Suatu saat, secara kebetulan saya kedatangan beberapa orang yang sebenarnya tidak saya kenal sebelumnya. Setelah saya persilahkan masuk rumah, ternyata mereka mengaku sebagai guru agama yang mengajar di Sekolah Dasar. Dalam pembicaraan selanjutnya, saya memperoleh keluhan bahwa menjadi guru agama di zaman seperti sekarang, dirasakan amat sulit. Apa yang diajarkan di sekolah selalu berlawanan dengan apa yang dialami oleh anak-anak di rumah dan juga di tengah masyarakat.
Di sekolah diajarkan tentang sopan santun, menghormati orang tua dan guru, peduli sesama, dan seterusnya. Sementara itu di rumah tangga dan juga di masyarakat apa yang dilihat oleh anak-anak justru kebalikannya. Melalui TV dan juga media social yang juga dimiliki, anak-anak bisa melihat apa saja yang sebenarnya belum pantas dilihat oleh mereka. Di sekolah diajarkan membaca al Qur'an, shalat lima waktu, dan seterusnya, tetapi belum tentu orang tua sendiri peduli pada kegiatan itu.
Selain itu, guru merasakan bahwa jam yang disediakan untuk mengajar agama amat terbatas. Disebutkan, tidak mungkin hanya dalam waktu sesingkat itu, para siswa berhasil mampu membaca al Qur'an dan juga memiliki pengetahuan dasar yang seharusnya tentang agama Islam. Dikatakan, beruntung manakala di lingkungan tempat tinggal anak-anak ada kegiatan Taman Pendidikan Al Qur'n (TPA) sehingga di pagi hari anak-anak belajar di Sekolah Dasar, sorenya belajar di TPA. Tanpa mengikuti TPA nak-anak dipastikanh tidak akan bisa membaca al Qur'an.
Mendengar keluhan para guru agama yang mengajar di Sekolah Dasar tersebut, saya mereproduksi ingatan ketika dulu saya belajar agama di Sekolah Menengah Pertama. Saya katakan bahwa pada saat itu jam pelajaran agama juga sama, sangat terbatas. Jika tidak salah ingat, pelajaran agama hanya diberikan sekali dalam seminggu. Oleh karena itu, terbatasnya jumlah jam pelajaran agama di sekolah bukan sesuatu yang baru. Jika keterbatasan waktu itu dikeluhkan maka sudah sekian lama para guru agama harus mengeluh, dan tanpa ada perubahan kebijakan. Maka, sekedar mengeluh sebenarnya tidak akan menyelesaikan masalah.
Guru agama yang mengajar di SMP Negeri di mana saya sekolah pada waktu itu terasa sangat baik, sehingga ia sangat dicintai oleh para muridnya. Perilaku Guru agama yang terkesan baik itu saja sudah menjadi pelajaran tersendiri. Dengan demikian, melihat guru agama sama halnya melihat orang baik. Tanpa membaca buku pelajaran, ketika bertemu dengan guru agama, sama artinya dengan mendapatkan contoh perilaku yang seharusnya dimiliki oleh para murid. Itulah sebabnya, guru agama dimaksud sangat dihormati, disayangi, dan tampak berwibawa sehingga dipandang oleh para siswa sebagai sosok tauladan dalam kehidupan.
Walaupun guru agama mengajar hanya seminggu sekali, tetapi pada setiap hari ia datang ke sekolah, mengajar bergantian di berbagai klas yang jumlahnya banyak. Kebetulan guru agama di SMP Negeri itu hanya seorang, sehingga bebannya amat banyak. Pada umumnya guru agama tidak dianggap penting, akan tetapi oleh karena kemampuannya membawa diri di sekolah itu, maka tidak saja muridnya yang menghormati, tetapi juga sesama guru yang ada di sekolah itu. Nilai-nilai agama yang indah dan mulia ditampakkan oleh guru agama itu.
Sebagai bukti bahwa guru agama itu sangat dicintai oleh para muridnya adalah ketika ada kabar bahwa guru agama dimaksud akan pindah ke tempat lain. Mendengar berita itu, para murid pada menangis dan apalagi murid-murid perempuan. Kabar kepindahan guru agama itu dianggap sebagai kehilangan sesuatu yang tidak mudah dicarikan penggantinya. Sejak mendengar rencana kepindahan hingga guru agama itu benar-benar tidak bertugas lagi di sekolah itu, para siswa menunjukkan kesedihannya. Mereka sebenarnya tidak mau ditinggalkan oleh guru agama itu. Atas kebaikan pribadi guru agama dimaksud, agama menjadi terasa penting dan benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan ini.
Saya masih ingat, guru agama dimaksud ketika mengajar sebenarnya tidak selalu teratur dan atau terstruktur seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh guru agama sekarang ini. Guru agama sekarang ini dihadapkan pada berbagai aturan yang harus diikuti. Mereka harus mengajar dengan bahan pelajaran yang jelas, buku sumber yang jelas, cara mengajar yang jelas, dan bahkan juga mengevaluasi dengan cara-cara yang jelas pula. Cara seperti itu disebut terstandar dan professional. Akan tetapi apakah dengan cara seperti itu menjadikan siswa semakin menyenangi pelajaran agama dan mengidolakan gurunya, kiranya jawabnya belum tentu.
Guru agama yang mengajar di SMPN sebagaimana saya ceritakan di muka, oleh karena pada waktu itu belum dikenal istilah guru professional, sehingga mengajarnya juga seenaknya. Bahkan ketika masuk kelas, guru agama tersebut tidak segera mengajar, tetapi lebih banyak mendongeng atau berceritera. Guru agama ini rupanya memang pandai bercerita, yaitu tentang kehidupan para nabi, para sahabat nabi, para ulama besar terdahulu, peristiwa-peristiwa penting yang bernuansa keagamaan, dan lain-lain. Sudah barang tentu tidak ada siswa yang tidak menyukai cerita dan apalagi cerita itu amat menarik.
Namun biasanya, sebelum guru agama memulai bercerita, terlebih dahulu ia selalu menyuruh beberapa siswa untuk misalnya membaca al Qur'an, menghafal sifat dua puluh, menyebut nama-nama Rasul, Malaikat, rukun shalat dan seterusnya. Jika tugas yang diberikan tersebut dapat dilaksanakan dengan benar, maka guru agama segera memulai bercerita. Sebaliknya, jika jawaban tidak memuaskan, guru agama akan mengalihkan pada pelajaran lainnya. Oleh karena itu, para siswa bersepakat berusaha mampu memenuhi tugasnya, agar guru agama berkenan menyampaikan dongengnya yang menarik.
Mendasarkan pada cerita tersebut, saya menyampaikan kepada para Guru Agama yang datang ke rumah, sebenarnya masih banyak cara untuk menjadikan para siswa mengenal agama yang seharusnya diketahui dan dijalankan. Selain itu, pelajaran agama tidak sebatas apa yang bisa dibaca melalui tulisan di dalam buku pelajaran, tetapi juga bisa ditampakkan melalui kehidupan guru sehari-hari di sekolah. Ketika guru agama berdisiplin, berpakaian rapi, bertutur kata yang lembut dan menarik, selalu memenuhi janji, bertegur sapa dengan cara yang terbaik, menyenangi dan hormat kepada semua, dan seterusnya, maka sebenarnya perilaku guru agama itu sendiri sudah menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan agama. Selain itu guru agama juga tidak perlu mengeluh. Wallahu a'lam



