Bangsa ini berharap menjadi semakin maju dan bahkan berubah cepat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan tentu adalah kesejahteraannya. Namun perlu disadari bahwa perubahan itu memerlukan proses yang tidak mudah dilakukan, yaitu apa yang disebut dengan konsep berhijrah. Nabi Muhammad sebagai utusan Tuhan dalam menjalankan misinya, juga berhijrah, dan bahkan berpindah secara fisik, yaitu dari Makkah ke Madinah. Tatkala perjuangannya di Makkah tidak segera mendapatkan hasil, maka Nabi mengambil keputusan untuk berhijrah. Maka, konsep berhijrah menjadi amat penting yang seharusnya dilalui untuk meraih keadaan baru yang lebih menjanjikan.
Bangsa Indonesia ini sudah sekian lama merdeka, tetapi tujuan berbangsa dan bernegara yang diinginkan, yaitu sejahtera, adil, dan makmur, belum sepenuhnya berhasil diwujudkan. Padahal bangsa ini memiliki modal yang luar biasa, yaitu berupa sumber daya alam, yaitu tanah yang luas, berbagai aneka tambang, hutan, lautan, dan juga sumber daya manusia yang cukup banyak. Akan tetapi pertanyaannya adalah, mengapa tujuan itu sedemikian sulit diwujudkan. Lebih aneh lagi, negara agraris ini, sekedar memenuhi kebutuhan kedelai, beras, daging, buah-buahan, dan bahkan garam saja harus mendatangkan dari luar negeri.
Sementara itu, perguruan tinggi yang ada di Indonesia juga sudah sedemikian banyak dan telah menghasilkan sarjana di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang pertanian, peternakan, kelautan, kehutanan, pertambangan dan lain-lain. Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa bangsa ini aneh kiranya tidak terlalu keliru. Bagaimana negara agraris yang memiliki tanah luas, tenaga ahli tersedia, dan modal juga berkecukupan, tetapi masih mengimport kebutuhan pokok. Melihat kenyataan itu, maka wajar saja seumpama sementara orang bertanya, kemana para petaninya, tenaga ahlinya, sarjanyanya, dan seterunya.
Keadaan tersebut menjadi semakin tidak mudah dipahami lagi oleh karena di bidang pertanian dan peternakan saja, ternyata masih banyak tanah tidur yang ada di mana-mana. Belum lagi hutan yang sedemikian luas, namun oleh karena tidak dimanfaatkan, maka juga tidak menghasilkan apa-apa. Dalam berbagai pidato dibanggakan, bahwa bangsa ini memiliki tanah pertanian luas, hutan, perkebunan, dan lain-lain. Akan tetapi, semua kekayaan atau potensi alam itu hanya sebatas menjadi kebanggaan, dan belum berhasil memberi keuntungan yang berarti bagi masyarakatnya. Keanehan itu masih ditambah lagi dengan persoalan sederhana yang datang secara rutin, yaitu terkait musim, yaitu ketika musim hujan di mana-mana masyarakat mengeluhkan banjir, dan sebaliknya, ketika musim kemarau, mereka kesulitan mendapatkan air.
Menghadapi persoalan klasik tetapi tidak pernah terjawab itu tentu melahirkan pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang patut disalahkan, yaitu apakah politiknya, mental para pemimpinnya, hukumnya, birorkrasinya atau juga pendidikannya yang belum mampu melahirkan generasi cerdas, yang menyukai berjuang, berani mengambil resiko, dan sekaligus memiliki komitmen terhadap kesejahteraan bangsanya sendiri. Untuk mengubah keadaan tersebut, siapa saja seharusnya berani berpikir obyektif dan kemudian bersedia behijrah untuk meraih yang terbaik.
Persoalan yang sedemikian besar tersebut, sudah barang tentu memerlukan konsep hijrah yang besar pula, mulai dari berhijrah mental, cara berpikir, cara kerja dalam berbagai bidang, baik dalam penataan ekonomi, politik, hukum, dan bahkan juga pendidikannya. Manakala bangsa ini tetap bertahan dengan apa yang selama ini dilakukan, yaitu bermental, berpikir, dan bekerja sebagaimana yang dilakuikan selama ini. maka hingga kapan pun tidak akan meraih apa yang dicita-citakan itu. Seharusnya disadari oleh semua bahwa keadaan yang selama ini dihasilkan adalah merupakan produk dari apa yang dilakukannya.
Oleh karena itu ketika bangsa ini menghendaki perubahan seharusnya juga ada kesediaan untuk mengubah apa yang ada pada dirinya. Hingga kapan pun jika tidak mau mengubah dirinya, baik menyangkut mentalnya, cara berpikir dan cara pandang, termasuk cara kerjanya, maka hingga kapan pun akan tetap tertinggal dari bangsa lain. Bidang pendidikan misalnya, jika tidak diubah, maka hasilnya hanya akan berupa orang yang kaya ijazah, secara formal disebut pintar, tetapi mereka tidak mampu menyelesaikan masalah, tidak terkecuali menyangkut hidupnya sendiri. Sebaliknya, jika ingin maju, maka pendidikan pun harus dihijrahkan, atau diubah secara mendasar, baik pada tataran filosofis, konsep, kebijakan, maupun implementasinya. Wallahu a'lam



