Tatkala Pendidikan Hanya Sebatas Menjadikan Siswa Memahami Apa Yang Diajarkan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 16 Oktober 2016 . in Dosen . 7972 views

Diajarkan

Menjadikan para murid paham terhadap apa yang diajarkan oleh seorang guru sebenarnya tidak terlalu sulit. Apalagi ketika kedua belah pihak, yaitu guru dan murid sama-sama memiliki motivasi atau semangat yang tinggi untuk meraih tujuan kegiatan pengajaran itu. Agar guru bersemangat mengajar, di antaranya dapat dimotivasi dengan pemberian penghargaan atas prestasinya. Para siswa dijelaskan tentang pentingnya pengetahuan yang harus dipelajarinya itu.

Memahami sesuatu, apalagi sesuatu yang dimaksudkan itu dapat dilihat secara langsung sebenarnya tidak sulit. Umpama ada kesulitan hanya karena apa yang diajarkan atau dipelajari tidak jelas, baik terkait dengan kegunaannya atau sifat dari pengetahuan dimaksud. Siapapun yang tidak mengerti tentang kegunaan sesuatu bagi dirinya biasanya tidak terdorong mencarinya, begitu pula tentang pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Jika pentingnya pengetahuan itu dirasakan hanya untuk menjawab pertanyaan ketika menghadapi ujian, maka para siswa pun juga akan belajar ketika sedang menghadapi ujian.

Demikian pula guru, ketika dalam mengajar hanya sekedar bermaksud untuk memenuhi kewajiban formal belaka, maka juga tidak akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Pekerjaan yang demikian itu sebenarnya tidak membuahkan kontak batin antara guru dan muridnya. Padahal dalam pendidikan, antara guru dan murid, harus ada komunikasi yang mendalam atau kontak batin itu. Hubungan guru dan murid seharusnya dibangun bagaikan antara orang tua dan anak-anaknya. Dalam hubungan itu ada tujuan yang sama, tanggung jawab, dan bahkan juga kasih sayang.

Pendidikan tidak cukup hanya menjadikan para murid tahu tentang sesuatu yang dipelajari tetapi yang lebih penting dari itu adalah mampu dan memiliki kemauan menjalankan atau menjadikan apa yang dipelajari itu sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab pada kenyataannya tidak semua orang yang tahu tentang sesuatu selalu mampu dan mau menjalankannya. Banyak orang yang mengetahui bahwa berbohong, hasut, irihati, dengki, malas, bakhil, dan semacamnya itu adalah jelek, tetapi sehari-hari ternyata banyak orang yang melakukannya.

Contoh yang paling aktual di negeri ini, orang mengerti bahwa korupsi atau menyimpangkan uang negara, suap menyuap, kongkalikong, dan sejenisnya adalah tidak boleh dilakukan, dan bahkan dipandang sebagai perbuatan tercela. Akan tetapi pada kenyataannya banyak pejabat negara yang sebenarnya sangat mengetahui bahwa perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan dan juga beresiko amat tinggi, tetapi ternyata masih dilakukan. Perbuatan buruk itu tidak saja dilakukan oleh pejabat pada level rendah, tetapi juga oleh oknum pejabat tinggi negara. Kenyataan itu membuktikan bahwa tidak semua orang yang mengetahui sesuatu atau konsep yang baik mampu menjalankannya, dan begitu pula sebaliknya, sesuatu yang jelas-jelas buruk selalu dihindari.

Oleh karena itu maka sebenarnya, pendidikan tidak saja bermaksud menjadikan peserta didik menjadi tahu, mengerti atau paham tentang sesuatu, melainkan seharusnya mampu dan mau menjalankannya. Jika pendidikan dimaknai seperti itu, maka lingkupnya tidak saja menyangkut bagaimana menyusun kurikulum, menetapkan bahan ajar, menentukan kebijakan pelaksanaan ujian nasional, memberi sertifikasi kepada para guru, dan semacamnya, tetapi sebenarnya yang lebih mendasar adalah terkait aspek mendalam dari pendidikan itu sendiri. Aspek mendalam yang dimaksudkan itu adalah menyangkut ruh, hakekat, atau esensi pendidikan itu sendiri. Perilaku manusia selalu bersumber dari apa yang ada di dalam hati atau yang berada di dalam dada setiap orang. Oleh karena itu, membangun perilaku yang diinginkan tidak akan cukup ketika masih mengabaikan aspek mendasar dimaksud.

Pekerjaan berupa menggerakkan dan menjadikan hati semakin jernih dan sehat tidak mudah dilakukan, dan bahkan tidak mungkin hanya sekedar melalui pendidikan dengan menggunakan kurikulum, bahan ajar, atau buku teks, dan kegiatan yang distandarkan. Lembaga pendidikan yang demikian itu hanya akan menjangkau pada wilayah upaya mencerdaskan dan seseorang menjadi trampil, tetapi belum sampai pada upaya membangun akhlak, karakter, atau perilaku yang diinginkan. Akhirnya, itulah sebabnya sekedar menjadikan peserta didik mengetahui tentang sesuatu sebenarnya tidak sesulit mengantartkan mereka mampu dan mau menjalankan apa yang diajarkannya. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up