Ekspresi kecintaan terhadap agama pada akhir-akhir ini terasa meningkat. Orang mengatakan bahwa agama harus dibela, dicintai dan dijaga dari siapapun yang dipandang mengganggunya. Lebih dari itu, agama harus dihormati dan dimuliakan. Agama harus diletakkan pada tempat mulia oleh karena hal itu menyangkut keselamatan dan kebahagiaan. Tanpa agama orang tidak akan merasakan menjadi manusia yang sebenarnya.
Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani. Keduanya membutuhkan perawatan dan dipenuhi kebutuhannya. Masing-masing kebutuhan itu tidak mudah dipenuhi oleh karena keterbatasan yang ada. Sekalipun hanya memenuhi keperluan jasmani, siapapun harus berusaha keras. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, orang membutuhkan uang, dan barang itu tidak akan datang sendiri tanpa bekerja.
Pada kenyataannya, sekedar memenuhi kebutuhan jasmani, ternyata tidak mudah melakukannya. Siapapun untuk memperoleh uang, harus pintar dan bekerja keras. Manakala kebutuhan itu tidak terpenuhi, seseorang tidak saja menderita oleh karena kekurangannya, tetapi penderitaan itu akan bertambah oleh karena dianggap menggangu orang lain. Masyarakat dipandang rendah dan atau terbelakang oleh karena banyak orang miskin atau berekonomi lemah.
Selain itu, hanya oleh karena miskin maka seseorang dianggap sebagai beban bagi orang lain. Orang miskin selalu disebut-sebut sebagai mengganggu oleh mereka yang telah sukses. Banyaknya orang miskin akan mengganggu harga diri masyarakat, bahkan bangsa di mana mereka berada. Itulah sebabnya, orang miskin tidak saja gagal memenuhi kebutuhan dirinya tetapi juga gagal memenuhi keinginan komunitasnya.
Agama lebih sekedar mengajak orang untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat fisik tersebut. Selain kebutuhan jasmani, juga ada aspek lain yang seharusnya lebih diutamakan, yaitu kebutuhan ruhani. Dalam beragama, orang miskin jasmani dianggap rendah, tetapi akan lebih rendah lagi jika seseorang menderita miskin ruhani. Seseorang disebut sebagai miskin ruhani manakala dalam kehidupan sehari-hari yang bersangkutan lebih mengutamakan kepentingan hawa nafsunya daripada tuntutan hati nuraninya.
Nafsu selalu mengajak untuk memuaskan dirinya dari hal yang bersifat rendah, jasmani, dan berjangka pendek. Kebutuhan dimaksud disebut rendah oleh karena jika terlalu diikuti dapat merendahkan harkat dan martabatnya. Misalnya, tidak selektif dalam mengkonsumsi sesuatu, seks bebas, berjudi, dan sejenisnya. Kebutuhan jasmani disebut sederhana oleh karena hanya memuaskan nafsu yang juga sederhana itu.
Berbeda dari nafsu adalah hal-hal yang bersifat ruhani. Puncak dari kehidupan ini adalah untuk meraih kebahagiaan yang sejati, kekal atau abadi. Kebahagiaan itu hanya diraih ketika seseorang berhasil membangun sikap, keyakinan, dan perbuatan yang berdimensi tinggi, agung, dan mulia. Hal demikian itu tidak mungkin diraih oleh orang yang tidak mengenal dirinya, mengenal Tuhan, dan juga mengenal utusan-Nya.
Sedangkan yang mampu mengenalkan seseorang pada konsep tersebut, tidak ada lain, kecuali hanyalah agama. Ilmu pengetahuan dapat membongkar rahasia alam dan kemudian membangun teknologi yang hasilnya bermanfaat bagi kehidupan ini. Akan tetapi ilmu dan teknologi tidak akan mampu menjangkau ke tingkat yang lebih jauh hingga persoalan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki itu. Maka, hanya agamalah sebenarnya yang mampu menjawabnya.
Namun sayangnya, tidak semua orang beragama berhasil menangkap keindahan agama itu sendiri. Oleh sementara kalangan, agama diperlakukan sebagaimana ilmu pada umumnya, yaitu dijadikan bahan diskusi, berdebat, dan berbantah, akibatnya jiwa agama itu sendiri menjadi tidak ketemu. Namun demikian, masih banyak orang yang mengekspresikan kecintaan terhadap agamanya, dan apalagi ketika agamanya dirasakan diganggu. Mereka bersedia melakukan apa saja, sebagai bentuk kecintaannya itu. Agama dipandang menjadi sesuatu yang benar-benar penting, dimuliakan, dan dicintai. Wallahu a'lam



