Seseorang yang berkeinginan membuat sekolah yang diurusnya menjadi semakin maju menanyakan apakah ia harus sekolah atau kuliah dulu. Pertanyaan sederhana tetapi penting tersebut, segera saya jawab, tidak perlu. Memang untuk membuat sekolah yang dikelolanya semakin maju perlu pemikiran, pandangan, contoh, dan sejenisnya. Akan tetapi itu semua tidak hanya bisa diperoleh di perguruan tinggi. Modal berupa pengetahuan itu juga dapat diperoleh dari melihat secara langsung lembaga pendidikan yang sudah nyata-nyata maju.
Perguruan tingggi, urusannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan. Memang di lembaga itu diperbincangkan, khususnya bagi yang mengembangkan ilmu pendidika, tentang berbagai inovasi dan modernisasi pendidikan. Berbagai data dan informasi tentang hal tersebut dikumpulkan oleh perguruan tinggi melalui para dosen, mahasiswa, atau lembaga penelitiannya dipelajari, dianalisis, dan kemudian digunakan untuk menyusun konsep dan hingga menjadi teori. Tugas perguruan tinggi sehari-hari adalah berpikir untuk membangun konsep, paradigma, atau teori yang baru.
Ketika seseorang masuk perguruan tinggi, maka akan menjadi kaya konsep, wawasan, pandangan, dan ilmu yang mendalam. Namun belum tentu, pengetahuan mereka yang luas dan mendalam itu berhasil diaplikasikan di dalam kehidupan nyata. Memang seharusnya, seseorang yang kaya wawasan dan pengetahuan secara otomatis juga mampu mengaplikasikannya. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak selalu demikian itu. Rupanya memang masih saja ada jarak antara mengetahui dan kemampuan mengerjakannya.
Hal itu berbeda dengan para praktisi. Seseorang yang tidak pernah belajar tentang manajemen sekolah, ternyata mampu mendirikan lembaga pendidikan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, lembaga pendidikan yang dikelolanya menjadi berkembang dan unggul. Yang bersangkutan mampu melihat kebutuhan yang seharusnya dipenuhi, menyusun strategi, menjalin hubungan kerjasama, bahkan mampu membangun kekuatan yang diperlukan untuk mempercepat perkembangan sekolahnya. Semua pengetahuannya itu tidak diperoleh sehari-hari dari lembaga pendidikan tinggi, melainkan dari perenungannya secara mendalam. Ia bekerja dan sekaligus berpikir, namun ternyata apa yang dilakukannya itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Oleh karena itu, memperoleh pengetahuan sebagai modal untuk membuat sekolah maju dapat dilakukan melalui belajar kepada orang-orang yang telah terlebih dahulu berhasil mengembangkan lembaga pendidikan. Kiranya, di mana-mana sudah banyak orang yang telah mencoba dan berhasil membuat inovasi pendidikan. Keberhasilan itu bisa dicontoh atau setidaknya dijadikan modal untuk membuat sekolah maju. Sudah barang tentu, semakin banyak lembaga pendidikan berhasil maju yang dipelajari, maka pengetahuan yang diperolehnya juga semakin banyak, mendalam, dan beraneka ragam pula.
Namun untuk mengembangkan lembaga pendidikkan tidak cukup sekedar bermodalkan pengetahuan, tetapi yang masih harus ditambahkan lagi adalah penghayatan, tekad, cita-cita yang kuat dan bahkan kesediaan berjuang dan sekaligus berkorban. Banyak orang yang semula tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman, tetapi oleh karena memiliki semangat dan jiwa tersebut, maka seiring dengan usahanya membangun lembaga pendidikan itu, pengetahuan mereka semakin bertambah dan lembaga pendidikannya semakin maju. Akhirnya, pengetahuan dan bahkan keahlian sebenarnya dapat diperoleh darimana saja, tidak terkecuali dari pengalaman yang dijalaninya secara langsung. Wallahu a'lam



