Melihat keadaan bangsa Indonesia yang masih saja dirasakan kalah dibanding dengan bangsa lain yang sudah maju, maka tidak sedikit tokoh dan juga ilmuwan, mengkitik orang-orang yang pernah berkuasa di negeri ini. Disebutkan bangsa ini sudah tidak memiliki kedaulatan lagi dalam berbagai hal, baik di bidang ekonomi, politik, hukum, pendidikan, sosial dan lain-lain. Disebutkan misalnya, bahwa perusahaan, pengelolaan berbagai jenis hasil tambang, hutam, laut, hingga kesehatan, telah dikuasai oleh asing. Bangsa Indonesia disebutkan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri yang disebut subur dan makmur ini.
Persoalannya adalah, mengapa hingga terjadi keadaan seperti itu tidak banyak para tokoh dan dan hingga para ilmuwan berusaha menjelaskannya. Umpama hal itu diketahui ada sumber kesalahan, maka biasanya sikap yang paling gampang adalah menimpakan kepada penguasa yang dahulu memimpin negeri ini, dan bukan memandang bahwa hal itu merupakan kesalahan kolektif, tidak terkecuali misalnya, adalah para pengelola lembaga pendidikan yang dari waktu ke waktu menyiapkan para pengelola dan pemimpin bangsa ini.
Benar bahwa berbagai jenis kekayaan bangsa ini sekarang telah dikuasai oleh asing. Akan tetapi seharusnya segera dicari sebab musababnya yang sekiranya dapat digunakan untuk melakukan perubahan mendasar guna mengubah keadaan. Disadari atau tidak, kehidupan di dunia ini tidak pernah sepi dari persaingan, saling mengambil keuntungan, berusaha menjadi unggul, dan bahkan berusaha mengalahkan dan juga menjatuhkan. Usaha menjadi unggul dan mengalahkan itu dilakukan dengan berbagai cara dan strategi. Siapapun yang kuat, merekalah yang menang dan sebaliknya, yang lemah harus mau menderita kekalahan.
Berbagai cara, strategi, dan taktik untuk meraih kemenangan dilakukan, mulai dari yang kelihatan hingga yang paling halus sehingga tidak dirasakan. Cara-cara atau strategi yang dimaksudkan itu bisa melalui pendidikan, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, perdagangan, dan lain-lain. Persaoalannya adalah adakah kesadaran, bahwa sebenarnya di alam kehidupan, dan apalagi di zaman modern seperti ini terjadi persaingan yang semakin luas dan dahsyat. Selama ini kiranya persaingan itu disadari dan dirasakan, namun lingkupnya hanya internal di dalam bangsa sendiri. Persaingan itu misalnya hanya sebatas di antara organisasi, kelompok-kelompok politik, dan bahkan juga hanya pada lingkup aliran keyakinan atau agama yang ada.
Padahal, persainagan yang lebih dahsyat dan seharusnya dihadapi adalah menyangkut ekonomi, politik, pertahanan, produk-produk teknologi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan lain-lain antar bangsa dan negara. Oleh karena bangsa ini selalu disibukkan oleh persaingan internal yang sebenarnya masing-masing pihak tidak akan mendapatkan apa-apa, namun ternyata justru melalaikan aspek yang lebih besar dan mendasar yang seharusnya dihadapi. Pada aspek yang lebih besar itu kiranya bangsa ini dapat disebut kobobolan, sehingga berbagai potensi yang dimiliki terlanjur diambil oleh bangsa lain dan baru disadari setelah akibatnya dirasakan bersama.
Persoalannya memang tidak sederhana. Bangsa yang majemuk dari berbagai aspeknya, mau tidak mau menyeret persaingan di antara berbagai kekuatan internal itu. Namun hal demikian itu sebenarnya bisa diatasi manakala kesadaran kolektif yang lebih besar, yaitu berbangsa dan bernegara selalu diletakkan di atas kepentingan semuanya. Namun rupanya hal ideal itu dalam kehidupan sehari-hari seringkali dilupakan. Sekedar menyelesaikan perbedaan menyangkut keyakinan agama saja hingga menghabiskan energi, melupakan hal strategis dan penting, akibatnya melemahkan kekuatannya sendiri.
Bangsa yang berhasil memenangkan persaingan adalah mereka yang unggul di bidang ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan ekonominya. Celakanya, dalam berbagai hal sebagaimana disebutkan itu, bangsa ini, --disadari atau tidak, masih lemah. Pendidikan tinggi yang seharusnya menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi, semua orang dapat melihatnya sendiri keadaannya. Sekedar kebijakan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitasnya saja masih belum diketahui melalui mana pintunya. Selama ini mereka masih tampak sibuk pada hal-hal teknis, misalnya mengatasi perguruan tinggi nakal membuka jurusan tanpa izin, membuka kelas jauh, menerima mahasiswa di luar batas kemampuan, dan sejenisnya.
Oleh karena itu sebenarnya, jika diteliti lebih jauh dan mendalam, kesalahan bangsa itu ada pada semua kalangan, kecuali rakyat desa, orang-orang pinggiran, dan yang ada di pegunungan, yang mereka itu tidak tahu apa-apa, tetapi harus menanggung akibatnya. Kesalahan itu misalnya, orang yang seharusnya memperbaiki pendidikan tetapi malah justru memperlemahnya. Orang yang seharusnya ikut mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi malah justru berbuat menyeleweng,---plagiasi misalnya, dan begitu pula perilaku salah di bidang-bidang lain yang lebih luas. Merenungkan hal tersebut, maka yang terjadi pada bangsa ini kiranya bisa disebut sebagai telah melakukan proses bunuh diri bersamaan-sama yang tentu akibatnya dirasakan seperti sekarang ini, yakni kedaulatan yang sedemikian penting, strategis, dan bahkan vital menjadi semakin tidak dimilikinya. Wallahu a'lam



