Pemimpin : Ditakuti, Disegani, Dan Dicintai
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 5 Oktober 2016 . in Dosen . 9215 views

Salah satu tugas pemimpin adalah menggerakkan orang-orang yang dipimpinnnya agar bersedia melakukan aktifitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menggerakkan orang tidak selalu mudah, akan tetapi ada berbagai pilihan yang biasa dilakukan oleh para pemimpin. Beberapa pilihan itu di antaranya menggunakan peraturan, pemberian imbalan, harapan, ancaman, dan atau juga kasih sayang.

Berbagai jenis pendekatan yang digunakan oleh pemimpin untuk menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya tersebut akan melahirkan iklim atau suasana tertentu terutama terkait hubungan orang-orang yang ada pada komunitas itu. Menggerakkan orang dengan pendekatan peraturan akan membuahkan suasana serba formal dan transaksional. Kegiatan orang harus mengikuti SOP, juknis, juklak, dan demikian pula imbalan yang akan diberikan menyesuaikan dengan ukuran yang telah ditentukan. Pendekatan yang demikian itu akan melahirkan hubungan-hubungan yang bersifat formal dan transaksional.

Pendekatan formal dan legal juga menjadikan berbagai jenis pekerjaan tampak serba terukur, dihitung dan dilihat dari aspek fisiknya. Akan tetapi resikonya, kualitas pekerjaan juga akan bersifat formal pula. Pendekatan yang demikian ini sebenarnya cocok untuk jenis pekerjaan yang berkaitan dengan benda mati. Pabrik-pabrik yang menggunakan mesin dan menghasilkan benda-benda yang tidak bernyawa, akan lebih sesuai. Sebaliknya, jenis pekerjaan yang menghasilkan produk yang sebenarnya tidak mudah diukur kualitasnya, semisal kualitas manusia, justru akan menghasilkan sesuatu yang bersifat manipulatif dan semu.

Pilihan pendekatan sebagaimana disebutkan di muka akan tergantung pada pemimpin yang bersangkutan. Namun semua itu ada resiko, kekurangan, dan kelebihannya masing-masing. Apapun pilihan seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya seharusnya memahami semua resiko, kekurangan, dan kelebihan itu. Pemimpin tidak boleh terkejut atas akibat dari pilihan kepemimpinannya itu. Misalnya, perilaku orang-orang yang dipimpinnya menjadi bersifat kaku, serba formalitas, manipulatif, dan bahkan kehilangan sifat-sifat humanitasnya, tidak perlu menjadi terkejut, oleh karena sebenarnya sifat yang demikian itu sebagai akibat kepemimpinan yang dijalankannya.

Sebagai resiko pemimpin yang menggunakan pendekatan formal dan legal biasanya tidak saja akan ditakuti dan dijauhi oleh orang-orang yang dipimpinnya, tetapi juga akan melahirkan mental serba semu, manipulatif, dan bahkan sifat membebek. Di hadapan pemimpin para pekerja akan kelihatan loyal dan taat, akan tetapi di belakang akan berperilaku sebaliknya.

Pemimpin juga bisa disegani dan disayangi. Mereka yang mendapatkan perlakuan dari orang-orang yang dipimpinnya seperti itu biasanya adalah pemimpin yang tidak saja mengedepankan pendekatan peraturan melainkan menggunakan pendekatan kemanusiaan atau hati nurani. Manusia memang tidak cukup digerakkan melalui peraturan, tetapi seharusnya disentuh hatinya. Peraturan biasanya hanya mendasarkan pada logika, akal, atau otaknya. Sementara itu hati akan melahirkan suasana kasih sayang, rasa sungkan, bertanggung jawab, dan bahkan juga keikhlasan.

Oleh karena itu suasana rasa takut, sungkan,dan kasih sayang atau dicintai sebenarnya adalah lahir dari kepemimpinan itu sendiri. Pemimpin menggerakkan dengan akal akan jauh berbeda ketika menggerakkannya itu dengan hati. Jika menggerakkannya dengan akal, maka akan dirasakan serba logis dan atau masuk di akal, tetapi beresiko kurang humanis. Sbaliknya, jika pemimpin lebih menggunakan hati, maka akan menjadikan orang-orang yang dipimpinnya merasa sungkan, dan atau mendatangkan keasih sayang.

Hubungan pemimpin dan anak buah yang dipimpin lebih banyak menggunakan akal biasanya akan berubah setelah kepemimpinannya selesai. Tatkala sudah tidak menjadi pemimpin, maka penghormatan, loyalitas, dan hubungan-hubungan yang tidak setara akan ditinggalkan. Berbeda jika kepemimpinan itu lebih mengedepankan pada hati, maka hubungan baik itu akan berlanjut, seba ikatannya bukan sekedar pertimbangan rasionalitas, tetapi adalah hati. Produk hati akan lebih awet atau bertahan lama dibanding dengan hasil dari pertimbangan akal. Pilihan mana yang diambil oleh seorang pemimpin, sudah barang tentu sangat tergantung pada mindset, emosi, dan juga pandangan hati pemimpin yang bersangkutan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up