1. Bagaimana Anda memandang istilah ' Bangsa Kagetan' ?
Saya tidak melihat bangsa ini berciri kagetan. Mungkin sementara atau sebagian orang saja yang mengalami seperti itu. Orang menjadi kaget karena melihat, mendengar atau mengalami sesuatu yang dianggap aneh, di luar kebiasaan, atau tidak lazim. Di Indonesia ini, apa saja bisa dan mungkin terjadi. Sebagai ciri masyarakat yang plural atau majemuk selalu begitu. Keadaan yang beraneka ragam, kejadian apa saja menjadi sesuatu yang biasa, sehingga oleh orang lain diangap aneh dan mengagetkan, tetapi bagi bangsa Indonesia tidak seperti itu. Karena itu jika ada yang kaget, mungkin yang mengistilahkan kaget itu sendiri yang sebenarnya kaget. Sementara orang lain sama sekali tidak merasakannya.
2. Dalam kontek keagamaan di Indonesia muncul istilah 'Islam kagetan' . Bagaimana Anda menyikapi hal itu ?
Sama dengan yang saya sebutkan di muka, bangsa ini adalah bangsa yang majemuk, tidak terkecuali keberagamaannya, dan bahkan Islam sendiri juga dipamami secara berbeda-beda. Keberadaan berbagai aliran, madzhab, atau organisasi social keagamaan menunjukkan adanya perbedaan itu. Kenyataan seperti itu, dianggap bukan masalah lagi. Lihat saja, orang berbeda-beda dalam menjalankan kegiatan ritual. Sholat misalnya, tampak bervariasi. Ada yang pakai doa qunut dan ada yang tidak, dalam menentukan awal dan atau akhir ramadhan ada yang menggunakan hisab dan ada yang menggunakan rukyat, setelah selesai shalat ada yang berdzikir panjang, tetapi ada ada yang tidak mau menjalankannya. Semua tidak ada masalah, masing-masing berjalan. Bahkan ada yang lebih aneh lagi mengaku sebagai seorang muslim, tetapi datang ke masjid hanya ketika shalat Id saja. Melihat kenyataan itu orang memahami sebagai hal biasa, dan tidak terjadi saling mengolok, oleh karena mengolok-olok orang lain itu dalam ajaran Islam tidak dibolehkan. Oleh karena itu, Islam kagetan sebenarnya juga tidak ada, kecuali sementara orang saja yang ingin menyebut itu, sementara buktinya tidak gampang dicari.
3. Apakah kita harus menjadi muslim kagetan, atau justru bersikap welcomne, melihat fenomena seperti kejadian bulan puasa kemarin ? ( ex : Hormatilah yang tidak puasa dan tragedy di UIN Sunan Ampel, Tuhan Membusuk).
Kalau sekiranya mau kaget juga silahkan tidak mengapa, tetapi mengapa yang demikian itu saja menjadi kaget. Sejak Rasulullah masih hidup, ada saja orang yang tidak mempercayai Islam, dan kemudian mengolok-olok, mencaci maki, merendahkan, menghina, dan bahkan mengusir dan memerangi Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Apalagi sekarang ini, Islam sudah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad, sebagai pembawa risalah itu, selama 15 abad. Oleh karena itu, jika ada orang yang tidak paham dan kemudian menganggap ajaran Islam itu tidak benar misalnya, adalah hal biasa, dan tidak perlu dianggap aneh dan kaget. Beragama itu tidak perlu menjadi kagetan, semuanya dipandang sebagai biasa, dan memang dalam perjalanan sejarah kehidupan memang selalu begitu. Memperbaiki kehidupan beragama harus dimulai dari diri sendiri, dan kemudian keluarganya. Tentu kita harus mengajak atau mengingatkan orang lain, tetapi juga harus menempuh jalan terbaik, yakni bilhikmah. Tatkala kita sudah baik dan dipandang baik, pada saatnya orang lain akan melihat kebaikan itu, dan semoga mereka memperoleh hidayah dan akhirnya meniru kebaikan yang dimaksudkan itu.
4. Sebenarnya yang kaget itu media, atau memang umat Islam ? Sebab media kadang membesar-besarkan perkara remeh hingga berbulan-bulan ?
Umpama saja media kaget dan atau mengajak orang lain kaget, silahkan saja. Sebab dengan melakukan seperti itu, mereka akan memperoleh untung, korannya menjadi semakin laku, misalnya. Bagi media hal demikian itu memang penting. Akan tetapi umat Islam, seharusnya tidak menjadi kagetan. Dengan banyak membaca al Qur'an, hadits nabi, pandangan berbagai ulama, umat Islam seharusnya memiliki pengetahuan yang luas. Keluasan ilmu dan kekayaan informasi itu, pada zaman sekarang ini sangat mudah diraih, dan apalagi para santri di pesantren. Hal demikian itu karena sehari-hari, umat Islam selalu mendengarkan pengajian, khutbah, dan lain-lain. Bandingkan saja dengan orang yang tidak peduli pada agama, mereka tidak mudah memperoleh tambahan ilmu sebagaimana santri dan masyarakat beragama. Maka saya yakin, masyarakat yang kaya ilmu pengetahuan, wawasan, dan berpengalaman luas tidak akan mudah dibuat kaget.
