Merasa Beragama Dengan Baik
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 24 September 2016 . in Dosen . 7941 views

Hanya oleh karena sudah bersyahadat, menjalankan shalat lima waktu, berpuasa, dan juga naik haji, maka seseorang merasa telah menjalankan agamanya dengan baik dan sempurna. Perasaan yang demikian itu sebenarnya tidak mengapa, asalkan tidak menganggap orang lain salah. Tugas menilai tentang benar dan salah terkait keberagamaan adalah bukan menjadi urusan seseorang, melainkan urusan yang bersangkutan sendiri dan urusan Allah dan Rasul-Nya.

Seringkali kita melihat seseorang menyukai untuk membaca keberagamaan orang lain, dan kemudian membanding-bandingkannya, tidak terkecuali dengan dirinya sendiri. Hasilnya, hanya oleh karena yang dilihat itu shalat di masjid yang berbeda dari dirinya maka dianggap berada di luar kelompoknya. Lebih jauh lagi, beranggapan bahwa hanya ibadahnya saja yang benar, sementara orang lain yang tidak sama dengan dirinya dianggap menyimpang dan salah.

Ajaran agama sebenarnya menganjurkan agar seseorang lebih melihat pada dirinya sendiri, dan bukan sebaliknya, melihat orang lain. Agama menganjurkan agar supaya terlebih dahulu mengurus dirinya sendiri dan keluarganya, dan bukan mengutamakan untuk mengurus orang lain. Dalam segala sesuatu, agama menganjurkan agar seseorang memulai dari dirinya sendiri, dan baru mengajak orang lain. Tatkala mengajak orang lain pun juga harus dilakukan dengan cara bijak atau hikmah.

Setiap manusia selalu memiliki hati nurani. Ruh atau hati nurani itu, oleh karena bersifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah, maka tidak pernah berbohong. Apa yang dibaca sekalipun terhadap dirinya sendiri akan selalu benar. Seseorang bisa membohongi orang lain, akan tetapi tidak akan pernah mampu membohongi dirinya sendiri. Suara hatinya akan mengatakan apa adanya, tidak kurang dan juga tidak lebih. Itulah sifat hati nurani yang selalu bersuara jujur dan benar.

Hati nurani yang selalu jujur itu sebenarnya juga akan mengatakan apa adanya terhadap keberagamaan yang dijalaninya sendiri. Seseorang akan menyadari bahwa shalatnya sudah dijalankan, dan begitu pula, zakat, puasa, dan juga haji. Namun setiap orang juga mengetahui bahwa apa yang telah dilakukan, terkait keberagamaananya, belum sempurna atau belum berhasil mengubah perilaku dirinyanya sendiri. Namun oleh karena seseorang tidak mau direndahkan, dikalahkan, dianggap kurang, dan dilampaui oleh orang lain, maka justru orang lain dianggap keliru dan sesat.

Hanya saja di dalam diri manusia selalu terdapat dua jenis kekuatan, yaitu hati nurani dan nafsu. Hati nurani selalu mengajak untuk berbuat jujur, adil, dan berkata benar. Sebaliknya, nafsu menginginkan untuk meraih kemenangan, keunggulan, dan kelebihan dibanding orang lain. Nafsu seringkali lebih dominan dan mengalahkan nuraninya sendiri. Tatkala nafsu mendominasi, orang lain dianggap salah, keliru, dan tidak sempurna. Namun seringkali seseorang kesulitan membedakan antara panggilan hati nurani dan nafsunya.

Tidak jarang, ajakan nafsu dianggap sebagai panggilan agama dan atau hati nurani. Seseorang merasa telah memenuhi panggilan agamanya, padahal sebenarnya yang terjadi adalah tidak lebih dari mengikuti nafsunya. Agama dijadikan wahana untuk memperoleh kemenangan, keunggulan dan kemasyhuran. Padahal misi agama adalah mengajak pada keselamatan, kedamaian, dan berakhlak mulia, sehingga dalam beragama sebenarnya tidak perlu ada yang dikalahkan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up