Bersatu Ternyata Benar-benar Mahal
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 15 Oktober 2016 . in Dosen . 1674 views

Jangankan berlainan agama, sesama agama yang dipeluknnya saja ternyata tidak selalu mudah bersatu. Masing-masing membuat kelompok, organisasi, madzhab, aliran hingga banyak sekali jumlahnya. Adanya perbedaan sebenarnya tidak mengapa, asalkan di antara mereka tidak saling membuat jarak, pagar, atau tembok yang menghalangi saling mendekat dan bersilatturakhiem.

Tentu perbedaan yang menghalangi untuk bersatu di antara sesama sesungguhnya tidak dibenarkan. Apalagi dengan perbedaan itu, mereka sampai hati saling menyalahkan, merendahkan hingga menghina yang lain. Perbedaan memang tidak bisa dihindari. Di dalam al Qur'an juga dijelaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan berbeda-beda. Adanya perbedaan itu agar di antara mereka terjadi saling kenal mengenal dan bukan sebaliknya, yaitu berpecah belah, saling memerangi, dan menghancurkan.

Pada akhir-akhir ini suasana saling berbeda dan menganggap yang lain salah sudah semakin berkembang. Antar kelompok, golongan atau aliran yang gerbeda terbangun pemisah. Antar sesama seolah-olah ada penghalang yang menyebabkan komunikasi atau bersillaturrakhiem tidak lancar. Bahkan terjadi saling curiga mencurigai, sakwasangka, dan saling tidak mempercayai di antara sesama sudah dipandang sebagai hal biasa.

Bersatu akhirnya menjadi barang mahal. Bahkan jangankan berbeda kelompok atau organisasi, sesama dalam organisasi saja sudah mulai menempatkan diri pada pandangan dan pemahaman yang berbeda. Tentu akibat perbedaan itu, di antara masing-masing saling menyalahkan dan menganggapnya rendah. Mengkompromikan di antara mereka yang berbeda itu bukan perkara mudah. Masing-masing di antara mereka menghendaki dipandang benar dan yang lain salah.

Dalam keadaan seperti itu, tuduh menuduh, hasut menghasut, dan bahkan fitnah memfitnah dipandang tidak keliru. Masing-masing merasa berada di jalan yang tepat, dan apa yang dilakukan ditafsiri sebagai bagian dari perjuangan untuk membela kebenaran. Padahal, Islam menganjurkan agar terjadi kerukunan, saling menghargai, menghormati, berkasih sayang, dan juga saling bertolong menolong.

Dalam sejarah kehidupan umat manusia, perpecahan dan apalagi permusuhan tidak pernah membawa hasil kedamaian. Permusuhan selalu membuahkan sakit hati, dendam, dengki, hasut menghasut, fitnah dan sejenisnya. Menghilangkan penyakit hati itu juga tidak mudah dilakukan. Biasanya jika telah muncul penyakit semacam itu, maka akan segera berkembang biak menjadi semakin besar dan membahayakan.

Manakala terjadi fitnah hingga melahirkan perpecahan dan permusuhan, maka cara mengatasi hanya satu, ialah kembali kepada dua pusaka peninggalan Rasulullah, yaitu al Qur'an dan Sunnah Nabi. Sudah barang tentu, di antara yang berbeda itu seharusnya saling mendekat, berusaha memahami, menghargai, dan tentu akan berbuah sifat mulia, yaitu saling berkasih sayang.

Memang hal tersebut mudah dikatakan, tetapi untuk bersatu itu, sekalipun indah, pada implementasinya ternyata tidak gampang. Perlu biaya dan sama-sama saling bersedia untuk berkorban. Pengorbanan itu bukan semata berupa harta benda, melainkan adalah suasana hati, yaitu hati yang mau mengalah, mau merugi, mau merendah, dan ikhlas tatkala harus dilampaui. Bersatu akhirnya menjadi benar-benar mahal. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up