Nasehat Orang Tua : Jangan Bodoh Seperti Kerbau
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 30 September 2016 . in Dosen . 21783 views

Sejak usia anak-anak tinggal di pedesaan, saya sudah dilatih oleh orang tua akrab dengan kehidupan binatang ternak. Seingat saya, sejak usia kelas dua SD, saya sudah diberi tanggung jawab untuk menggembala bebek, sekalipun jumlahnya hanya sekitar 10 ekor. Setelah dianggap mampu, tugas saya ditingkatkan, yaitu bertanggung jawab memelihara kambing, ada tiga kambing yang sehari-hari harus saya carikan makan. Memang di alam pedesaan tidak sulit mencari makanan kambing, apalagi pada 60-an tahun yang lalu.

Pada zaman itu, anak-anak pada umumnya, tidak sebagaimana sekarang, tidak ada yang dimanjakan. Sepulang dari sekolah, mereka harus segera pergi ke kebun atau ke hutan untuk mencari rumput, kayu bakar, dan lain-lain. Bekerja sejak masa anak-anak sudah menjadi keharusan. Pada saat itu belum ada lembaga perlindungan terhadap anak-anak, dan juga belum terdengar ada HAM. Orang tua bebas memilih cara dalam mendidik anak-anaknya.

Menjadi anak desa memang terasa berat, yaitu pagi sekolah, siang mencari rumput, dan kadang juga harus mencari kayu bakar, bahkan sorenya masih harus mengaji, belajar membaca al Qur'an di Madrasah Diniyah. Sudah sedemikian capek, oleh karena bekerja sepanjang hari itu, jika tidak jauh dari rumah, di malam hari, terdapat petunjukkan wayang kulit, juga masih betah melihatnya. Itulah kehidupan anak desa. Namun, tidak ada anak yang mengeluh, merasa berat, oleh karena yang dipahami, hidup ya seperti itu.

Nasehat ayah, di antaranya yang tidak pernah saya lupakan, oleh karena selalu diulang-ulang ialah : 'jangan bodoh seperti kerbau'. Ayah tahu bahwa saya sudah akrab dengan berbagai jenis ternak, mulai ayam, itik, bebek, kambing, kerbau, sapi, dan kuda. Sejak kecil saya punya kebanggaan, jika ke mana-mana naik kuda. Sebagai anak desa, bisa naik kuda, apalagi binatang itu berukuran besar, dicap jangkar, terasa bangga sekali. Tidak semua orang di desa memelihara kuda, hanya orang-orang tertentu, sehingga berkuda menambah percaya diri.

Nasehat ayah bahwa kamu jangan bodoh seperti kerbau yang diulang-ulang, menjadikan saya penasaran. Apa bodohnya kerbau. Bagi saya, kerbau itu binatang ternak yang paling sabar, penurut , dan mudah digembala. Jika perutnya sudah kenyang, kerbau dihalau ke sungai, mereka mandi, dan setelah cukup kemudian diarahkan ke kandang. Kerbau tidak pernah menyulitkan penggembalanya. Hanya kerbau tidak mau diajak serba cepat, berjalannya pelan, dan begitu pula ketika makan, tidak pernah tergesa-gesa.

Menggembala kerbau juga harus sabar. Ternak yang disebut oleh ayah sebagai binatang bodoh itu tidak bisa dipaksa berjalan cepat. Bahkan jika suatu saat harus berjalan tergesa-gesa, karena tampak ada hujan yang segera turun, kerbau juga tidak bisa diajak cepat. Bahkan sekalipun sudah dicambuk, jika waktunya kencing, kerbau juga berhenti, buang kotoran. Aneh, kerbau yang berciri khas bodoh itu, ternyata sangat istiqomah. Jika di suatu tempat dalam perjalanan buang kotoran, maka ketika lewat di tempat itu lagi juga akan melakukan hal yang sama.

Melihat perilaku kerbau tersebut, saya menjadi tidak paham terhadap apa yang disebut bodoh. Sebab, kerbau selalu istiqomah. Manusia saja kalah dalam hal beristiqomah itu. Didorong oleh rasa penasaran, saya mencoba untuk mencari di mana letak kebodohan kerbau. Pada saat musim kemarau, pasti sulit mencari rumput, di mana-mana tanah kering, sehingga rumput tidak tumbuh. Pada saat musim kemarau panjang yang tersisa hanya daun-daun dan rumput, limbah tanaman padi yang semuanya sudah mengering.

Selalu saja mendengar nasehat ayah, bahwa kerbau itu bodoh, saya manfaatkan kebodohan itu. Beberapa ternak kerbau yang saya gembala, agar mau makan daun atau rumput kering, matanya saya tutup dengan kertas hijau, agar mereka melihat dedaunan kering dimaksud juga menjadi tampak berwarna hijau pula. Ternyata kerbau mau makan daun-daun kering seperti halnya makan daun yang hijau sungguhan. Hanya saja, daun-daun dan limbah tanaman padi yang sudah mengering tersebut saya beri air dan garam, agar terasa enak. Kerbau bodoh ternyata juga mudah dibodohi.

Maka benar pesan ayah, yaitu jangan menjadi orang bodoh. Sebab siapapun yang bodoh biasanya juga semakin mudah dibodohi, contoh konkritnya adalah kerbau tersebut. Pendidikan, seharusnya diarahkan agar anak-anak menjadi semakin pintar dan cerdas, baik hatinya maupun pikirannya. Kiranya sangat beda antara banyak hafalan dengan kepintaran. Belum tentu, seseorang hafalannya banyak selalu cerdas. Kerbau sangat hafal tempat buang kotoran, tetapi disebut bodoh dan memang bodoh. Hafalan bagi siapa saja memang sangat penting, tetapi jangan sebatas menghafal, seharusnya juga mengerti, dan lebih dari itu, di zaman modern seperti sekarang ini, siapapun harus cerdas dan sekaligus cerdik, agar tidak dibodohi oleh orang atau bahkan bangsa lain. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up