Penelitian untuk penulisan thesis dan atau disertasi, khususnya di bidang ilmu social, seperti ilmu ekonomi, hukum, pendidikan, dan sejenisnya tidak mudah dilakukan. Perilaku manusia yang dijadikan obyek penelitian, kejadiannya tidak bisa diulang. Bukan sebagaimana obyek penelitian ilmu-ilmu alam, yang merupakan benda mati, memiliki konsistensi, dan kejadiannya sangat mungkin bisa diulang-ulang. Ilmu social, benda yang dikaji adalah perilaku manusia, mereka itu memiliki ciri yang sangat unik dan berubah-ubah. Di antara keunikannya itu, antara masing-masing orang memiliki watak, perilkaku, karakter yang berebda-beda.
Konsekuensi dari perilaku manusia sebagaimana digambarkan tersebut menjadikan kegiatan penelitian dengan mengambil obyek manusia bukan pekerjaan mudah. Perilaku yang diteli selalu amat variatif dan berubah-ubah. Selain itu apa yang ditampakkan oleh seseorang bukan selalu menggambarkan sesuatu yang sebenarnya. Manusia bisa menampakkan kepura-puraan, seolah-olah, seakan-akan, dan sejenisnya, yang semua itu dilakukan untuk menutupi apa yang justru sebenarnya. Padahal peneliti ingin mendapatkan gambaran yang apa adanya itu.
Oleh karena itu meneliti perilaku manusia, seseorang harus mengetahui siapa sebenarnya hakekat manusia itu sendiri, baik pada tataran pribadi, kelompok dan tatkala mereka menjadi bagian komunitas besar berupa masyarakat dalam berbagai ikatan, misalnya ikatan etnis, organisasi, kepercayaan, dan lain-lain dan bahkan dalam berbagai ukuran, mulai dari keluarga, kelompok, suku hingga bangsa. Tidak saja masing-masing individu selalu menunjukkan perbedaan, tetapi akan berbeda lagi ketika seseorang menjadi bagian kelompok yang berlain-lainan.
Betapa sulitnya memahami manusia, dalam penelitian sosial harus membatasi tentang siapa sebenarnya yang diteliti sehingga obyek itu menjadi jelas. Jika penelitian itu ingin mendapatkan data, maka peneliti harus bisa membatasi dan menjelaskan yaitu data tentang perilaku apa, siapa yang dimaksudkan itu, di mana, dan kapan kejadian itu berlasngusung. Memang pekerjaan itu tidak mudah, sehingga upaya membatasi apa yang diteliti itu juga tidak mudah. Akan tetapi, bagaimana pun juga apa yang sebenarnya diteliti harus jelas. Benda yang diteliti melalui observasi, atau wawancara, dan sejenisnya harus bisa disebutkan secara jelas. Meneliti tentang seseorang atau sekelompok orang, maka benda atau perilaku orang yang dimaksud harus bisa diketahui oleh siapapun.
Banyak kesalahan yang dilakukan oleh para peneliti pemula, sekalipun jenis penelitian yang dimaksud digunakan untuk penulisan thesis dan atau disertasi, yaitu obyek yang diteli gagal dijelaskan. Perilaku apa dan dilakukan oleh siapa tidak berhasil ditunjukkan secara jelas. Berawal dari ketidak jelasan persoalan yang diteliti, maka juga menjadikan tidak jelas pula siapa yang seharusnya diwawancarai, data apa yang akan dihimpun, dan bahkan hingga tidak begitu dipahami pula untuk apa sebenarnya data yang telah dikumpulkan itu. Semua menjadi tidak jelas oleh karena gagal dirumuskan apa sebenarnya yang ingin dipahami dari penelitiannya itu.
