Bahaya Orang Miskin Dan Yatin Nurani
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 30 Oktober 2016 . in Dosen . 4094 views

Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang adanya orang miskin dan yatim nurani. Biasanya ketika orang berbicara tentang kemiskinan dan juga anak yatim selalu dikaitkan dengan kekurangan dari aspek ekonominya. Orang yang tidak memiliki kekayaan yang cukup dipandang menderita. Demikian pula, anak yatim dianggap harus mendapatkan perhatian, juga hanya dikaitkan dengan kebutuhan ekonominya sehari-hari

Siapapun memandang bahwa kecukupan ekonomi itu penting. Disebutkan bahwa kemiskinan ekonomi akan mendekatkan pada kekufuran. Orang miskin dipandang sangat mudah dan rentan meninggalkan agamanya. Oleh karena itu, sebisa-bisa umat Islam jangan menjadi miskin, agar agamanya tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Padahal kenyataannya banyak orang kaya yang juga mudah terpengaruh dan meninggalkan agamanya.

Sebenarnya soal agama atau keimanan tidak terlalu terkait dengan harta kekayaan. Bisa saja orang miskin tetapi keimanannya justru sangat kuat dan mendalam. Sebaliknya, tidak sedikit orang kaya tetapi justru meninggalkan ibadah. Betapa banyak orang-orang yang bertempat tinggal di perkampungan elite dan mengaku beragama Islam tetapi tidak selalu datang ke masjid atau tidak peduli pada agamanya.

Sebenarnya miskin dan yatim nurani justru amat berbahaya dibanding sekedar miskin harta. Banyak orang kaya harta yang dengan kekayakaannya itu justru melalaikan dirinya mengingat Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang miskin dan yatim yang sebenarnya. Nuraninya tidak pernah terurus dan memperoleh pendidikan. Akhirnya mereka menjadi buta, tuli, dan bisu. Orang yang seperti ini sebenarnya akan sangat membahayakan, baik terhadap dirinya sendiri maupun pada orang lain.

Orang yang disebut miskin dan yatin nurani, mereka itu memiliki mata akan tetapi tidak dapat digunakan untuk melihat, mereka memiliki telinga tetapi tidak dapat digunakan untuk mendengarkan, mereka juga memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk berpikir. Orang seperti itu disebutkan di dalam kitab suci al Qur'an bagaikan binatang dan bahkan lebih bodoh lagi. Orang miskin harta disebut menderita, tetapi orang yang miskin dan yatim nurani sebenarnya jauh lebih menderita dan bahkan berbahaya.

Dalam sejarah kemanusiaan, banyak dikisahkan adanya orang-orang yang miskin dan yatim nurani, misalnya Raja Namrud, Fir'aun, Abu jahal, Abu Lahab, dan masih banyak lagi lainnya. Para raja yang miskin dan yatim nurani itu dalam memerintah sangat tidak adil, diktator, apa saja yang dimaui harus terwujud sekalipuin harus mengorbankan keselamatan banyak orang. Bahkan, lebih dari itu, karena kesombongannya, mereka mengaku sebagai tuhan yang minta disembah. Pada zaman modern seperti sekarang ini, sebenarnya banyak orang yang miskin dan yatim nurani.

Orang yang disebut miskin dan yatim nurani itu sehari-hari tidak mampu melihat penderitaan orang-orang yang berada di kanan kirinya. Sekalipun di dekat rumahnya terdapat banyak orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, bertempat tinggal di tempat yang kumuh, berpakaian apa adanya, dan terbelakang, namun mereka tidak pernah dilihatnya. Mereka yang miskin dan yatim nurani memiliki telinga tetapi tidak bisa mendengarkan keluh kesah dan penderitaan orang lain, demikian pula matanya tidak mampu untuk melihat keadaan yang serba menyusahkan itu.

Selain itu, manakala menjadi penguasa, orang yang miskin dan yatim nurani akan lebih membahayakan. Untuk mendapatkan keuntungan dan kejayaan dirinya, apa saja direkayasa atau diakali tanpa peduli orang lain akan menderita. Itulah bahaya orang yang sedang menderita kemiskinan dan yatim nurani. Mereka itu jauh lebih membahayakan dibanding orang yang miskin dan yatim harta. Orang yang miskin dan yatin ruhani sekalipun mengaku beragama, sebenarnya hanya berbohong belaka, atau disebiut sebagai orang-orang yang mendustakan agama. Tatkala sedang shalat pun, mereka lalai akan shalatnya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up