Al-Amanah : Pesantren Cerdas
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 17 September 2016 . in Dosen . 1629 views

Beberapa hari yang lalu, saya diundang oleh Pesantren Modern Al Amanah, yang beralamat di Desa Junwangi, Kriyan, Sidoarjo. Kehadiran saya ke lembaga pendidikan Islam itu, diminta untuk berceramah di hadapan para guru yang sehari-hari mengajar dan mendidik di lembaga pendidikan tersebut. Setiap diundang oleh pesantren, saya berusaha hadir. Sekalipun tidak pernah mengenyam pendidikan Islam yang dikelola oleh para kyai, saya selalu tertarik dengan cara-cara yang ditempuh dalam mengembangkan pendidikan.

Pendidikan pesantren selama ini dianggap telah memberikan sumbangan besar dalam ikut mencerdaskan bangsa. Akan tetapi pengakuan itu baru sebatas diucapkan oleh para pejabat pemerintah, tetapi belum diberikan sesuatu yang cukup untuk meringankan beban penyelenggaraan pendidikannya. Pesantren selama ini hidup secara mandiri, tanpa mendapatkan anggaran dari pemerintah. Biaya untuk memenuhi fasilitas pendidikan, seperti ruang belajar, fasilitas pendidikan, hingga tempat tinggal para santri semuanya dicukupi sendiri oleh Yayasan atau pengasuhnya.

Anehnya banyak pesantren, tidak terkecuali Al Amanah, mampu menyediakan berbagai fasilitas pendidikan secara memadai, termasuk pegawai maupun tenaga gurunya. Saya mendapatkan informasi dari Kyai Pengasuhnya, pesantren ini menempati tanah seluas kurang lebih 6 hektar. Lahan seluas itu dibeli dengan cara bertahap. Yang mengharukan, bahwa pada awalnya, pengasuhnya sendiri berada di lingkungan itu, menempati rumah dengan cara menyewa. Namun karena keuletannya, akhirnya secara bertahap, berhasil membeli tanah dan juga membangun ruang belajar dan berbagai jenis fasilitas pendidikan pesantren, termasuk kamar tempat tinggal, hingga menampung ribuan santri.

Pada umumnya pesantren dikenal kumuh dan tidak terawat, tetapi tidak demikian bagi Pesantren Al Amanah. Dengan suasana lokasi yang bersih, indah, dikemas secara alami, pesantren itu menjadikan siapa saja kerasan berada di tempat itu. Anak-anak kota justru tertarik dan betah belajar di pesantren itu, bahkan hingga putra Menteri Pemuda Dan Olah Raga, Imam Nahrowi, ternyata juga menjadi salah satu santri di lembaga pendidikan ini. Selain diselenggarakan kegiatan pendidikan sebagaimana tradisi pesantren pada umumnya juga dibuka lembaga pendidikan formal. Pengasuh pesantren ini mampu menangkap keinginan masyarakat, buktinya di lembaga pendidikan yang didirikan dan dikelolanya sendiri itu diajarkan dua bahasa asing sekaligus, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sehingga disebut sebagai Madrasah Bilingual.

Bagi saya sendiri yang menarik adalah tentang penataan lingkungan pesantren, yaitu dikemas hingga terkesan alami. Rumah-rumah yang dijadikan tempat tinggal para santri dibangun bagaikan perumahan biasa. Bangunan di lingkungan pesantren sama sekali tidak mengesankan digunakan untuk tempat tinggal para santri. Dari luar bangunan dimaksud persis sebagaimana rumah-rumah penduduk pada umumnya. Penataan yang demikian itu menjadikan para santri, dalam kehidupan sehari-hari, bagaikan di rumahnya sendiri.

Ketika datang dan menyaksikan selintas lingkungan pesantren tersebut, saya teringat belasan tahun silam, yaitu ketika berkunjung ke Baghdad, Irak. Dalam kunjungan itu, saya melihat sebuah lembaga pendidikan yang dibangun di tepi sungai Eufrat pada tahun 1222 M. Lembaga pendidikan yang menjadi kebanggaan orang Irak itu bernama al Muntasyiriah. Lingkungan lembaga pendidikan itu ditata secara alami, dan begitu pula, pelajaran yang diberikan tampak tidak mengikuti ketentuan formal. Para siswa bisa belajar di luar kelas, di kebun, dan di tempat lain sesuai dengan jenis pelajarannya. Para siswa dalam belajar tidak harus selalu berada di dalam kelas. Mereka boleh mengambil tempat di mana saja dan demikian pula para guru dalam mengajarnya.

Saya melihat pesantren Al Amanah juga demikian. Lingkungan pesantren sengaja dibuat alami, di beberapa tempat ditanami bambu yang cukup rindang, pohon-pohon besar, dan jenis tanaman lainnya. Berada di pesantren itu bagaikan di tempat yang masih asli, dalam arti belum diubah hingga mengesankan modern. Justru keadaan yang demikian itu, saya menjadi tertarik. Kemasan tempat yang demikian itu, menurut hemat saya, justru tepat digunakan sebagai tempat pendidikan. Rupanya guru-guru juga terbiasa mengajar di bawah bambu, atau pepohonan di lingkungan pesantren. Oleh karena itu tampak, di sela-sela pepohonan dan juga rumpun bambu disediakan meja kursi belajar. Bahkan, tempat saya berceramah di hadapan para guru, juga dipilihkan di luar gedung, semacam di bawah tenda, tetapi terasa, asri, bersih dan indah.

Dari kunjungan ke pesantren Al-Amanah, Junwangi, Kriyan, Sidoarjo, saya mendapatkan kesan, sekalipun Pengasuh Pesantren tersebut mengaku tidak berpendidikan tinggi, tetapi sebenarnya beliau paham benar tentang pendidikan yang sebenarnya. Kesan itu saya dapatkan dari cara Pengasuh Pesantren itu dalam menata lingkungan, menciptakan suasana belajar, merawat keindahan dan kebersihan pondok, hingga dalam memahami tuntutan masyarakat terhadap pendidikan, yaitu tidak saja mengedepankan kepintaran, jiwa mandiri, dan ketrampilannya, tetapi yang justru lebih penting adalah dalam membangun akhlaknya. Itulah sebabnya, saya menyebut, pesantren ini terkesan telah dikelola secara cerdas. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up