5. Dalam kontek zaman khalifah, banyak keputusan yang membuat umat Islam bertanya-tanya, bahkan sebagian menentang. Misalnya keputusan Sayyidina Umar dalam hal ubudiyah dan lain sebagainya, apakah ini juga masuk kategori Iislam Kagetan atau merupakan bentuk ghirrah keagamaan ?
Munculnya pertanyaan yang dimaksudkan itu sebenarnya tidak saja terjadi pada zaman khalifah, yakni setelah ditinggal wafat oleh Rasulullah. Pada saat Nabi Muhammad masih hidup saja juga sudah muncul pertanyaan, dan bahkan juga terkait dengan ubudiyah. Sebagai contoh, pada saat para sahabat berkumpul dan kemudian datanglah waktu shalat, oleh karena tidak ada air, maka mereka shalat dengan bertayamum. Namun tidak lama setelah selesai shalat, dan ternyata turun hujan, sehingga tersedia air, maka sebagian di antara mereka mengulangi shalatnya dan sebagian lain tidak. Perbedaan pandangan itu kemudian diajukan ke Rasulullah. Ternyata utusan Allah itu membenarkan semuanya. Contoh lainnya, dalam suatu perjalanan dengan para sahabatnya, oleh karena melewati perkampungan Yahudi, Nabi menyarankan agar sholat dijalankan setelah melewati perkampungan itu, agar tidak ada yang terganggu. Namun apa yang terjadi, sebagian mengikuti anjuran Nabi, tetapi sebagian lainnya, oleh karena khawatir kehilangan waktu shalat, mereka shalat di perkampungan Yahudi. Perbedaan dimaksud , setelah dikonsultasikan kepada nabi, lagi-lagi utusan Allah itu membenarkan semuanya. Berbagai perbedaan ternyata telah terjadi, dan jika dipahami secara mendalam adalah oleh karena kehati-hatian mereka atau didorong oleh upaya untuk menjalankan agamanya dengan sebaik-baiknya. Maka umpama sekarang ini ada perbedaan di tengah masyarakat, maka seharusnya hal itu tidak perlu siapa saja menjadi kaget.
6. Apa mungkin istilah Islam Kagetan ini hanya istilah orang liberal agar kita tetap adem ayem menyikapi polemic dan problematika kekinian ?
Tentu yang bisa menjawab secara pasti terhadap pertanyaan tersebut adalah orang yang mendengarkan ketika istilah itu muncul pertama kali. Siapa orangnya, tentu saya tidak tahu, apakah orang liberal atau lainnya. Bagi saya tidak perlu mengurusnya, oleh karena tidak ada gunanya. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana semuanya secara bersama-sama dapat mewujudkan Islam yang damai, sejuk, adil, dan nilai-nilai luhur lainnya. Juga, semua pihak seharusnya berusaha bagaimana seluruh umat Islam bersatu agar menjadi kokoh. Sifat-sifat buruk seperti hasut, saling membenci, takabur, merasa benar sendiri , sesat menyesatkan, permusuhan, saling memfitnah, dan semacamnya bisa dijauhkan dari umat Islam. Di kalangan umat Islam tidak boleh saling curiga mencurigai, berolok-olok, tuduh menuduh, dan lain-lain. Dengan ber-Islam, maka bagaimana agar kehidupan ini benar-benar selamat, baik di dunia hingga di akherat. Di antara sesama agar memperkukuh tali silaturrahmi dan saling mengingatkan dengan cara arif dan atau hikmah. Dengan cara itu maka sakwasangka dan saling tidak mempercayai segera terkurangi, dan bahkan menjadi hilang dari kalangan umat Islam.
7. Saran Anda kepada umat Islam menyikapi berbagai kasus ke-Islaman ?
Pada akhir-akhir ini terasa sekali bahwa persatuan umat Islam di mana-mana semakin terganggu. Di beberapa negara Islam terjadi pertikaian, permusuhan, dan bahkan perang yang sedemikian memprihatinkan. Kita tentu sangat sedih melihatnya. Demikian pula di Indonesia sendiri, tuduh menuduh, sesat menyesatkan, dan bahkan mengkafirkan antar sesama dianggap sebagai hal biasa. Seolah-olah menuduh seseorang sebagai kafir diperbolehkan dan dianggap berguna. Padahal yang demikian itu menunjukkan bahwa nafsu menjadi lebih dominan dibanding suara hati nurani. Menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan dan membahayakan itu, maka cara terbaik adalah kembali kepada dua pusaka peninggalan Rasulullah, yaitu al Qur'an dan Hadits Nabi. Kita seharusnya segera kembali pada kiblat yang terasa semakin hilang, yaitu Baitullah. Manakala pada setiap saat, hati kita semuanya, kita tujukan kepada kiblat yang satu, ialah Baitullah, maka insya Allah penyakit hati yang ada di dada kita masing-masing akan dicabut oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan cara itu, umat Islam akan menjadi jernih dan sehat, baik jasmani dan apalagi ruhaninya. Siapapun yang hatinya jernih dan sehat, maka akan cenderung menjadi baik dan yang bersangkutan dengan sendirinya akan menyukai kebaikan dan kedamaian. Wallahu a'lam



