Sarjana Manajmen Pendidikan Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 21 Oktober 2016 . in Dosen . 6590 views

Akhir-akhir ini di mana-mana, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Islam , baik yang berstatus negeri maupun swasta, dibuka kajian manajemen pendidikan Islam. Kajian itu tidak tangung-tanggung, mulai dari strata satu hingga strata tiga. Hasilnya sekarang tentu sudah sekian banyak sarjana S1, sarjana S2, dan bahkan Doktor bidang manajemenen pendidikan Islam. Seharusnya, dengan banyaknya sarjana itu lembaga pendidikan Islam semakin maju oleh karena telah tersebut cukup sarjana di berbagai jenjangnya itu.

Oleh karena munculnya kajian itu belum terlalu lama, mungkin hasil yang telah dikerjakan oleh para sarjana bel.um kelihatan. Akan tetapi setidaknya dengan munculnya kajian itu akan menyadarkan bahwa pendidikan Islam harus dikelola secara benar, yakni rasional, obyektif, efektif dan efisien, agar menghasilkan kualitas yang memuaskan. Ketika dahulu, para lulusan pendidikan Islam seperti madrasah dan bahkan hingga perguruan tinggi Islam belum dirasakan memuaskan dan bahkan sekedar membaca kitab suci saja belum tuntas, maka dengan kehadiran para sarjana manajemen itu muncul prakarsa untuk mencari terobosan guna mengatasi persoalan mendasar dimaksud.

Melakukan perubahan tidak mudah, dan apalagi perubahan terkait dengan manusianya. Mungkin sarjana manajemen pendidikan Islam, dengan berbagai bekal kekayaan teorinya, mampu merumuskan langkah-langkah strategis untuk melakukan perubahan itu. Akan tetapi, konsep yang dihasilkan masih harus diuji dalam kehidupan nyata. Orang pada umumnya tidak mudah diyakinkan dan diajak untuk melaksanakan teori baru. Kebanyakan orang mau melakukan sesuatu yang baru ketika yang bersangkutan mengetahui ada keuntungan, ada desakan atau perintah, ada contoh, atau juga ancaman ketika tidak melakukannya.

Sebenarnya yang paling mendasar harus diperhatikan oleh siapapun ketika melakukan perubahan adalah mengelola terhadap orang-orangnya. Tanpa ada kemauan dari manusianya untuk berubah, maka perubahan itu tidak akan bisa diwujudkan. Oleh karena itu, para sarjana manajemen pendidikan Islam di berbagai tingkatan, harus mengetahui perilaku, watak, karakter manusia yang berada di lembaga pendidikan Islam yang akan diajak melakukan inovasi bersama itu. Mereka itu sebenarnya menghendaki agar lembaga pendidikannya berubah menjadi maju atau bahkan menjadi yang terbaik, akan tetapi tidak semua mengetahui, meyakini, dan juga mau melalkukan sesuatu agar menjadi lebih maju dan lebih baik itu.

Para sarjana manajemen pendidikan telah mengetahui berbagai pendekatan atau teori perubahan, akan tetapi persoalannya adalah bahwa perubahan itu harus dilakukan oleh semua pihak. Maka persoalannya yang segera muncul adalah bagaimana meyakinkan dan juga mengubah banyak pihak yang berada di lembaga pendidikan Islam itu. Di lembaga pendidikan tentu terdapat beberapa pihak yang memegang kewenangan, kelompok-kelompok kepentingan, dan bahkan beraneka orang- yang memiliki berbagai karakternya. Mereka semua itulah yang harus diubah secara bersama-sama hingga membuahkan perubahan di berbagai aspeknya itu.

Namun yang jelas bahwa perubahan itu dapat dilakukan hanya oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kekuatan melebihi dari semua kekuatan yang akan diubah. Seseorang akan berhasil mengangkat benda beruba apa saja misalnya besi, kayu, atau benda lainnya, asalkan yang bersangkutan memiliki kekuatan lebih dari benda yang akan diangkat itu. Jika kekuatannya tidak sebanding maka benda itu pun jjuga tidak akan berhasil diangkat dan apalagi diubah. Akan tetapi perubahan itu berhasil dilakukan, asalkan dilakukan dengan cara bertahap, atau sedikit demi sedkit, dan atau menggunakan strategi yang tepat. Di sini diperlukan kecerdasan dan bahkan kecerdikan sarjana yang akan melakukan perubahan itu.

Maka, sarjana manajemen pendidikan Islam dalam melakukan perubahan tidak cukup sekedar berbekalkan ilmu manajemennya, tetapi ilmu yang dimaksudkan itu masih harus dilengkapi dengan kekuatan lainnya, misalnya pengalaman, kemampuan berkomunikasi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman tentang siapa sebenarnya orang-orang yang akan diubah atau diajak untuk melakukan perubahan itu. Hal terakhir ini tidak mudah oleh karena manusia bersifat unik, masing-masing memiliki kepentingan, persoalan pribadi atau bahkan lebih luas dari itu. Akan tetapi, apapun sebagai penyandang gelar sarjana manajemen pendidikan Islam, dituntut mampu melakukan sesuatu yang berkualitas lebih dibanding mereka yang tidak beridentitas sebagai sarjana. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up