Sekali lagi, meneliti di bidang ilmu social pun harus jelas perilaku apa yang sebenarnya ingin dipahami. Perilaku manusia bisa dilihat dari beberapa perspektif, yaitu dari sudut pandang sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropolgi. Beberapa Ilmu sosial dasar itu, memang seharusnya dipahami oleh siapapun yang akan meneliti perilaku manusia, sekalipun sebatas pada dasar-dasarnya saja. Tanpa mengenal pengetahuan dasar itu, peneliti akan kesulitan di dalam melakukan pekerjaannya.
Berbekalkan pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu social sebagaimana disebutkan itu maka peneliti akan mengetahui konsep-konsep disiplin ilmu dimakud, metode atau pendekatan penelitian yang sudah dikembangkan oleh para ahli di bidangnya masing-masing, dan bahkan juga teori-teori yang sudah berhasil dirumuskan atau dihasilkan oleh para ahlinya. Mengenal berbagai hal itu, tentu akan memudahkan peneliti di dalam melakukan penelitian, berhasil membatasi dan atau memperjelas obyek penelitiannya, mulai dari siapa yang diteliti, kapan dan dimana , serta bagaimana menghimpun informasi atau data yang diperlukannya. Dengan cara itu yang bersangkutan juga sudah mengetahui konsep, dan berbagai teori sosial yang telah dibuat oleh peneliti terdahulu.
Meneliti di bidang ilmu social, tanpa berbekalkan ilmu yang dimaksudkan itu, maka tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Sebagai contoh yang amat sederhana, orang yang meneliti tentang sate, hasilnya akan lebih mendalam jika yang bersangkutan sudah mengetahui seluk beluk tentang penjual sate. Sebaliknya, bisa dibayangkan, seseorang yang tidak pernah tahu sate, meneliti tentang sate, maka mengenali jenis daging yang akan disate saja sudah kesulitan.
Mungkin saja penelitian yang dilakukannya akan selesai, tetapi bisa dipastikan hasilnya tidak mendalam. Peneliti yang seperti dicontohkan tersebut, ketika diminta menjelaskan tentang seluk belum persatean, pengetahuannya bisa jadi masih akan kalah dibanding tukang sate sendiri. Padahal sebagai peneliti, seharusnya memiliki kemampuan lebih dari mereka yang diteliti. Peneliti seharusnya mampu menjelaskan, membuat prediksi, dan kemampuan melakukan control terhadap persoalan di bidang ilmu yang ditelitinya itu. Itulah sebabnya, seorang peneliti, tidak terkecuali untuk penulisan thesis atau pun juga disertasi, setelah lulus, yang bersangkutan dianggap ahli di bidang ilmu yang ditelitinya itu.
Sebagai tambahan, pekerjaan meneliti untuk penulisan thesis dan atau disertasi berbeda dari kerja seorang wartawan. Seorang wartawan sudah cukup ketika berhasil mengungkap dan menjelaskan peristiwa yang dilihat dan kemudian menulisnya. Oleh karena itu, mereka tidak perlu berlama-lama berada di tempat peristiwa itu. Sementara itu, peneliti tidak cukup hanya mengetahui selintas tentang apa yang diteliti. Apalagi pengetahuan itu, hanya diperoleh dari wawancara kepada orang yang dianggapnya tahu tentang peristiwa atau obyek dimaksud.
Seorang peneliti, dalam mencari dan menghimpun data harus sampai mendalam. Artinya, tidak saja merekam apa yang tampak, tetapi juga makna, nilai, atau hal lain yang melatar-belakangi kejadian yang diteliti itu. Umpama harus bertanya kepada seseorang, maka sifatnya hanya tambahan, sekedar untuk memperjelas saja. Peneliti tidak cukup hanya sekedar percaya dan mencukupkan dari informasi yang bersifat tamabahan dimaksud. Namun betapa pun rumitnya, penelitian di bidang ilmu yang social, yang obyek kajiannya tidak selalu mudah dipahami, tetap akan berhasil diselesaikan asalkan dilakukan dengan bersungguh, tulus, dan yang bersangkutan memang tergolong orang yang menyukai ilmu pengetahuan. Wallahu a'lam



