Berlebih-lebihan Dalam Mengumpulkan Harta
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 31 Oktober 2016 . in Dosen . 77817 views

Sudah menjadi sifat manusia, di antaranya adalah sangat mencintai harta. Mereka megira bahwa harta akan dapat menyelamatkan dirinya. Selain itu, bahwa dengan harta yang melimpah, seseorang akan merasa dipandang hidupnya berhasil , semua keinginannya dapat dipenuhi, dan seterusnya. Hanya saja kecintaan terhadap harta ternyata tidak berbatas. Sekalipun sudah berlebih, dan bahkan umur yang bersangkutan sudah disadari tidak akan bertahan lama, tetapi tidak pernah berhenti mencari harta. Terhadap harta orang serba merasa berkekurangan.

Padahal kebutuhan manusia itu sebenarnya amat terbatas, yaitu untuk konsumsi sehari-hari, membeli pakaian, rumah sebagai tempat tinggal, dan kebutuhan sekunder lainnya seperti untuk pendidikan, biaya kesehatan, rekreasi, jaminan hari tua, dan lain-lain, yang semua itu jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Untuk memenuhi keperluan konsumsi, sebenarnya dapat dihitung, dan ternyata amat kecil. Setiap bulan, seorang hanya memerlukan beras sekitar 8 kg. Dari hitungan itu, setahun hanya perlu 1 kuintal, sepuluh tahun hanya membutuhkan beras 1 ton.

Memperhatikan hitungan tersebut, jika seseorang berusia 70 tahun, maka hanya memerlukan beras 7 ton saja. Sementara itu, jika seseorang memiliki sawah satu hektar kemudian ditanami sekali saja, akan panen antara 6 hingga 7 ton, sehingga ketika seseorang memiliki sawah satu hektar dan kemudian ditanami sekali saja, hasil panennya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangannya seumur hidup. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pakian, perumumahan, dan kebutuhan lain yang bersifat sekunder juga tidak terlalu banyak.

Kebutuhan akan harta dalam hidup ini dirasakan menjadi banyak oleh karena manusia memiliki keinginan yang tidak terbatas. Manusia tidak saja berharap kebutuhan hidupnya tercukupi, tetapi keinginannya yang tidak terbatas itu juga dapat dipenuhi. Keinginan itu tidak saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi yang lebih sulit dipenuhi adalah keinginannya menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Padahal ketika seseorang telah menemui ajalnya, harta yang dikumpulkan juga tidak akan memberi manfaat apa-apa terhadap pemiliknya.

Kecintaan secara berlebih-lebih di dalam menumpuk harta sebenarnya selain tidak memberi manfaat terhadap dirinya, juga akan mengganggu masyarakat pada umumnya. Menumpuknya harta pada diri seseorang akan melahirkan sifat takabur, iri hati, dengki, fitnah memfitnah, dan seterusnya. Itulah di dalam Islam juga diperingatkan agar tidak menumpuk-numpuk harta. Disebutkan bahwa harta secara hakiki tidak akan menyelamatkan diri seseorang, dan bahkan membahayakan terhadap pemiliknya jika tidak dibelanjakan secara benar.

Sudah cukup lama di negeri ini disebut-sebut telah terjadi kesenjangan ekonomi yang luar biasa lebarnya. Kesenjangan itu bertambah lama bukan semakin berkurang, melainkan sebaliknya, yaitu semakin jauh jaraknya. Mereka yang berhasil mengakumulasi modal kekayaan semakin bertambah usahanya, tanpa terkendali. Kekayaan mereka tentu semakin menumpuk hingga tidak terhitung. Hal demikian itu sebenarnya tidak mengapa, asalkan tidak mengganggu usaha rakyat kecil yang hasilnya hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun siiapapun dapat menyaksikan, betapa banyak usaha rakyat kecil mati disebabkan oleh usaha berskala besar. Hadirnya toko atau pasar modern di berbagai tempat misalnya, disadari atau tidak, telah membunuh usaha kecil milik rakyat dimasud. Hal demikian itu juga terjadi pada usaha-usaha berskala besar lainnya di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan lain-lain. Semangat undang-undang yang mengatakan bahwa kekayaan negara adalah untuk kemakmuran bersama, tetapi ternyata tinggal kata-kata yang tidak memiliki makna apa-apa. Berita tentang penggusuran rakyat kecil untuk kepentingan pemodal besar terdengar di mana-mana dan sudah bukan rahasia lagi.

Untungnya rakyat Indonesia tidak terlalu memiliki kemauan untuk bersuara sekalipun dirinya menderita. Suara dimaksud hanya disimpan di dalam hati masing-masing. Menyadari kenyataan itu seharusnya para pemuka masyarakat, tokoh agama, para ilmuwan, dan cendekiawan menyuarakan suara hati rakyat itu. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak banyak yang melakukannya. Dalam keadaan seperti itu, rakyat kecil seolah-olah tidak memiliki lagi pemimpin atau pemuka yang bisa diharapkan untuk menyuarakan hati nurani mereka atas penderitaan yang dialami selama ini.

Beberapa hari terakhir dapat dilihat bahwa keinginan untuk melakukan demo yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 4 Nopember 2016 di Jakarta memperoleh sambutan yang luar biasa besarnya. Orang dari berbagai daerah akan datang ke ibu kota, hanya untuk berdemonstrasi. Besarnya semangat itu kiranya perlu dibaca lebih mendalam untuk mendapatkan pemahaman tentang suara hati rakyat sebenarnya. Rasa-rasanya, semangat tersebut bukan saja tumbuh dari sekedar ucapan Ahok yang disebut menistakan al Qur'an dan ulama, ------sekalipun hal itu juga penting, melainkan ada suara batin yang ingin disampaikan kepada para penguasa yang diharapkan dapat mengubah keadaan atau menolong atas kesulitan hidup yang selama ini dirasakan oleh rakyat.

Oleh karena itu, manakala dari semangat berdemonstrasi yang sedemikian besar itu berhasil dibaca dan dipahami oleh para pemimpin bangsa, kemudian dijadikan bahan renungan dan sekaligus digunakan untuk merumuskan kebijakan mendasar untuk mengatasi kesenjangan, meraih kemakmuran dan keadilan, maka itulah sebenarnya yang ditunggu-tunggu oleh rakyat selama ini. Jika demikian itu yang terjadi, maka demontrasi yang akan dilaksanakan tersebut memiliki arti besar bagi bangsa ini, yaitu menjadikan kesenjangan semakin berkurang. Sekelompok kecil yang menguasai sebagian besar kekayaan bangsa ini berhasil dikendalikan, agar mereka tidak berlebih-lebihan, dan hal itu juga sekaligus sebagai cara untuk melindungi rakyat kecil yang sebenarnya hanya berharap agar hidupnya dapat bertahan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up