Hidup dalam suasana aman dan damai adalah menjadi dambaan setiap orang. Tidak ada orang yang mau menjaani hidupnya dengan suasana permusuhan, saling menghina, bercaci maki, dendam, hasus menghasut, memfitnah, dan apalagi saling bunuh membunuh. Namun sebenarnya, hal demikian itu menjadi bagian watak manusia. Oleh karena itulah, Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Pencipta menurunkan agama dan sekaligus juga utusan-Nya.
Dengan pedoman hidup berupa agama itu manusia diharapkan menjadi saling kenal mengenal, memahami, menghargai, mencintai dan saling tolong menolong di antara sesama. Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan berbeda-beda, tetapi pada hakekatnya adalah sebagai umat yang satu. Dalam soal di mana dan kapan dilahirkan, siapapun tidak ada yang mampu memilih. Semua orang tergantung pada kemauan Dzat Yang Menciptakannya sendiri.
Seseorang tidak akan bisa memilih untuk dilahirkan menjadi suku Jawa, Madura, Bali, lombok, Makassar, Manado, Papua, Aceh, Minangbau, bahkan juga menjadi bangsa China, Jepang, Amerika, Eropa, Afrika, dan tentu lain-lainnya. Adat istiadat, kepercayaan, dan bahkan agama ternyata diperoleh di mana mereka itu dilahirkan. Mereka yang dilahirkan di keluarga atau lingkungan yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan juga Islam akan mengikuti atau menyesuaikan dengan lingkungannya. Jika ada perbedaan atau perubahan, maka proses yang dilalui tidak mudah, selalu memerlukan waktu, alasan-alasan, dan sudah barang tentu atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Untuk meraih kedamaian itu selalu tidak mudah. Dalam kehidupan selalu terjadi proses-proses sosial yang tidak bisa dihindarkan. Masing-masing orang berkelompok dan juga sekaligus terlibat persaingan, kompetisi, berebut menjadi paling kuat dan unggul, konflik, kuasa menguasai, dan juga sebaliknya, yaitu ada yang mampu bekerjasama, menghargai, dan saling kasih mengasihi. Sudah barang tentu, kedamaian hanya akan terjadi manakala masing-masing mampu berbuat saling menjaga, bukan saja terhadap dirinya sendiri melainkan juga orang lain.
Apa yang harus dijaga oleh masing-masing pihak agar kedamaian itu terwujud, sebenarnya bukan merupakan kekuatan yang berada di tempat yang jauh, melainkan ada pada diri masing-masing. Kekuatan yang dimaksudkan itu berada pada hati setiap orang. Pada setiap diri orang terdapat apa yang disebut dengan nafsu. Para ulama menyebut nafsu yang harus dikendalikan oleh yang bersangkutan sendiri itu adalah nafsu lawwamah dan nafsu ammarah. Nafsu yang selalu mengajak pada sikap iri hati, dengki, hasut menghasut, fitnah, bakhil, tidak penudi sesama, takabur, berbohong, dan sejenisnya itu agar supaya selalu dikendalikan.
Nafsu sebagaimana disebutkan itulah sebabenarnya yang selalu menjadikan sebab di mana-mana sulitnya kedamaian berhasil diwujudkan. Melawan hawa nafsu tersebut bagi siapa saja tidak mudah dan bahkan amat berat. Betapa beratnya melawan hawa nafsu tersebut hingga Nabi SAW sepulang dari peperangan yang dahsyat, mengingatkan kepada para sahabatnya, bahwa perang yang baru saja dijalani hanyalah merupakan perang berukuran kecil dan akan segera memasuki perang yang lebih besar dan dahsyat. Di tengah kebingungan mendengarkan statemen Nabi itu, sahabat menanyakan perang apa lagi yang dimaksudkan itu. Pertanyaan itu segera menjawab oleh Rosulullahi, bahwa perang besar yang dimaksudkan itu adalah perang melawan hawa nafsu.
Manakala nafsu pada masing-masing orang berhasil ditaklukkan, maka kedamaian itu akan benar-benar terwujud. Oleh karena itu, sumber kedamaian itu bukan berada di tempat yang jauh atau ada di luar sana. Kunci kedamain itu sebenarnya terletak pada apa yang ada di dalam dada masing-masing orang. Memerangi hawa nafsu bukan harus menggunakan berbagai jenis senjata buatan manusia, baik yang bersifat tradisional maupun modern, melainkan sebenarnya cukup menggunakan kekuatan yang berada di dada masing-masing orang pula. Kekuatan untuk memenangkan dari musuh yang dimaksudkan itu adalah melalui upaya mensucikan hati dengan cara banyak mengingat Allah. Dengan cara sederhana itu saja, kedamaian akan terwujud. Wallahu a'lam



