Menumbuhkan Kemauan Untuk Meniru
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 4 Agustus 2016 . in Dosen . 2916 views

Jangan semua kegiatan meniru dipandang rendah, remeh, dan apalagi buruk. Banyak orang menjadi maju oleh karena pintar meniru. Memang bagi siapa saja, sebaiknya berkreasi atau mencipta sendiri. Akan tetapi, jika hal itu tidak mampu dilakukan, meniru adalah cara yang terbaik. Banyak prestasi yang diperoleh oleh seseorang dari meniru. Pencipta pesawat terbang adalah meniru apa yang dilakukan oleh burung. Kapal selam meniru ikan di dalam laut. Kereta api, bisa jadi, adalah terinspirasi oleh seokor luwing, dan seterusnya.

Bahkan Habil, setelah membunuh saudaranya bernama Qobil merasa kebingungan, terkait jasadnya akan dikemanakan. Dalam kisahnya, pada saat itu, ia melihat burung gagak menggali lubang dengan kedua kakinya untuk mengubur kawannya yang sudah mati. Mengikuti kisah tersebut, sebenarnya manusia yang dikaruniai akalpun meniru binatang yang tidak memiliki kemampuan untuk berpikir. Habil sekedar mengubur saudaranya meniru burung gagak.

Para ilmuwan dan bahkan para anggota parlemen pada akhir-akhir ini, atas biaya pemerintah, melakukan kunjungan kerja ke mana-mana untuk berstudi banding. Maksudnya tidak lain adalah untuk meniru kemajuan negara, ekonomi, pendidikan, pemerintahan. atau masyarakat yang didatangi itu. Oleh karena itu, meniru bukan hal yang remeh, sederhana, dan tidak baik, tetapi justru sebaliknya, yaitu harus dilakukan untuk meraih kemajuan.

Persoalannya adalah bahwa, sekedar meniru saja tidak selalu berhasil dilakukan dan atau bahkan juga masih keliru. Sebab, meniru sesuatu yang sulit dilakukan, apalagi memerlukan biaya dan kemampuan yang tidak sederhana, tidak semua orang sanggup. Meniru membuat pesawat terbang, mobil, atau teknologi tinggi, tidak semua orang bisa. Untuk bisa meniru, selain memerlukan pengetahuan dan kemauan, juga kadang membutuhkan biaya besar.

Rakyat melalui lembaga pendidikan atau media lainnya, perlu diinspirasi dan didorong agar meniru sesuatu yang baik, baru, dan menguntungkan. Mereka perlu disadarkan bahwa kegiatan apa saja untuk meraih kemajuan selalu memerlukan penguasaan ilmu. Tanpa kekuatan ilmu, di bidang apa saja, baik di dalam mengelola pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan, perdagangan, dan lain-lain, tidak akan berhasil maksimal. Di zaman kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, bagi orang yang tidak berilmu, tidak mendapatkan tempat. Sedangkan untuk mendapatkan ilmu dapat dilakukan dengan cara meniru.

Gerakan penyadaran lainnya bahwa sekarang ini dalam memproduk kebutuhan apa saja sudah menggunakan mesin dan atau pabrikisasi. Dahulu, orang di pedesaan untuk memenuhi kebutuhan sambal, mereka bisa membuat sendiri. Asalkan tersedia lombok, garam, bawang merah, dan trasi, ibu-ibu di dapur bisa menyambal sendiri. Namun sekarang, sambal saja sudah diproduk oleh pabrik. Maka, masyarakat tidak perlu lagi membeli muntu, cobek, dan lain-lain. Kebutuhan sambal sudah bisa dicukupi dari membeli dengan harga jauh lebih murah, lebih enak, dan juga tahan lama.

Sejak lama pekerjaan petani di pedesaan, mulai dari mencangkul, menanam, menyiangi, memetik padi, dan mengolahnya menjadi beras sudah disaingi oleh tenaga mesin. Kehadiran mesin mengganti atau merebut peluang kerja bagi para petani. Namun sekarang ini, petani bukan saja kehilangan lapangan kerja terkait tanam menanam, melainkan juga mengolah hasil tanamannya, sebagaimana disebut di muka, hingga membuat sambal, misalnya. Akibat kemajuan ilmu dan teknologi, tenaga kerja petani tradisional di pedesaan semakin tidak relefan lagi.

Menyaksikan kenyataan tersebut, para petani atau rakyat perlu disadarkan bahwa akibat kedatangan mesin, maka harus ada langkah-langkah tepat untuk beradaptasi. Agar mereka bertahan hidup, yakni memperoleh pendapatan untuk mencukupi hidupnya, maka mereka harus tetap bekerja. Sementara itu jenis spekerjaan semakin lama semakin menyempit oleh karena digantikan oleh kekuatan mesin dimaksud. Manakala rakyat atau orang lapis bawah tidak disadarkan, maka mau tidak mau, mereka akan menerima kenyataan hidup yang sedemikian berat.

Agar rakyat atau masyarakat bawah mampu bertahan, melalui lembaga pendidikan atau apa saja, mereka harus disadarkan sekaligus dilatih, agar mau meniru siapa saja yang telah mengalami kemajuan. Tanpa berkreasi dan setidaknya berkemampuan meniru, di zaman kemajuan ilmu dan teknologi seperti sekarang ini, rakyat akan semakin sengsara. Oleh karena itu, rakyat harus diyakinkan bahwa, tantangan hidup ke depan semakin berat. Maka, kepandaian meniru kepada siapa saja yang telah memiliki kelebihan dan berhasil, adalah cara terbaik untuk beradaptasi dan membekali diri. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up