Mengikuti Rasulullah Sebagai Rahmatan Lil Alamien
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 27 Oktober 2016 . in Dosen . 1392 views

Pada akhir-akhir ini banyak orang berbicara Islam sebagai rahmatan lil alamien. Islam dimaknai sebagai agama yang selalu menebar kasih sayang, menjadikan orang hidup damai, tenteram, dan sejahtera. Gambaran kehidupan yang indah seperti itu selalu didambakan dan dirindukan oleh banyak orang. Kehidupan pada umumnya diwarnai oleh suasana saling berkompetisi, berebut, tidak ada kepedulian terhadap sesama, sehingga seolah-olah masing-masing orang hanya ingin memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dan bahkan boleh jadi mengganggu.

Menghadapi kenyataan tersebut, maka konsep rahmatanan lil alamien yang dibawa oleh Rasulullah menemukan momentumnya. Konsep itu di alam modern seperi sekarang ini, atau di semua zaman, selalu relevan untuk diimplementasikan. Berbicara tentang rahmatan lil alamien selalu merujuk pada Nama Raulullah, oleh karena kekasih Allah itu diutus menjadi rahmat bagi semua alam sehingga seharusnya dijadikan tauladan oleh siapa saja.

Terkait dengan konsep rahmatanan lil alamien dimaksud seringkali muncul diskusi, baik formal atau informal, dalam kehidupan sehari-hari. Dilihat bahwa banyak orang yang mengaku bukan beragama Islam tetapi ternyata justriu sukses dan hidupnya memberi manfaat bagi banyak orang. Sebaliknya, orang yang mengaku beragama Islam, dan telah menjalankan agamanya sebaik-baiknya, tetapi merasakan belum banyak memberi manfaat, apalagi terhadap orang lain, kepada dirinya sendiri saja masih dirasa gagal. Menghayati keadaan seperti itu, muncul pertanyaan, apa sebenarnya yang salah dari apa yang telah dilakukannya selama itu.

Sebenarnya siapapun di dunia ini, sekalipun yang bersangkutan belum beragama Islam, manakala sehari-hari mengikuti atau mensifati dirinya dengan sifat-sifat Rasulullah tentu akan meraih kesuksesan. Disebut bagi siapapun tanpa melihat suku, bangsa, keturunan, apakah mereka itu bangsa China, Amerika, Eropa, Rusia, Jepang, orang-orang Arab, dan lain-lain, manakala dalam menjalani hidupnya menggunakan sifat-sifdat Rasulullah, maka akan sukses dan akan berhasil memberi manfaat terhadap banyak orang.

Apa yang ditiru dari Rasul itu adalah berupa sifatnya. Sifat rasulullah adalah siddiq, amanah, tablihg, dan fathonah. Boleh-boleh saja oleh karena kecintaan terhadap utusan Allah seseorang meniru bentuk pakaiannya, cara berjalannya, cara makannya, cara tidurnya, dan seterusnya. Akan tetapi, yang lebih esensial adalah seharusnya meniru sifat-sifatnya yang mulia itu. Manakala sifat-sifat yang mulia itu ditiru, maka siapapun orangnya, datang dari suku, dan bangsa apapun, akan sukses dalam melakukan berbagai kegiatan, baik di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, pendidikan, dan seterusnya.

Orang Amerika misalnya, dalam melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi meniru sifat rasulullah, apakah proses peniruan itu disegaja atau tidak, maka akan berhasil. Dalam mengembangkan ilmu dan teknologi, orang Amerika tersebut selalu menggunakan prinsip selalu berpegang pada kebenaran, menjaga kepercayaan atau amanah, selalu menggunakan akal cerdasnya, dan apalagi juga menyempurnakan dengan tabligh yakni memintakan pertimbangan kepada para ahli atau orang lain sebagai penggunanya, maka karya-karya yang dihasilkan akan semakin berkualitas. Sifat Rasulullah itu sebenarnya dapat diimplementasikan oleh semua orang tanpa terkecuali.

Sebaliknya,. Sekalipun seseorang sudah lama beragama Islam dan merasa telah mengikuti jejak Rasulullah sebagai anutannya, akan tetapi manakala yang bersangkutan belum berhasil meniru sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu, maka kegagalan akan selalu diterimanya. Sifat itulah yang seharusnya ditiru. Seorang muslim seharusnya mensifati dirinya dengan sifat-sifat mulia, yaitu selalu berpegang kepada kebenaran atau siddiq, selalu menjaga amanah atau kepercayaan yang diembannya, selalu menggunakan akal cerdasnya atau fathonah, dan selalu mengkomunikasikan apa yang dilakukan kepada orang lain, maka apa saja yang dilakukan akan berhasil dan buahnya tidak saja dinikmati sendiri, tetapi akan dimanfaatkan oleh orang lain.

Orang Islam yang sehari-hari pikirannya dipertajam agar berhasil menciptakan sesuatu yang diperlukan bagi keghidupan ini, melakukan inovasi kreatif, membuat apa saja yang terbaik, dan seterusnya maka artinya yang bersangkutan telah mensifati dirinya dengan sifat Rasulullah. Sebaliknya, sekalipun yang bersangkutan mengaku dirinya sebagai pecinta Rasulullah, namun tidak selalu secara istiqomah berpegang pada kebenaran, kurang amanah misalnya, atau tidak mau menggunakan kecerdasannya, maka hingga kapan pun yang bersangkutan tidak akan meraih kualitas hidup hingga disebut sebagai rahmatan lil alamien dimaksud.

Oleh karena itu sebenarnya, yang paling penting dan harus ditiru dari Rasulullah adalah sifat-sifat mulia yang disandangnya. Kaum muslimin seharusnya selalu mensifati dirinya dengan sifat-sifat Rasulullah itu. Namun memang, sifat itu tidak mudah dimiliki oleh setiap orang. Hawa nafsu yang juga sama-sama berada pada diri setiap orang selalu menggoda, agar sifat-sifat mulia itu tidak muncul dan berkembang pada diri seseorang. Hawa nafsu selalu mengajak seseorang pada perbuatan yang tidak baik, merusak dan bahkan mencelakakan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Agar sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah selalu berada pada diri seseorang maka harus dirawat, menurut al Qur'an, adalah melalui selalu ingat Allah dan shalat. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up