Merindukan Kehidupan Di Pedesaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 30 Agustus 2016 . in Dosen . 2835 views

Beberapa hari yang lalu, saya ditugasi oleh Kepala Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, Dr. Hj. Mufidah, untuk mengunjungi kegiatan kemahasiswaan di pedesaan. Kebetulan LPPM sedang memiliki program kegiatan Posdaya berbasis Masjid, di antaranya di Kecamatan Bantur, daerah Malang selatan, dan saya diikutkan untuk mengunjungi di daerah itu. Sengaja semula saya menawarkan diri, agar selalu dilibatkan di dalam kegiatan apa saja terkait dengan kemahasiswaan di pedesaan.

Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa kehidupan di pedesaan sudah berubah, namun sebenarnya masih terasa, yaitu lebih damai, ada kebersamaan, rukun, dan menyejukkan. Ketika menerima tamu, orang di desa menunjukkan ketulusan dan keikhlasannya. Kedatangan tamu, mereka tampak tidak ada beban, menerima dengan tulus, dan gembira. Seakan-akan pekerjaan mereka sehari-hari, dengan kedatangan tamu tidak terganggu. Kepandaiannya bersikap dan bergaul, mereka mampu menunjukkan prisip hidupnya bahwa menerima tamu lebih penting dari segalanya.

Untuk menghormati dan menyenangkan tamu, selain menunjukkan wajah kegembiraan dan keakraban, tamunya segera diberi minuman dan kue yang rupanya sudah dipersiapkan sebelumnya. Terasa sekali, orang di pedesaan sedemikian tulus, ikhlas, dan bergembira menerima tamu. Tidak ada jadwal dan juga ketentuan hingga berapa lama tamunya boleh berada di rumah itu. Ketika tamunya semakin betah dan menunjukkan kegembiraan, rupanya mereka juga semakin puas dan bangga.

Apa yang saya gambarkan tersebut sebenarnya sudah menjadi kebiasaan di pedesaan pada umumnya. Semua orang dapat membandingkan kehidupan tersebut dengan di perkotaan. Pada umumnya, hubungan antar orang di perkotaan tidak terlalu dekat, ada batasan agar tidak saling mengganggu, dan bahkan kadang hubungan itu bersifat transaksional. Pertanyaan yang sekalipun tidak diungkap secara jelas, mengenai tatkala bertemu akan saling memperoleh apa, siapa yang akan teruntungkan, dan sejenisnya, mewarnai kehidupan di perkotaan. Masyarakat di pedesaan, apalagi zaman dahulu, tidak pernah mengenal suasana, sedikit digambarkan itu.

Mengikuti kegiatan mahasiswa dalam program Posdaya di pedesaan tersebut, menjadikan saya teringat kehidupan di pedesaan semasa kecil. Kehidupan di pedesaan diwarnai oleh suasana keakraban, saling mengenal, saling menghargai, bertolong-menolong, saling mengasihi, dan nilai-nilai kebersamaan lainnya. Hubungan antar orang dan bahkan antar keluarga, seakan-akan tidak ada batas pemisah. Jika ada seorang anggota keluarga yang perlu dibantu, tanpa diminta, maka yang lain memberikan bantuannya. Hal demikian itu dianggap sudah menjadi kewajiban yang harus ditunaikan secara bersama-sama.

Kebersamaan di antara tetangga tergambar atau dapat dibaca dari bangunan rumah-rumah di pedesaan. Antara satu dengan lainnya, biasanya tidak dipisahkan oleh pagar tinggi, dan apalagi berupa tembok. Umpama di antara rumah itu ada pagarnya, hanya difungsikan sebatas sebagai pembatas, dan bukan dimaksudkan untuk melindungi harta kekayaan yang ada di masing-masing rumah. Bandingkan dengan rumah-rumah di kota, atau apalagi di perubahan elite di perkotaan, pagar temboknya berukuran tinggi, bahkan di atas pagar itu masih dilengkapi kawat berduri. Sebagian rumah tersebut juga masih dilengkapi pos penjagaan. Hidup di perkotaan, dengan banyak orang, justru terasa tidak aman.

Saya merasakan sewaktu masih usia anak-anak hidup di pedesaan, setelah shalat isya', beberapa orang tua tanpa berjanji dan atau melalui pesetujuan terlebih dahulu, mereka datang ke rumah tetangga sekedar berbincang-bincang tentang apa saja yang dialami sehari-hari. Pada saat musim panen padi di sawah misalnya, di antara mereka berbagi pengalaman, informasi, dan pengetahuan ikhwal panenannya. Di tempat itu mereka saling berbagi kegembiraan, kebersamaan, dan juga memperkokoh persaudaraan. Melalui tradisi saling berkunjung itu dirasakan bahwa hidup harus dijalani bersama, saling membantu, dan membela. Kekeluargaan bukan diikat oleh uang, benda atau harta, melainkan oleh ketulusan hati.

Kedekatan masing-masing orang menjadikan di antara mereka saling mengenal dengan baik, bahkan hingga watak dan karakternya masing-masing. Perbedaan biasanya tidak menjadikan antar mereka menjauh. Masing-masing pihak saling memahami dan menghargai. Atas semangat kebersamaan dan saling menjaga, orang desa sekalipun tidak dikursus, ditatar, dan diberi pengarahan, mereka mampu menempatkan dirinya masing-masing sebagai modal menjalani hidup sehari-hari. Kehidupan di pedesaan memang indah, diliputi oleh suasana damai, rukun, tenteram, saling mengenal, dan bertolong menolong. Kehidupan yang indah sebagaimana digambarkan tersebut di alam modern seperti sekarang ini, ternyata semakin hilang, dan apalagi di perkotaan. Hidup di pedesaan selalu dirindukan oleh karena kebersamaan dan kedamaiannya itu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up