Memperlakukan Anak Dulu Dan Sekarang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 13 September 2016 . in Dosen . 1721 views

Perubahan masyarakat dengan kemajuan ilmu dan teknologi sedemikian cepat. Bagi orang yang sekarang telah berumur sekitar 60 tahun, --seperti saya ini, perubahan itu sangat terasakan sekali. Dahulu, sewaktu masih berusia anak-anak, saya tidak pernah melihat mobil sebanyak sekarang ini. Ada mobil hanya satu dua yang lewat di jalan yang tidak jauh dari rumah.

Listrik belum tersedia, apalagi di pedesaan. Di waktu malam, sebagai alat penerang rumah dan atau semacamnya, orang menggunakan lampu minyak. Padahal bagi masyarakat pedesaan, untuk mendapatkan minyak tanah juga bukan perkara mudah. Jika tidak tersedia minyak, orang terpaksa menggunakan buah jarak. Buah dari hasil tanaan sendiri itu dibakar, dan nyala api dari buah tersebut digunakan sebagai alat penerang.

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari juga sederhana. Manakala masih tersedia beras dari hasil panenan di sawah atau ladang, orang mengkonsumsi nasi dari beras, tetapi jika persediaan sudah menipis, orang mencampur beras dengan ketela. Namun anehnya, apapun jenis yang dimakan, tidak ada orang yang mengeluh. Rupanya sudah menjadi pandangan hidup bagi orang di pedesaan zaman dahulu pada umumnya, bahwa makan hanya sebagai bagian dari upaya menyambung hidup.

Pendidikan juga tidak terlalu dipadang sebagai sesuatu yang merepotkan. Bagi orang desa pada zaman dahulu, anak-anak usia sekolah harus bersekolah. Di sekolah tingkat dasar, mereka diajari membaca, menulis, berhitung, olah raga, menyanyi dan sejenisnya. Seingat saya, pelajaran banyak diberikan dengan banyak berlatih, sehingga tanpa ujian secara formal, guru sudah mengenali benar terhadap anak pintar dan yang ketinggalan. Pada saat itu, biaya pendidikan tidak mahal, untuk melatih menulis dan berhitung, para siswa menggunakan batu tulis atau sabak.

Mencari jam tambahan atau kursus di luar jam pelajaran juga tidak pernah dilakukan. Anak-anak sekolah dasar, pada umumnya di pedesaan, sepulang dari sekolah membantu orang tua bekerja di kebun atau lainnya. Saya sendiri sepulang dari sekolah ditugasi orang tua mencari rumput untuk makanan sapi. Seingat saya, sejak sekolah kelas dua SD, saya pada setiap sudah diberi tanggung jawab memenuhi makanan 2 ekor sapi. Hal demikian itu, bagi anak desa, diangap wajar, oleh karena setiap anak desa diperlakukan seperti itu.

Ketika itu, ayah saya memiliki beberapa jenis ternak, yaitu sapi, kerbau, kambing, itik, ayam, dan juga kuda. Tanggung jawab memelihara beberapa jenis ternak diberikan secara bergiliran kepada saudara saya yang jumlahnya memang cukup banyak. Setahun misalnya, saya diberi tugas memelihara sapi, tahun depan berganti bertanggaung jawab memelihara kerbau, seterusnya kambing, dan juga kuda. Oleh karena itu, sejak usia anak-anak, saya memiliki pengalaman memelihara beberapa jenis ternak.

Membandingkan perlakuan orang tua terhadap anak di zaman dulu dengan sekarang terasa amat berbeda. Sejak kecil, anak-anak di zaman dahulu sudah dilatih bekerja, bertanggung jawab, memahami lingkungan, mengerti kebutuhan hidup, dan bahkan juga telah ditanamkan betapa pentingnya agama. Dalam soal agama, anak-anak selain bersekolah di pagi hari di sekolah dasar juga dianjurkan untuk mengaji di madrasah diniyah dan aktif dengan kegiatan di masjid.

Anak yang hidup di zaman sekarang bukan dilatih bekerja tetapi justru dimanjakan. Berbagai urusan pribadinya diintervensi oleh orang tuanya. Jangankah anak-anak yang masih dalam usia sekolah dasar, mereka yang sudah masuk di sekolah menengah pun, sehari-hari masih dibantu oleh orang tuanya dan atau pembantunya. Selain itu, juga jangankan mereka dilatih bekerja, tetapi justru sebaliknya, segala kebutuhannya dibantu dan dipenuhi.

Kita melihat sekarang ini, anak-anak hingga usia seolah menengah masih merepotkan orang tuanya. Pada saat berangkat mereka diantarkan dan demikian pula pada saat pulang harus dijemput. Posisi anak-anak sekarang tidak ubahnya seorang boss, kebutuhan apa saja dilayani. Di tengah-tengah zaman perubahan yang amat cepat seperti sekarang ini, anak-anak bukan dilatih untuk menghadapi tantangan yang semakin berat, melainkan justru dimanjakan dan dilatih untuk hidup yang serba dilayani. Orang desa pada zaman dahulu memiliki pandangan bahwa, memanjakan anak sama artinya dengan membunuh kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan hidupnya di masa depan. wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up