperoleh kebaikan atau keuntungan, justru bakhil. Oleh karena itu, kepedulian terhadap orang lain bukan selalu dimiliki oleh orang kaya. Sebaliknya, orang yang berkekurangan justru mampu memberi perhatian pada sesama. Memimpin dan mengatur orang yang tidak mampu bersyukur, tentu bukan perkara mudah.

Selain itu manusia juga memiliki sifat pantang kelintasan, pantang berkekurangan, pantang kerendahan, dan pantang dikalahkan. Atas sifat-sifat seperti itu, maka ketika mereka diberitahu atau dinasehati belum tentu menerimanya. Tatkala memperoleh nasehat atau petunjuk, maka dirinya merasa diungguli, dikalahkan, direndahkan, atau dianggap berkekurangan. Akibatnya, memimpin dan mengatur orang dan apalagi jumlahnya banyak maka menjadi bukan perkara mudah. Itulah sebabnya, banyak pemimpin dan manajer tidak selalu sukses dalam menunaikan tugasnya.

Hal yang menjadi catatan lagi bahwa kepintaran seseorang, atau latar belakang pendidikan tidak selalu linier dengan tingkat integritas ketika sedang diatur dan dipimpin. Artinya, orang yang pintar dan atau berpendidikan tinggi tidak selalu mudah diatur dan dipimpin. Bahkan sebaliknya, orang yang tidak pintar dan atau tidak berpendidikkan, ----sekalipun tidak selalu, justru lebih mudah diatur dan dipimpin. Hal demikian itu, disebabkan oleh sifat-sifat buruk manusia yang tidak dapat hilang hanya karena telah mengikuti pendidikan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up