Orang Desa Memahami Gelar Sarjana
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 6 Agustus 2016 . in Dosen . 1694 views

Sebagaimana orang desa yang berkecukupan pada umumnya, berharap agar anaknya menuntut ilmu setinggi-tingginya ke kota. Berbekalkan ilmu maka diharapkan hidupnya akan lebih baik. Menurutnya, apa saja, harus diraih dengan ilmu. Itulah keyakinan banyak orang, tidak terkecuali bagi orang desa yang akan saya ungkap pada tulisan ini.

Sudah menjadi hal biasa, pada saat pulang ke kampung, ada saja orang datang bertemu dan berbincang-bincang. Kali itu ada hal aneh yang ditanyakan, yaitu tentang anaknya yang sudah beberapa tahun lulus dari perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Sepulang dari kota menyelesaikan kuliahnya, anaknya tidak menjadi pengangguran, tetapi langsung bekerja bersamanya, menjadi pedagang di pasar.

Orang desa yang dimaksudkan itu sejak lama sehari-hari bekerja sebagai pedagang, yaitu berjualan kain dan pakaian di tengah pasar. Pada setiap pagi, dagangannya diangkut dengan mobil, dibawanya dari rumah ke pasar. Begitu pula pada sore hari, setelah pasar tutup, dagangannya itu dibawa pulang. Pekerjaan itu dilakukannya sendiri, oleh karena untung dari jualannya tidak cukup untuk membayar buruh angkut pada setiap hari.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, dan sebelum memperoleh pekerjaan yang lebih baik, anaknya sehari-hari diajak bekerja sebagai pedagang di pasar. Pertimbangannya sederhana dan praktis, yaitu dari pada menganggur di rumah. Anaknya juga menurut saja perintah ayahnya. Sehari-hari, ia mengangkut barang dari rumah dan memikul sendiri dari tempat parkir ke tempat berjualan di tengah pasar. Mengangkut barang dengan cara meletakkan di atas punggungnya itu, ia menyebutnya mengguluk.

Setelah sekian lama anaknya mengikuti jejaknya, sebagai pedagang di tengah pasar, ia mulai berpikir bahwa, bukankah anaknya itu sebenarnya sudah menjadi sarjana. Lebih khusus lagi adalah sarjana ekonomi. Namun ia sehari-hari hanya bekerja sebagaimana dirinya, yaitu berdagang dan juga masih mengguluk pada setiap hari. Sekalipun anaknya sudah sarjana, ia tidak pernah mendengar tentang ilmu baru dari anaknya yang diperoleh dari kota. Selama ini dirasakan tidak ada bedanya antara dirinya yang tidak pernah sekolah dengan anaknya yang sarjana. Setiap hari sama-sama mengguluk.

Kesadaran tersebut mendorong, ia bertanya, tentang apa sebenarnya yang telah diajarkan di kampujs kepada anaknya hingga disebut menjadi sarjana. Selama ini sepengetahuannya adalah sama antara yang tidak bersekolah dengan yang telah menjadi sarjana. Pedagang di pedesaan itu mengatakan bahwa jika akhirnya, anaknya hanya menjadi pedagang dan juga mengguluk sebagaimana dirinya, mengapa harus menjadi sarjana. Pekerjaan sehari-hari itu tanpa berbekalkan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi sudah bisa dijalaninya.

Melalui pembicaraan yang sebenarnya cujkup panjang, saya menanyakan kelebihan anaknya setelah menjadi sarjana. Pertanyaan tersebut dijawab bahwa, dalam hal berbicara, ia memiliki kelebihan. Anaknya bisa menjelaskan tentang cara berdagang, memasarkan sesuatu, mendapatkan modal, memenangkan persaingan, mengurus karyawan, dan seterusnya. Mendengarkan penjelasan pedagang dimaksud, saya mencoba untuk menengahi bahwa di perguruan tinggi memang diajarkan tentang apa yang diungkapkan oleh anaknya itu. Anaknya di kampus diajarkan berbagai teori berekonomi. Akan tetapi soal praktek, supaya dikembangkan sendiri di lingkungannya masing-masing.

Memperoleh penjelasan singkat tersebut, pedagang tersebut mengemukakan bahwa sebenarnya yang diperlukan dalam hidup ini bukan berdiskusi dan banyak berbicara tentang berekonomi, tetapi adalah melakukan kegiatan ekonomi. Menurut pendapatnya, generasi muda seharusnya bisa berdagang, bertani, beternak, dan bukan sekedar banyak berbicara tentang hal tersebut. Jika demikian itu halnya, mereka akan pandai berbicara dan bahkan berdebat tentang kambing, sapi, atau kerbau, tetapi belum bisa beternak berbagai jenis hewan itu. Selain itu, bisa jadi, mereka pintar berdikusi tentang kemiskinan, tetapi dirinya sendiri tetap miskin. Juga banyak sarjana berdiskusi tentang agama, tetapi sehari-hari perilakunya belumm menggambarkan keberagamaannya. Tentu, agar tidak semakin banyak orang kecewa, kiranya persoalan sederhana tersebut perlu direnungkan dan segera dicari pemecahannya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up