Pada akhir-akhir ini semakin banyak orang berusaha memajukan lembaga pendidikan yang sedang dikelolanya. Mereka melihat bahwa lembaga pendidikan yang dinamis dan tampak maju didatangi oleh banyak orang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Namun, banyak orang mengira bahwa lembaga pendidikan maju selalu berada di kota dan atau di wilayah yang dihuni oleh orang kaya. Pandangan itu tidak terlalu keliru, sebab lembaga pendidikan yang berada di lingkungan orang kaya, orang tua para siswa tidak sulit dipungut biaya besar, sehingga dana yang terhimpun dari orang tua dimaksud dapat digunakan untuk mengembangkan lembaga pendidikannya.
Berbeda misalnya, bilamana lembaga pendidikan itu berada di daerah masyarakat pedesaan dan miskin, jangankan dipungut biaya besar, mereka mau sekolah saja sudah beruntung. Oleh karena itu, lembaga pendidikan di masyarakat miskin, pengelolanya akan kebanyakan beban. Tidak saja sulit mendapatkan guru yang berkualitas, sarana dan prasarana pendidikan yang mencukupi, tetapi juga masih terbebani mendapatkan dana untuk membiayai lembaga pendidikannya. Lembaga pendidikan yang seperti itu tidak akan berkembang dan apalagi maju. Seringkali saya mengilustrasikan lembaga pendidikan yang berada di pedesaan, terutama yang berstatus swasta dan bernuansa keagamaan, biasanya bercirikan tahan hidup, tetapi sukar maju, dan kaya masalah.
Lembaga pendidikan yang selintas digambarkan tersebut sebenarnya pada masa sekarang ini, sekalipun tidak mudah, tetapi sebenarnya masih sangat mungkin bisa maju. Kesulitan itu disebabkan dari kelemahannya, mulai menyangkut ketenagaannya, sarana dan prasarananya, hingga keterbatasan anggaran yang tersedia. Manakala kelemahan itu bisa diatasi maka lembaga pendidikan seperti itu, akan diminati masyarakat. Dan ternyata banyak orang berhasil mengatasi persoalan itu dan akhirnya lembaga pendidikannya berubah menjadi maju. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Peluang untuk memajukan tidak terbatas jumlahnya, sementara itu yang terbatas adalah kemampuan menangkap peluang untuk maju.
Dalam Islam diajarkan konsep bekerjasama atau ta'awwun. Sementara itu kemampuan bekerjasama yang produktif seringkali tidak dimiliki. Bukan tidak ada peluang bekerjasama, tetapi oleh karena keterbatasannya, sehingga akhirnya gagal mencari patner yang bersedia untuk diajak bekerjasama. Untuk menjalin kerjasama diperlukan kemampuan berkomunikasi atau dalam bahasa agamanya adalah menjalin tali sillaturrakhiem. Agama sedemikian komplit memberikan pintu jalan keluar, yakni bersilaturrakhiem dan bekerjasama dengan siapapun, asalkan masih dalam lingkup kebaikan.
Bagi orang yang terbatas kemampuannya dalam bersillaturrakhiem dan atau berkomunikasi, tidak mudah mencari orang yang diajak bekerjasama. Kerjasama yang baik dan menguntungkan adalahseharusnya dengan pihak yang memiliki kemampuan dan berkeadaan berbeda. Bekerjasama antara orang yang berkeadaan sama atau serupa, biasanya tidak produktif atau tidak menghasilkan apa-apa. Kerjasama yang produktif pernah saya dapatkan dari pelajaran di sekolah dasar pada zaman dahulu. Saya masih ingat, pada buku bacaan siswa SD zaman dulu, ada contoh bekerjasama yang amat menarik, yaitu antara orang lumpuh dan orang buta. Seorang yang kebetulan lumpuh tapi bisa melihat, diigendong oleh orang buta yang tidak lumpuh. Kerjasama itu menjadi berlangsung dan bertahan lama oleh karena di antara kedua belah pihak sama-sama menguntungkan.
Memperhatikan contoh tersebut, bisa dibayangkan andaikan kerjasama itu dilakukan oleh orang yang sama-sama lumpuh dan atau sama-sama buta. Mereka tidak akan menghasilkan apa-apa dan jelas tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi bersama. Selain itu, sudah barang tentu, kerjasama akan berjalan manakala masing-masing pihak saling percaya, memiliki komitmen yang tinggi, dan saling menyadari atas kekurangan dan kelebihannya. Lebih dari itu semua, di antara keduanya tidak ada yang merasa dirugikan atau diperlakukan secara tidak adil.
Membesarkan dan memajukan lembaga pendidikan pada masa sekarang ini bisa dilakukan dengan cara bekerjasama. Hanya persoalannya., tidak semua orang berkemampuan menjalin hubungan di antara orang yang berlatar belakang social, ekonomi, politik, budaya dan lain-lain yang berbeda-beda. Kebiasaan yang terjadi, orang yang memiliki kesamaan latar belakang saja yang bisa berkomunikasi. Para petaini bekerjasama dengan petani, pedagang dengan pedagang, PNS dengan PNS dan seterusnya. Kultur semacam inilah yang menjadikan kerjasama yang produktif tidak mudah dibangun dan dikembangkan. Belum lagi, kebiasaan banyak orang yang hanya percaya kepada sesama komunitasnya. Hal demikian itulah yang menjadikan halangan orang yang berpotensi berbeda-beda membangun satu kerjasama yang saling menguntungkan.
Seperti yang dikemukakan di muka bahwa di dunia ini apa saja mungkin terjadi dan bisa diusahakan. Belajar dari kenyataan tersebut aspek penting yang seharusnya perlu dilakukan untuk memajukan lembaga pendidikan, adalah mengubah mental, cara pandang, cara berpikir, mindset, atau apa saja yang ada di dalam hati dan pikiran orang yang akan melakukan perubahan dimaksud. Mental tidak maju dan hanya menunggu harus diubah menjadi bermental mengejar dan jika perlu berebut dan menerkam, ---tentu dalam pengertian positif. Mental terlalu membatasi diri dan menganggap bahwa dunia ini gelap, maka harus diubah bahwa peluang maju itu sebenarnya terbentang luas dan yang sempit adalah pikiran dan hatinya sendiri.
Sebenarnya, Islam melalui al Qur'an, telah memberikan petunjuk yang sedemikian jelas, yaitu agar mau membuka dan melemparkan selimutnya, supaya segera bangkit, berdiri, dan maju. Selimut yang dimaksudkan adalah apa saja yang menutupi iman, ruh atau cahaya yang ada di dalam hatinya. Selimut itulah yang menjadikan umat tidak maju dan berkembang. Selimut itu dalam kontek pengembangan lembaga pendidikan adalah ketidak-adanya keberanian untuk melangkah untuk mencari alternatif, keterbatasan berkomunikasi dengan orang lain, merasa puas dengan apa yang ada, menutup diri, selalu membayangkan tentang selalu adanya keterbatasan pintu kemajuan, dan sejenisnya. Semua mental itu seharusnya disingkirkan sebelum bergerak memajukan lembaga pendidikannya. Wallahu a'lam



