Pekerjaan mendidik itu sebenarnya bisa disebut sederhana. Kegiatan itu semula hanya melibatkan dua pihak , yaitu guru dan murid. Jika ada guru yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas, sungguh-sungguh, dan istiqomah, dan juga ada murid yang memang menghendaki belajar dengan tekun, sabar, dan disiplin, maka hasinya akan maksimal. Namun hal sederhana itu, oleh karena kemudian melibatkan banyak pihak, maka menjadi terasa sulit. Dalam hal mencari cara mengajar saja harus berdiskusi panjang, dan bahkan sekedar untuk mengetahui apakah muridnya benar-benar telah pintar dan menguasai pelajaran, memerlukan waktu, energy, perdebatan, dan biaya yang mahal.
Pendidikan menjadi sesuatu yang rumit, bukan bersumber dari kegiatan belajar dan mengajarnya, tetapi justru terkait dengan hal lain di luar yang bersifat lebih substantif tersebut. Oleh karena tidak terlalu percaya kepada pekerjaan guru misalnya, maka dibuatlah cara-cara untuk mengontrol pekerjaan mereka. Sebagai alat control itu, para guru harus membuat laporan dari hari ke hari tentang apa saja yang telah dilaksanakan sebagai seorang guru. Membuat laporanm itu kadang dirasakan lebih sulit dibanding mengajarnya itu sendiri. Padahal membuat laporan pekerjaan tersebut sebenarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan birokrasi, misalnya sebagai dasar untuk pencairan gaji.
Birokrasi pendidikan juga diciptakan sedemikian rumit. Sekedar untuk naik pangkat saja, guru harus memenuhi berbagai jenis dokumen hingga melelahkan. Padahal guru harus digembirakan dengan cara dihargai dan dimudahkan urusannya. Suasana gembira itulah yang menjadikan guru semakin bersemangat dan bekerja maksimal. Oleh karena berbagai tuntutan yang terkadang tidak ringan itu, wajah guru kadang tampak tidak sebagaimana diharapkan. Ada semacam tekanan piskologis yang tidak ringan terhadap para guru. Ditambah lagi, guru yang dahulu menjadi satu-satunya sumber informasi, --------terutama mereka yang berada di pedesaan, sekarang ini mereka sudah disaingi oleh para pekerja dari luar negeri. Informasi dari para TKW atau TKI sepulang dari luar negeri lebih menarik dibanding dengan yang berasal dari para guru. Akhirnya, guru tidak sewibawa dahulu.
Guru di dalam menunaikan tugasnya diatur sedemikian ketat. Mulai dari memilih bahan pelajaran, cara mengajar, dan bahkan hingga mengevaluasi hasil mengajarnya dituntun-tuntun hingga sampai pada persoalan yang amat detail. Melihat berbagai aturan yang diberlakukan pada guru dan bahkan juga dosen menjadi tampak jelas bahwa mereka tidak ubahnya sebagai pekerja dan bahkan buruh. Akibat perlakuan seperti itu, yang tumbuh bukan mental guru, ialah seseorang yang mencintai ilmu, mencintai murid, mencintai generasi masa depan, dan mencintai kearifan, melainkan mental pekerja dan bahkan juga mental buruh.
Oleh karena dianggap sebagai pekerja dan akhirnya menjadi bermental pekerja, maka mungkin yang muncul dari pikiran mereka adalah bahwa yang terpenting pekerjaannya telah ditunaikan, selesai, dan sudah dipertanggung jawabkan melalui laporan yang dibuatnya itu. Pekerjaan bukan dilaksanakan sebagai upaya memenuhi panggilan nurani dan profesinya, melainkan sekedar menunaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Seharusnya, keberadaan semua pihak, selain guru dan murid, adalah membantu agar tugas-tugas pendidikan dan pengajaran menjadi berjalan semakin lancar, maksimal, dan bukan sebaliknya, yaitu mereka yang berugas membantu justru menjadi paling dominan dan atau lebih menentukan. .
Selain menyangkut guru, hal penting yang seharusnya dikembalikan pada esensi yang sebenarnya adalah tentang orientasi mata pelajaran di sekolah. Selama ini para siswa diajari beberapa mata pelajaran, seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Pancasila, dan lain-lain. Semua orang mengatakan bahwa pelajaran biologi, fisika, kimia, matematika, geografi, sosiologi, dan lain-lain adalah penting. Tentu pandangan tersebut benar. Akan tetapi, seharusnya semua pihak mengetahui, mengapa beberapa jenis pelajaran tersebut perlu diberikan. Jika mata pelajaran itu diberikan hanya sekedar agar lulus ujian akhir, atau agar nilainya dimasukkan di buku raport untuk kenaikan kelas, maka tujuan dan oreientasi itu akan sangat sederhana. Seharusnya ada kesadaran bahwa pelajaran itu diberikan agar dijadikan bekal dalam menjalani kehidupan kelak.
Mengetahui tujuan berbagai mata pelajaran tersebut adalah sangat penting, yaitu di samping agar melahirkan semangat belajar, juga agar orientasi belajar mata pelajaran yang dimaksudkan tidak keliru. Bahwa belajar fisika, kimia, sosiologi, dan seterusnya memiliki tujuan dan orientasi yang jelas, dan sebaliknya bukan sebatas agar dinyatakan lulus dan dibolehkan keluar dari lembaga pendidikan di mana mereka belajar. Jika orientasi terakhir itu yang justru berkembang, maka lembaga pendidikan, ------disadari atau tidak, akan diposisikan bagaikan penjara. Begitu dinyatakan bebas, atau lulus dari ujian, maka mereka akan bereforia melebihi batas oleh karena dirasakan sudah merdeka itu.
Mengamati dunia pendidikan sekarang ini, rupanya sedang mencari arah, strategi, dan orientasi yang tepat, untuk membangun generasi ke depan yang lebih baik. Pekerjaan itu akan mudah dilakukan ketika pendidikan dipahami secara sederhana, yaitu urusan guru dan murid. Keberadaan birokrasi pendidikan dan lain-lain seharusnya dipandang sebagai kekuatan pendudung, agar pelaku pendidikan yang sebenarnya dapat menunaikan tugasnya secara maksimal. Oleh karena itu menyelesaikan persoalan pendidikan seharusnya diserahkan pada guru. Mereka itulah yang paling tahu tentang pendidikan. Selainnya, termasuk birokratya harus mengikut pada guru, dan bukan sebaliknya. Gurulah yang seharusnya dimuliakan dan dihargai, dan bukan orang yang bertugas mengurus guru. Tatkala guru dimuliakan, didengarkan, dan diposisikan pada tempat yang sebenarnya, maka pendidikan akan berkembang dan maju dengan sendirinya. Sebab, pendidikan memang selalu menjadi urusan guru dan murid. Wallahu a'lam.



