Sekedar memaknai sukses dalam menjalani hidup ternyata tidak gampang. Banyak orang membuat ukuran sukses dengan ukuran yang berbeda-beda. Ada orang yang menyebut sukses dalam hidup itu ketika berhasil mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Dengan harta yang melimpah seseorang akan dapat menjalani hidup dengan mudah. Apa saja yang diinginkan akan dapat dipenuhi dengan hartanya itu. Itulah sebabnya, harta menjadi ukuran keberhasilan hidup.
Akan tetapi sementara orang tidak merasa cukup hanya memiliki harta yang melimpah. Sebab ternyata ada hal lain lagi yang dipandang penting dan dapat memuaskan dirinya, yaitu kekuasaan. Maka orang mengejar kekuasaan. Hartanya dikorbankan untuk mendapatkan posisi penting di tengah masyarakat itu. Dengan berbekalkan kekuasaan, harta dan kewibawaan dapat diraih sekaligus. Itulah sebabnya, orang juga mengejar-ngejar kekuasaan dengan berbagai cara.
Memperhatikan hal tersebut, orang disebut sukses adalah mereka yang memiliki harta dan kekuasaan. Mengukur keberhasilan hidup dengan ukuran itu, maka ketika mencari ilmu pun juga memilih yang sekiranya dapat mendatangkan harta dan kekuasaan. Sekalipun berada di tempat yang jauh dan mahal, ilmu yang diyakini dapat mengantarfkan dirinya menjadi kaya dan juga berkuasa, bersedia mengejarnya. Akhirnya mencari ilmu dikaitkan dengan harta dan juga kekuasaan.
Mereka berpandangan tersebut oleh karena mengira bahwa hidup hanya sebatas berada di dunia ini. Selain itu, kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidup juga hanya berupa benda yang bersifat fisik. Umpama ada keyakinan bahwa hidup akan berkelanjutan hingga kelak di akherat juga diyakini bahwa hal itu bisa diraih hanya dengan bermodalkan kekayaan di dunia. Maka, mengejar kehidupan di dunia dipandang tidak boleh ditinggalkan.
Namun juga ada orang yang berusaha mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan secara utuh, yakni di dunia dan akherat. Cara memperoleh keselamatan dan kebahagiaan pun, diyakini tidak sembarangan, yaitu harus mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Menurut konsep ini, manusia terdiri atas dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Agar keberhasilan hidup yang demikian itu dapat diraih, maka kedua unsur tersebut harus dirawat dan atau dipelihara sebaik-baiknya.
Agar sukses dalam menjalani hidup di dunia dan sekaligus juga di akherat, diketahui terdapat konsep yang diyakini benar, yaitu selalu mengikuti sifat Rasulullah, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Potensi sifat kenabian itu sebenarnya sudah ada pada diri setiap orang. Namun sifat itu tidak mudah diaktualisasikan oleh siapapaun, karena pada diri manusia terdapat hawa nafsu yang selalu berusaha menutupi potensi sifat-sifat kenabian itu.
Manakala hawa nafsu tersebut bisa dikalahkan, maka manusia akan selamat, baik di dunia maupun di akherat. Mengikuti petunjuk al Qur'an, mengalahkan hawa nafsu hingga berhasil meraih keselamatan di dunia dan akherat dapat dilakukan melalui cara menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan mengikuti Rasul. Manakala ketiga hal tersebut berhasil dijalankan, maka siapapun dapat disebut sebagai telah berhasil dalam hidupnya.
Konsep terakhir ini tentu bersifat lebih komprehensif, memahami manusia tidak saja dari aspek fisik tetapi juga hingga aspek non fisik, yaitu meliputi jasmani dan ruhaninya. Hidup juga tidak sebatas dalam jangka pendek, yaitu sekedar di dunia belaka, tetapi hingga akherat kelak. Pandangan seperti ini akan mewarnai kehidupan seseorang. Mendasarkan pada keyakinan ini seseorang tidak saja mengejar-ngejar harta dan kekuasaan, tetapi akan berorientasi pada sesuatu yang lebih mulia dan tinggi, yaitu ridha Allah dan Rasul-Nya, Wallahu a'lam



